:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456776/original/025750300_1766969971-Ilustrasi_Tradisi_Makan_Anggur_saat_Tahun_Baru.jpg)
Berita ini akan membahas fenomena budaya unik makan 12 anggur di bawah meja saat pergantian tahun, khususnya kaitannya dengan harapan menemukan cinta, dan menganalisisnya dari perspektif mental health dan implikasi sosiologisnya.
Tradisi "Las Doce Uvas de la Suerte" atau Dua Belas Anggur Keberuntungan, yang berasal dari Spanyol pada akhir abad ke-19, telah berkembang menjadi ritual global yang kini sering dimodifikasi dengan makan anggur di bawah meja sebagai simbol pencarian cinta sejati pada malam Tahun Baru. Ritual yang mengharuskan seseorang mengonsumsi dua belas buah anggur — satu untuk setiap dentang jam pada tengah malam — diyakini membawa keberuntungan, kesehatan, dan kemakmuran untuk setiap bulan di tahun mendatang. Varian makan di bawah meja, yang populer melalui platform media sosial seperti TikTok, secara spesifik diyakini dapat meningkatkan peluang seseorang menemukan pasangan romantis atau memperkuat hubungan yang ada.
Secara historis, tradisi makan 12 anggur dimulai sekitar tahun 1880-an di Madrid, Spanyol, dipengaruhi oleh kebiasaan borjuis Prancis yang menikmati anggur dan sampanye pada Malam Tahun Baru. Ritual ini kemudian dipopulerkan secara luas pada awal 1900-an oleh petani di Alicante sebagai strategi untuk menjual surplus panen anggur. Setiap anggur melambangkan satu bulan dalam setahun, dengan keyakinan bahwa berhasil menghabiskan semuanya sebelum tengah malam akan membawa nasib baik. Interpretasi yang lebih modern, terutama yang menyebar di Amerika Latin dan melalui media sosial, menambahkan elemen duduk di bawah meja, yang diyakini dapat menangkal hal buruk dan secara khusus menarik keberuntungan dalam asmara.
Dari sudut pandang psikologis, ritual semacam ini, meskipun tidak memiliki dasar ilmiah langsung, berperan penting dalam kesehatan mental dan pembentukan niat. Psikolog dan spesialis kesehatan menyatakan bahwa gestur-gestur simbolis ini lebih berkaitan dengan kemampuan memfokuskan pikiran dan emosi. Dengan meluangkan beberapa menit untuk memikirkan apa yang ingin ditarik—seperti kesehatan, uang, atau cinta—seseorang menempatkan diri dalam posisi aktif untuk tahun yang baru. Dr. Lena Derhally, seorang ahli hubungan dan psikoterapis, menekankan bahwa tradisi adalah cara yang baik bagi pasangan untuk terhubung melalui makna dan tujuan bersama, membangkitkan rasa nostalgia dan kenyamanan, serta meningkatkan perasaan dicintai dan dihargai.
Ritual Tahun Baru menyediakan momen refleksi dan resolusi, di mana individu dapat menutup babak lama dan memulai yang baru, membantu mereka melupakan kegagalan dan memberi harapan. Tindakan mengunyah setiap anggur sambil memikirkan harapan atau tujuan tertentu menciptakan momen reflektif yang membantu seseorang menutup tahun lama dan membuka tahun baru dengan niat positif. Hal ini sejalan dengan temuan psikologi positif yang menunjukkan bahwa perayaan dapat menciptakan kegembiraan dan optimisme, mengurangi stres, dan meningkatkan suasana hati. Saat seseorang menyematkan harapan pada tindakan simbolis, alam bawah sadar akan lebih terarah pada tujuan yang ingin dicapai.
Namun, ketergantungan berlebihan pada ritual tanpa tindakan konkret dapat memiskinkan substansi perayaan. Penting untuk diakui bahwa ekspektasi yang tidak realistis terhadap ritual dapat menimbulkan kekecewaan jika hasil yang diharapkan tidak terwujud. Meskipun demikian, secara umum, tradisi seperti makan 12 anggur tetap menawarkan nilai psikologis dengan menyediakan struktur, harapan, dan kesempatan untuk menetapkan niat di awal tahun. Fenomena viral di media sosial menunjukkan bahwa ritual ini memberikan ruang bagi ekspresi harapan personal, menguatkan keyakinan kolektif, dan mendorong individu untuk secara aktif membayangkan masa depan yang lebih baik, termasuk dalam urusan asmara.