Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Skandal Perak Élysée: Barang Curian Rp790 Juta Muncul di Lelang Online

2025-12-24 | 03:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-23T20:19:27Z
Ruang Iklan

Skandal Perak Élysée: Barang Curian Rp790 Juta Muncul di Lelang Online

Seorang pengurus peralatan makan senior Istana Élysée di Paris, Thomas M., bersama dua terduga kaki tangannya, akan menghadapi persidangan pada Februari 2026 setelah ditangkap atas dugaan pencurian ratusan benda pusaka, termasuk perak dan porselen, senilai hingga 40.000 euro (sekitar Rp790 juta), yang kemudian dijual melalui situs lelang daring. Insiden ini, yang terungkap setelah kepala pengurus Istana Élysée melaporkan kehilangan sejumlah barang dan Pabrik Sèvres mengenali produknya di platform lelang, menyoroti kerentanan keamanan di kediaman resmi Presiden Prancis tersebut dan menambah panjang daftar kasus pencurian di institusi budaya Prancis belakangan ini.

Penyelidikan mendalam Kejaksaan Paris menunjukkan bahwa Thomas M., seorang "argentier" atau pengurus perak yang bertanggung jawab atas penyimpanan dan perawatan peralatan makan kenegaraan, diduga memanfaatkan posisinya untuk menggelapkan barang-barang berharga tersebut. Catatan inventaris yang dibuat oleh Thomas M. sendiri memberikan kesan adanya perencanaan pencurian lanjutan, menurut jaksa. Barang-barang yang dicuri mencakup porselen Sèvres, patung René Lalique, gelas sampanye Baccarat, dan panci tembaga, banyak di antaranya adalah bagian dari warisan nasional Prancis. Beberapa item yang ditemukan di akun Vinted milik tersangka termasuk piring berstempel "Angkatan Udara Prancis" dan asbak berlogo "Sèvres Manufactory", yang secara eksklusif digunakan untuk keperluan negara dan tidak tersedia untuk umum.

Sekitar 100 objek berhasil ditemukan dalam penggeledahan loker pribadi Thomas M. di tempat kerja, kendaraannya, dan kediamannya. Semua barang yang berhasil disita telah dikembalikan ke Istana Élysée. Thomas M. dan rekannya, Damien G., ditangkap pada pekan sebelumnya, sementara tersangka ketiga, Ghislain M., yang juga seorang penjaga Museum Louvre, ditangkap atas tuduhan menerima barang curian. Menurut pengacaranya, Ghislain M. mungkin dimotivasi oleh "gairah" terhadap benda-benda antik langka. Ketiga tersangka didakwa bersama-sama mencuri properti bergerak yang terdaftar sebagai bagian dari warisan nasional dan kepemilikan barang curian dengan pemberatan, yang dapat dihukum hingga 10 tahun penjara dan denda 150.000 euro. Mereka saat ini berada di bawah pengawasan yudisial, dilarang berkomunikasi satu sama lain, tidak diizinkan menghadiri lokasi lelang, dan dilarang melanjutkan aktivitas profesional mereka hingga persidangan selesai.

Insiden di Istana Élysée ini bukan kasus terisolasi, melainkan bagian dari serangkaian pencurian profil tinggi yang melanda institusi-institusi budaya Prancis dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, Museum Louvre mengalami perampokan permata mahkota senilai 88 juta euro pada Oktober, yang hingga kini belum ditemukan. Museum Sejarah Alam Paris juga kehilangan bongkahan emas dan museum porselen di Limoges kehilangan porselen Tiongkok bernilai jutaan euro pada September. Serentetan kejadian ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai kelonggaran pengamanan di lembaga-lembaga kebudayaan dan kenegaraan Prancis, memicu pertanyaan tentang perlindungan aset nasional yang tak ternilai. Kasus Élysée, yang melibatkan seorang karyawan internal, secara khusus menyoroti kebutuhan akan audit keamanan internal yang lebih ketat dan sistem pengawasan inventaris yang lebih canggih di lembaga-lembaga penting negara. Persidangan yang akan datang pada Februari 2026 diharapkan dapat memberikan kejelasan lebih lanjut tentang jaringan di balik pencurian ini dan implikasinya terhadap protokol keamanan warisan nasional Prancis.