
Seorang pria di Utah, Amerika Serikat, Stephen Chase, 33 tahun, mendadak fasih berbahasa Spanyol setelah terbangun dari operasi lutut, sebuah fenomena yang telah berulang kali terjadi padanya setiap kali menjalani prosedur bedah dalam lebih dari satu dekade terakhir. Meskipun hanya memiliki pengetahuan Spanyol tingkat pemula dari sekolah, Chase mampu berbicara kalimat lengkap dalam bahasa tersebut selama sekitar 20 menit pasca-operasi sebelum kembali menggunakan bahasa Inggris. Kasus serupa juga menimpa seorang remaja di Belanda pada Oktober 2025 yang, setelah operasi lutut, hanya dapat berbicara bahasa Inggris dengan aksen Belanda dan kesulitan menggunakan bahasa ibunya. Insiden medis langka ini memicu pertanyaan mendalam mengenai mekanisme otak di balik kemampuan linguistik yang tiba-tiba muncul atau berubah drastis setelah trauma atau intervensi medis.
Fenomena yang dialami Chase dan remaja Belanda tersebut masuk dalam kategori "Foreign Language Syndrome" (FLS) atau "Sindrom Bahasa Asing", suatu kondisi neurologis langka yang ditandai dengan penggunaan bahasa non-pribumi secara tiba-tiba dan tanpa disengaja. Literatur medis mencatat hanya sekitar sembilan kasus FLS yang terdeskripsikan, menunjukkan betapa anehnya kondisi ini. FLS, seperti halnya "Foreign Accent Syndrome" (FAS) yang lebih banyak didokumentasikan dengan lebih dari 200 kasus, seringkali muncul setelah cedera kepala parah, stroke, tumor otak, pendarahan di otak, atau, seperti dalam kasus remaja Belanda, setelah anestesi.
Ahli saraf dan peneliti masih belum sepenuhnya memahami mengapa kerusakan atau trauma pada otak dapat memicu perubahan drastis dalam kemampuan berbahasa. Namun, beberapa teori telah dikemukakan. Dr. Roslan Yusni Al Imam Hasan, seorang ahli bedah saraf, menjelaskan bahwa input bahasa yang pernah masuk ke otak mungkin muncul kembali karena 'recall' otak yang terganggu, menyebabkan seseorang secara tidak sadar mengucapkan kata-kata di luar kebiasaan. Ahli neurolinguistik Michel Paradis dari McGill University Montreal juga menyatakan bahwa kasus-kasus seperti ini, di mana kemampuan berbahasa meningkat setelah cedera otak, memang sangat aneh, meskipun pemulihan satu bahasa pada penutur bilingual tidaklah jarang.
Salah satu penjelasan yang lebih luas terkait fenomena ini adalah "Acquired Savant Syndrome", di mana seseorang menunjukkan kemampuan kognitif luar biasa yang muncul setelah cedera otak traumatis atau penyakit. Meskipun kemampuan berbahasa (poliglot) jarang terjadi dalam sindrom ini, kemampuan lain seperti seni, musik, atau matematika telah dilaporkan. Psikiater Darold Treffert, yang telah meneliti Acquired Savant Syndrome selama puluhan tahun, berpendapat bahwa kondisi ini mungkin disebabkan oleh "perekrutan korteks yang tidak rusak dari bagian lain di otak, kemudian terjadi penyambungan kembali ke area yang tidak rusak tersebut, dan pelepasan potensi yang tidak aktif." Dia menggambarkannya sebagai mekanisme kompensasi yang melibatkan area otak yang mungkin sebelumnya tidak aktif atau fungsinya telah diubah. Hal ini didukung oleh konsep neuroplastisitas, kemampuan otak untuk mengatur ulang diri dan membentuk koneksi saraf baru untuk beradaptasi dan mengkompensasi kerusakan.
Studi kasus individu seperti Benjamin McMahon, seorang pria Australia yang bangun dari koma setelah kecelakaan mobil pada 2013 hanya bisa berbicara Mandarin dengan lancar padahal sebelumnya ia hanya mempelajari dasarnya, memberikan wawasan lebih lanjut. Para ahli menduga bahwa cedera pada lobus frontal kiri otaknya, khususnya area Broca yang terkait dengan bahasa, mungkin telah merusak area penyimpanan bahasa Inggrisnya, sehingga mengaktifkan akses ke bahasa Mandarin yang sudah ada namun tidak fasih. Dalam kasus McMahon, dia mempertahankan kefasihan barunya setelah pembengkakan otaknya mereda.
Meskipun banyak kasus FLS dan Acquired Savant Syndrome melibatkan cedera otak traumatis yang parah, kasus Stephen Chase setelah operasi lutut dan remaja Belanda setelah operasi lutut yang sama-sama melibatkan anestesi, menyoroti kompleksitas interaksi antara trauma, obat-obatan, dan fungsi otak. Delirium pasca-anestesi, kondisi kebingungan yang dapat terjadi selama pemulihan, disebut sebagai salah satu faktor yang mungkin terlibat dalam kasus remaja Belanda.
Implikasi dari fenomena ini sangat luas bagi neurologi dan studi akuisisi bahasa. Kemampuan mendadak ini menunjukkan bahwa sirkuit otak untuk bahasa mungkin sudah ada secara laten dan dapat "terbangun" dalam kondisi ekstrem. Penelitian lebih lanjut dapat membantu para ilmuwan memahami bagaimana memori bahasa disimpan dan diakses, serta bagaimana otak dapat mereorganisasi diri setelah cedera. Pemahaman yang lebih dalam tentang mekanisme ini tidak hanya dapat membuka jalan bagi strategi rehabilitasi baru untuk pasien cedera otak, tetapi juga berpotensi mengubah pemahaman kita tentang batas-batas kapasitas belajar bahasa manusia.