
Rumah sakit swasta di Malaysia semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi utama bagi pasien asal Indonesia, bahkan dengan menyediakan ruangan atau kantor layanan khusus yang didedikasikan untuk warga negara Indonesia (WNI). Fenomena ini kembali menjadi sorotan setelah unggahan di media sosial X menunjukkan adanya "special office for Indonesians patients" di Sunway Medical Centre pada 29 Desember 2025, memicu diskusi luas mengenai preferensi WNI dalam mencari perawatan medis lintas batas.
Tren WNI berobat ke Malaysia telah menunjukkan peningkatan signifikan. Pada tahun 2022, tercatat 312.000 pasien Indonesia mencari perawatan di Malaysia, melonjak dari 670 pasien pada 2019 setelah pembukaan kembali perbatasan pasca-pandemi. Angka ini terus meroket, dengan 1,4 juta pengunjung medis pada tahun 2023, menghasilkan pendapatan sebesar RM2,25 miliar (sekitar S$680 juta) bagi Malaysia. Pada tahun 2024, lebih dari 1,6 juta wisatawan medis mengunjungi Malaysia, menyumbang sekitar RM2,72 miliar terhadap ekonomi lokal. Indonesia sendiri menyumbang porsi terbesar, mencapai 60% hingga 80% dari total wisatawan medis Malaysia, atau 64,9% dari total pasien asing pada tahun sebelumnya. Konsul Malaysia di Pekanbaru, Mohammed Hosnie Shahiran bin Ismail, pada 27 September 2024, mengumumkan bahwa lebih dari Rp1 triliun pendapatan wisata medis Malaysia berasal dari pasien Indonesia, yang menunjukkan bahwa lebih dari 50% pendapatan sektor ini berasal dari Indonesia.
Berbagai faktor melatarbelakangi preferensi WNI untuk berobat ke Malaysia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan pada 13 Agustus 2025 bahwa alasan utamanya bukan hanya soal harga yang relatif murah, tetapi juga kualitas layanan kesehatan, diagnostik, administrasi, dan keramahan yang dinilai jauh lebih baik dibandingkan di Indonesia. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Mohammad Adib Khumaidi, pada 30 Mei 2024, menyoroti aksesibilitas yang mudah, termasuk murahnya tiket pesawat ke kota-kota seperti Penang, serta kebijakan pemerintah Malaysia yang mendukung wisata medis dengan insentif bebas pajak untuk penggunaan alat dan pelayanan. Akurasi diagnosis yang tinggi, kecepatan pelayanan tanpa antrean panjang, dan teknologi medis canggih juga menjadi daya tarik utama. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, yang menjalani pemeriksaan medis di Penang, mengaku tidak heran melihat 80 persen pasien di rumah sakit tersebut adalah WNI, menyebutkan akurasi tinggi karena mesin modern dan dokter profesional, serta waktu tunggu yang singkat. Gleneagles Kuala Lumpur dan Sunway Medical Centre bahkan masuk dalam daftar World's Best Hospitals 2024.
Selain itu, biaya perawatan di Malaysia seringkali lebih terjangkau, bahkan bisa 50% lebih murah dibandingkan Singapura, dan dikendalikan ketat oleh Kementerian Kesehatan Malaysia, memastikan harga yang sama untuk pasien lokal dan internasional. Kedekatan geografis, kemudahan perjalanan, serta kesamaan bahasa dan budaya antara Indonesia dan Malaysia juga mempermudah pasien dan keluarga. Layanan holistik yang menggabungkan pengobatan dengan wisata singkat juga menjadi nilai tambah, seperti yang ditawarkan oleh Pantai Hospital Melaka. Jenis penyakit yang paling sering dikeluhkan pasien Indonesia meliputi masalah jantung, kanker, ortopedi, bayi tabung, dan pemeriksaan kesehatan umum.
Pemerintah Indonesia menyadari fenomena ini sebagai "kebocoran devisa" yang diperkirakan mencapai lebih dari USD 10 miliar atau Rp 165 triliun per tahun, dengan sekitar 1 hingga 2 juta WNI berobat ke luar negeri setiap tahunnya. Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah menyoroti isu ini. Dalam upaya menekan jumlah pasien yang berobat ke luar negeri, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan strategi dengan membangun ekosistem pelayanan kesehatan berkelas internasional di dalam negeri, meliputi pembangunan rumah sakit dengan fasilitas, alat kesehatan, dan sumber daya manusia (SDM) berkualitas internasional. Pemerintah juga memajukan program wisata medis domestik di berbagai daerah potensial seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali, Labuan Bajo, dan Batam, dengan fokus pada mutu dan keselamatan pasien, kepercayaan, keberlanjutan, serta kolaborasi dan inovasi. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, pada 29 Desember 2025, menyatakan bahwa faktor non-klinis medis seperti persepsi layanan yang lebih baik, cepat, dan nyaman menjadi alasan utama pasien memilih berobat ke luar negeri.
Sementara itu, Malaysia secara agresif mempromosikan wisata medis melalui Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC), sebuah badan khusus di bawah Kementerian Kesehatan Malaysia. MHTC gencar melakukan promosi di berbagai kota di Indonesia, termasuk pameran seperti MHExpo 2025 yang diadakan di Jakarta, dengan lebih dari 20 rumah sakit terakreditasi berpartisipasi. Malaysia juga membidik kota-kota lapis kedua di Indonesia seperti Batam dan Palembang. MHTC menyediakan platform komprehensif untuk akses informasi perawatan dan opini kedua, serta menjamin harga terjangkau dan kualitas pelayanan. Dukungan penuh pemerintah Malaysia dan regulasi ketat terhadap harga di rumah sakit swasta menjadi pilar keberhasilan strategi ini.
Implikasi jangka panjang dari tren ini mencakup tekanan berkelanjutan pada devisa Indonesia dan tantangan bagi sistem kesehatan domestik untuk meningkatkan kepercayaan publik. Meskipun Indonesia berupaya keras membangun fasilitas dan meningkatkan kualitas layanan, termasuk standarisasi rumah sakit dengan sertifikasi internasional seperti Joint Commission International (JCI), Malaysia telah unggul dalam mengembangkan ekosistem wisata medis yang terintegrasi selama lebih dari satu dekade. Namun, mulai 1 Juli 2025, pemerintah Malaysia memberlakukan pajak layanan 6% bagi warga negara asing yang menggunakan jasa layanan kesehatan swasta. Kebijakan ini berpotensi menjadi hambatan bagi pertumbuhan sektor wisata medis Malaysia dan dapat memengaruhi persepsi keterjangkauan biaya bagi pasien Indonesia di masa depan, meski dampaknya masih akan diamati. Persaingan antara kedua negara dalam menarik dan mempertahankan pasien medis akan semakin ketat, mendorong inovasi dan perbaikan berkelanjutan di kedua belah pihak.