
Tren Padel di Indonesia telah mengalami ledakan popularitas yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, dengan data tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan fasilitas dan minat yang signifikan, menjadikannya fenomena sosial dan bisnis yang patut diperhitungkan di lanskap olahraga nasional. Olahraga raket yang memadukan elemen tenis dan squash ini mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 2022 dan kini semakin digemari di kota-kota besar seperti Jakarta, Bali, Bandung, dan Surabaya.
Menurut laporan Playtomic Global Padel Report 2025, padel telah berkembang menjadi salah satu olahraga dengan pertumbuhan tercepat secara global, dengan lebih dari 30 juta pemain aktif di lebih dari 120 negara. Indonesia tidak terkecuali dari tren ini. Indonesia Padel Report 2025 mencatat peningkatan jumlah klub padel di Indonesia hingga 295% sepanjang tahun 2025, dengan sekitar 1.580 lapangan padel baru dibangun di berbagai wilayah, atau setara dengan hampir empat lapangan baru setiap hari. Popularitas padel di Indonesia bahkan melonjak hingga 1.684% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya olahraga dengan pertumbuhan tercepat sepanjang 2025, melampaui lari lintasan dan tenis, berdasarkan Garmin Connect Data Report 2025.
Secara historis, padel pertama kali dimainkan pada tahun 1969 di Acapulco, Meksiko, oleh Enrique Corcuera, kemudian populer di Spanyol dan Argentina sebelum menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia, olahraga ini diperkenalkan sekitar tahun 2010-an oleh komunitas ekspatriat di Jakarta dan Bali. Eric Entrena, seorang pelatih padel profesional asal Spanyol, bersama Simon Alexander McMenemy, mantan pelatih sepak bola Timnas Indonesia, turut berperan memperkenalkan padel di Bali pada awal tahun 2020, ditandai dengan berdirinya Bali Padel Academy.
Perkembangan pesat ini didukung oleh beberapa faktor kunci. Padel dikenal mudah diakses oleh pemula dan lebih ramah bagi persendian dibandingkan tenis, karena raket yang lebih pendek tanpa senar dan bola bertekanan rendah membuat permainan lebih mudah dikontrol. Karakteristik permainan ganda di lapangan berdinding kaca mendorong interaksi sosial yang intens, menjadikannya aktivitas yang menyenangkan untuk bersosialisasi dan membangun jaringan. Fenomena ini sangat cocok dengan gaya hidup urban modern, di mana masyarakat mencari aktivitas yang memadukan olahraga, rekreasi, dan jejaring. Pengaruh media sosial, dengan konten bermain padel yang estetis dan energik dari selebritas serta influencer, juga menciptakan efek Fear of Missing Out (FOMO) yang masif di kalangan masyarakat perkotaan.
Dari sisi infrastruktur, Indonesia menunjukkan dominasi di Asia Tenggara. Data Federation Internationale de Padel (FIP) per Mei 2024 menunjukkan Indonesia menempati posisi teratas di Asia Tenggara, keenam di Asia, dan ke-29 di dunia berdasarkan jumlah lapangan aktif yang teregistrasi. Hingga akhir tahun 2024, Indonesia memiliki 134 lapangan padel permanen di tujuh provinsi, dengan konsentrasi terbesar di Bali (92 lapangan) dan DKI Jakarta (27 lapangan), menguasai 51% dari total lapangan padel di Asia Tenggara. Jumlah ini diproyeksikan terus meningkat, dengan lebih dari 60 lapangan beroperasi di Indonesia pada tahun 2025, dan Jabodetabek menyumbang 40% serta Bali 30% dari total lapangan nasional.
Pertumbuhan ini juga membuka peluang investasi yang menjanjikan. Modal awal untuk membangun satu lapangan padel berkisar antara Rp600 juta hingga Rp1,2 miliar, dengan potensi Return on Investment (ROI) bisa tercapai dalam 2 hingga 3 tahun, bahkan dalam 12 hingga 18 bulan tergantung okupansi dan strategi pengelolaan. Beberapa proyek investasi padel premium seperti LOOP Wellness Club di Kemang, Jakarta Selatan, menargetkan 6 lapangan padel indoor berstandar internasional dengan fasilitas lengkap.
Sebagai respons terhadap pertumbuhan ini, Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) didirikan pada 7 Juli 2023 dan resmi menjadi anggota Federation Internationale de Padel (FIP) pada 17 Mei 2024. PBPI memiliki misi untuk mengembangkan padel di seluruh Indonesia, membangun koneksi internasional, dan membina talenta lokal. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo juga mendukung padel untuk diperkenalkan sebagai olahraga ekshibisi pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh-Sumatera Utara, melihat potensinya sebagai gabungan bulu tangkis, tenis, dan squash yang cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia.
Implikasi jangka panjang dari ledakan padel di Indonesia adalah pembentukan ekosistem olahraga baru yang holistik. Dengan adanya federasi nasional, turnamen lokal seperti SIRNAS Padel Indonesia 2024, dan dukungan untuk program pengembangan di tingkat akar rumput, padel berpotensi tidak hanya menjadi tren perkotaan, tetapi juga merambah sekolah dan wilayah di luar Jawa sebagai olahraga alternatif yang menantang. Namun, para pengamat juga mengingatkan perlunya pembelajaran dari negara lain seperti Swedia, di mana persaingan ketat, inflasi, dan penurunan minat dapat menyebabkan pailit operator lapangan. Pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyatakan bahwa bisnis padel di Indonesia masih dalam "masa bulan madu" dan menekankan pentingnya pembentukan komunitas yang kuat melalui turnamen lokal hingga nasional untuk keberlanjutan.