:strip_icc()/kly-media-production/medias/5464440/original/035808700_1767690364-WhatsApp_Image_2026-01-06_at_15.49.27.jpeg)
Sektor pariwisata korporat di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan adaptasi signifikan di tengah dinamika kebijakan nasional, dengan sejumlah restoran dan tempat makan strategis di seluruh wilayah ini kini menjadi pilihan utama untuk beragam acara kantor, mulai dari pertemuan santai hingga jamuan makan malam formal. Pertumbuhan sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) di DIY, yang sempat mencapai 30 persen okupansi pada Juni 2024, terus mendorong penyedia jasa kuliner untuk berinovasi, menawarkan fasilitas pendukung komprehensif yang melampaui sekadar hidangan lezat.
Meskipun Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 membatasi perjalanan dinas pemerintah—sumber 60 persen kegiatan MICE di Yogyakarta—industri pariwisata daerah ini mengalihkan fokus ke sektor swasta, mengoptimalkan daya tarik budaya dan alam sebagai nilai jual utama. Imam Pratanadi, Kepala Dinas Pariwisata DIY, menyatakan bahwa strategi ini bertujuan untuk meningkatkan kontribusi sektor swasta dalam industri MICE yang sebelumnya hanya 40 persen. Kondisi ini mendorong pengembangan layanan acara korporat di berbagai tempat makan, yang menawarkan kapasitas besar, ruang privat, dan suasana yang mendukung produktivitas sekaligus kenyamanan.
Untuk acara skala besar seperti gala dinner atau corporate gathering, Abhayagiri Restaurant di Sumberwatu Heritage, Prambanan, menonjol dengan kapasitas hingga 1.000 tamu dan pemandangan Gunung Merapi serta Candi Prambanan yang spektakuler, menyajikan nuansa modern-elegan. Bale Raos Restaurant, yang berlokasi di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta, menawarkan pengalaman bersantap eksklusif dengan menu khas Keraton dan arsitektur Jawa yang memukau, mampu menampung sekitar 200 orang dalam dua joglonya.
Lemah Ledok Garden Resto, di Sleman, menyediakan area taman yang luas dan ruang rapat tertutup, ideal untuk gathering berskala besar hingga 300 orang dengan suasana asri dan tenang. Sekar Kedhaton Restaurant di Kotagede menggabungkan nuansa Jawa klasik yang megah dengan kapasitas venue yang sangat besar, cocok untuk rombongan perusahaan yang ingin merasakan kekentalan budaya Jogja. The Westlake Resto, dengan konsep gazebo di atas danau buatan, menjadi pilihan untuk acara santai dengan hidangan seafood dan masakan Indonesia, cocok untuk kegiatan outdoor maupun indoor. Jejamuran menawarkan konsep unik dengan semua menu berbahan dasar jamur, cocok untuk gathering skala besar dengan suasana luas.
Bagi perusahaan yang mencari suasana lebih formal dan fasilitas bintang lima, sejumlah restoran hotel ternama menjadi pilihan. Taman Sari Bar & Grill di Yogyakarta Marriott Hotel menyajikan perpaduan hidangan lokal dan internasional dalam suasana elegan. Paprika Restaurant di The Phoenix Hotel, dengan sentuhan kreatif koki berbakat, menawarkan beragam kuliner lokal dan internasional. Sementara itu, Androwino Bistro di Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa menghadirkan hidangan istimewa dalam atmosfer modern yang nyaman.
Untuk rapat kecil atau sesi brainstorming yang membutuhkan privasi, Kappu Soemantri Coffee menyediakan ruang rapat privat berkapasitas 10-15 orang, dilengkapi fasilitas yang mendukung produktivitas. Omah Dhuwur Restaurant di Kotagede menawarkan perpaduan hidangan Indonesia dan Western, menciptakan suasana yang cocok untuk makan malam semi-formal. Sasanti Restaurant, dengan nuansa Bali dan Jogja serta arsitektur joglo yang indah, ideal untuk menikmati aneka hidangan dengan sentuhan khas. Griya Dhahar RB, berjarak sekitar 10 menit dari Malioboro, menawarkan menu legendaris khas Jogja dalam suasana Jawa autentik yang hangat dan nyaman, dengan harga terjangkau. Banyu Mili Resto, dikenal sebagai restoran keluarga dengan konsep semi terbuka, juga cocok untuk rombongan besar karena area makannya yang luas dan fasilitas pendukung seperti kolam renang.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengonfirmasi bahwa MICE di Jogja didukung oleh beragam kegiatan, termasuk acara instansi swasta dan musim wisuda, yang turut mendongkrak okupansi hotel. Proyeksi Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa perekonomian DIY pada tahun 2026 diperkirakan tumbuh positif di kisaran 4,9% hingga 5,7%, ditopang oleh pembangunan infrastruktur, sektor pariwisata, pendidikan tinggi, serta kinerja ekspor industri manufaktur. Pertumbuhan sektor MICE, yang didorong oleh acara korporat di berbagai tempat makan ini, berkontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, dan pengembangan infrastruktur lokal. Meskipun adanya tantangan dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, fleksibilitas dan inovasi para pelaku industri kuliner di Yogyakarta dalam menawarkan beragam pilihan venue diharapkan dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan daya saing kota ini sebagai destinasi MICE terkemuka.