Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Padel: Mengapa Olahraga Unik Ini Jadi Tren Selebriti dan Ekspat?

2025-12-26 | 19:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-26T12:06:49Z
Ruang Iklan

Padel: Mengapa Olahraga Unik Ini Jadi Tren Selebriti dan Ekspat?

Padel, olahraga raket yang memadukan elemen tenis dan squash, kini menjadi fenomena gaya hidup baru yang menarik perhatian jutaan orang di seluruh dunia, terutama di kalangan selebriti dan ekspatriat, dengan pertumbuhan signifikan yang mengubah lanskap olahraga perkotaan. Olahraga ini, yang semula diciptakan pada tahun 1969 oleh pengusaha Meksiko Enrique Corcuera di halaman belakang rumahnya di Acapulco karena keterbatasan lahan untuk lapangan tenis, telah berkembang pesat dari hobi rekreasi menjadi industri global bernilai miliaran dolar.

Corcuera menciptakan "paddle Corcuera" dengan lapangan yang lebih kecil dan dinding di sekelilingnya yang menjadi bagian dari permainan, sebuah inovasi yang kemudian dikenal sebagai padel. Popularitasnya meluas ke Spanyol melalui bangsawan Alfonso dari Hohenlohe-Langenburg pada tahun 1974, dan kemudian menyebar ke Argentina sebelum merambah Eropa, Asia, hingga Amerika. International Padel Federation (FIP) dibentuk pada tahun 1991, menandai formalisasi dan percepatan penyebaran olahraga ini secara global.

Padel dimainkan di lapangan berukuran 20 x 10 meter, sekitar sepertiga ukuran lapangan tenis, dan selalu dalam format ganda (dua lawan dua). Lapangan ini dikelilingi dinding kaca dan kawat yang aktif digunakan dalam permainan, serupa dengan squash, di mana bola dapat memantul dari dinding dan tetap dianggap hidup. Raket padel terbuat dari bahan solid tanpa senar, lebih kecil, dan memiliki lubang-lubang untuk mengurangi hambatan udara, sementara bola yang digunakan mirip bola tenis namun memiliki tekanan udara lebih rendah sehingga pantulannya lebih lambat dan lebih mudah dikendalikan. Sistem skor padel sama dengan tenis, yaitu 15, 30, 40, dan game, dengan servis dilakukan secara underhand (dari bawah pinggang) setelah bola dipantulkan sekali ke lantai.

Daya tarik padel terletak pada aksesibilitasnya yang tinggi. Olahraga ini relatif mudah dipelajari bahkan bagi pemula, membutuhkan waktu adaptasi yang cepat, dan lebih mengutamakan strategi, penempatan bola, serta kerja sama tim daripada kekuatan fisik semata. Ini berbeda dengan tenis yang menuntut teknik dan daya tahan fisik individu yang lebih kompleks. Sifat sosial padel, yang selalu dimainkan berpasangan di lapangan kecil, mendorong interaksi dan kekompakan antarpemain, menjadikannya aktivitas yang menyenangkan dan inklusif bagi berbagai kalangan usia.

Popularitas padel melonjak secara eksponensial dalam beberapa tahun terakhir. FIP World Padel Report 2025 menunjukkan bahwa jumlah lapangan padel di seluruh dunia telah mencapai lebih dari 77.300 unit yang tersebar di 150 negara dan 20 wilayah dependen. Jumlah pemain padel global diperkirakan telah melampaui 30 juta, meningkat tajam dari kurang dari 8 juta pada tahun 2018. Eropa menyumbang sekitar 60% pemain, diikuti Amerika Selatan 23%, dan Asia 6.4% dengan 2,2 juta pemain amatir. Spanyol tetap menjadi episentrum global dengan hampir 17.000 lapangan dan 5,5 juta pemain aktif, disusul Italia dengan 9.700 lapangan dan Argentina dengan 7.000 lapangan.

Di Indonesia, padel mulai dikenal luas sekitar tahun 2022 dan kini menunjukkan pertumbuhan pesat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bali, Bandung, dan Surabaya. Per Mei 2024, Indonesia menempati posisi teratas di Asia Tenggara, keenam di Asia, dan ke-29 di dunia berdasarkan jumlah lapangan aktif yang teregistrasi. Hingga 2025, jumlah lapangan padel nasional mencapai 133 unit, dengan mayoritas di Jabodetabek (40%) dan Bali (30%). Ryan Putra, salah satu pengelola Padel Arena Jakarta, menyatakan bahwa padel kini tidak hanya dimainkan oleh ekspatriat, tetapi juga menarik banyak anak muda lokal karena sifatnya yang menyenangkan dan sosial.

Dukungan selebriti dan eksposur di media sosial turut memicu popularitas padel. Figur publik seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Andy Murray di kancah internasional, serta Nagita Slavina, Luna Maya, Mahalini, dan El Rumi di Indonesia, rutin membagikan momen bermain padel, mengubahnya menjadi bagian dari lifestyle dan networking kalangan urban. Bahkan, turnamen padel internasional FIP Bronze pertama di Indonesia diselenggarakan di Jakarta dan Bali pada Juli 2025.

Pertumbuhan padel juga menciptakan peluang investasi yang menarik. Biaya membangun satu lapangan padel standar berkisar antara Rp600 juta hingga Rp1,2 miliar, tergantung kualitas bahan dan fasilitas pendukung. Ukuran lapangan yang lebih kecil memungkinkan pembangunan beberapa lapangan dalam satu lahan yang biasanya digunakan untuk tenis, sehingga potensi pendapatan dari sewa per jam menjadi lebih tinggi dan efisien. Analisis bisnis menunjukkan ROI dapat tercapai dalam 2 hingga 3 tahun, dengan potensi keuntungan bersih Rp20 juta–Rp30 juta per bulan untuk lapangan yang dikelola dengan baik. Menurut pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda, bisnis padel di Indonesia berada pada tahap pertumbuhan eksponensial, meskipun perlu belajar dari kasus seperti di Swedia di mana persaingan ketat dan faktor ekonomi menyebabkan pailit bagi beberapa operator.

Ke depan, Federasi Padel Internasional tengah memperjuangkan olahraga ini agar masuk sebagai cabang resmi Olimpiade, menandakan ambisi padel untuk menjadi olahraga mainstream global. Dengan daya tariknya yang inklusif, kurva belajar yang cepat, dan nuansa sosial yang kental, padel tidak hanya akan terus menjadi tren sesaat, melainkan berpotensi besar untuk mengukuhkan diri sebagai pilar penting dalam budaya olahraga modern dan bahkan menjadi daya tarik wisata olahraga. Tantangan utama yang perlu diatasi adalah ketersediaan lapangan yang masih terbatas dan peningkatan kesadaran masyarakat umum di luar kota-kota besar.