:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5390143/original/069222600_1761233713-dr_Jeffry.jpeg)
Konsumsi makanan berjamur dapat menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan, dengan dokter memperingatkan bahwa kebiasaan ini merupakan faktor risiko signifikan untuk kanker hati. Bahaya utama berasal dari senyawa beracun yang disebut aflatoksin, yang diproduksi oleh jamur jenis Aspergillus, terutama A. flavus dan A. parasiticus.
Aflatoksin dikenal sebagai mikotoksin yang sangat kuat, bersifat mematikan dan karsinogenik bagi manusia maupun hewan. Hati adalah organ target utama aflatoksin, di mana paparan kronis dapat menyebabkan kerusakan sel hati, mutasi genetik pada sel hati, dan pada akhirnya memicu kanker hati jenis karsinoma hepatoseluler (HCC), yang merupakan jenis kanker hati primer paling umum. Penyakit ini seringkali tidak menunjukkan gejala langsung, melainkan baru terlihat setelah bertahun-tahun.
Menurut para ahli toksikologi, membuang bagian makanan yang terlihat berjamur tidak selalu melindungi karena racun dapat menyebar ke bagian yang tidak terlihat. Jamur Aspergillus tumbuh subur di daerah hangat dan lembap, serta sering ditemukan pada berbagai produk pertanian seperti biji-bijian, jagung, kacang-kacangan (kacang tanah, kedelai, pistachio), rempah-rempah (ketumbar, jahe, lada, kunyit), dan beras. Bahkan, produk turunan hewan seperti susu juga dapat terkontaminasi jika hewan mengonsumsi pakan yang berjamur.
Aflatoksin B1 (AFB1) dianggap sebagai jenis aflatoksin yang paling berbahaya dan memiliki potensi toksisitas tertinggi. Racun ini sangat tahan panas dan tidak dapat dihilangkan sepenuhnya hanya dengan proses memasak biasa seperti menggoreng, karena miselianya mungkin mati tetapi sporanya tetap hidup. Untuk menghilangkan senyawa ini, dibutuhkan pemanasan di atas suhu 200 derajat Celsius, padahal suhu penggorengan biasanya sekitar 170 derajat Celsius.
Selain risiko kanker hati jangka panjang, konsumsi makanan berjamur juga dapat menyebabkan gejala keracunan makanan akut seperti sakit perut, diare, mual, muntah, gatal pada seluruh tubuh, dan pusing. Dokter Riza Marlina dan dokter spesialis penyakit dalam, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menekankan pentingnya memeriksa kondisi makanan sebelum dikonsumsi dan menghindari konsumsi makanan yang sudah terkontaminasi jamur.
Pencegahan menjadi kunci utama untuk menghindari paparan aflatoksin. Masyarakat disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan yang sudah berjamur atau terlihat mencurigakan. Praktik penyimpanan makanan yang baik, seperti menjaga kelembaban rendah, dapat mencegah pertumbuhan jamur. Selain itu, pemilihan bahan pangan berkualitas baik dan pemilahan biji-bijian atau kacang-kacangan yang rusak akibat serangan jamur juga penting. Pemerintah melalui lembaga seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah menetapkan batasan cemaran aflatoksin dalam pangan untuk menjaga kualitas dan keamanan konsumsi.