
Peringatan mendesak telah dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait potensi pandemi influenza yang "lebih parah daripada COVID-19", menyusul deteksi sistem pengawasan global terhadap perubahan pada virus yang memiliki "potensi pandemi" seiring lonjakan kasus di berbagai wilayah. Ancaman ini diperkuat oleh musim flu yang sedang berlangsung, khususnya dengan munculnya subklade baru H3N2 yang menyebabkan kekhawatiran akan tingkat keparahan yang lebih tinggi dan menular hingga tiga orang dari setiap individu yang terinfeksi.
Musim flu 2024-2025 di Amerika Serikat baru-baru ini diklasifikasikan sebagai "sangat parah", menandai musim influenza paling serius sejak 2017-2018. Selama periode tersebut, tercatat sekitar 82 juta kasus penyakit, 1,3 juta rawat inap, dan 130.000 kematian akibat influenza di AS. Data ini menggarisbawahi dampak kesehatan masyarakat yang signifikan dari flu musiman, bahkan sebelum mempertimbangkan ancaman pandemi yang lebih besar. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat memproyeksikan musim influenza 2025-2026 akan "moderat" secara keseluruhan, namun dengan "kepercayaan rendah" karena ketidakpastian dampak virus influenza yang beredar terhadap kekebalan populasi dan efektivitas vaksin. Salah satu faktor pendorong adalah munculnya subklade K dari virus influenza A(H3N2) yang dominan di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, yang dikhawatirkan dapat menyebabkan musim flu yang lebih parah. Virus H3N2 ini dikenal menyebabkan gejala yang lebih parah di semua kelompok umur, terutama pada anak-anak dan lansia, dengan demam yang lebih tinggi serta komplikasi seperti kesulitan bernapas dan dehidrasi.
Di balik kekhawatiran musiman ini, para ahli kesehatan global menyoroti potensi pandemi influenza yang jauh lebih mengkhawatirkan, terutama dari virus flu burung H5N1. Dr. Marie-Anne Rameix-Welti, direktur medis di pusat infeksi pernapasan Institut Pasteur, menyatakan bahwa pandemi flu burung "mungkin akan sangat parah, berpotensi lebih parah daripada pandemi yang kita alami" dengan COVID-19. Alasan utama kekhawatiran ini adalah kurangnya kekebalan yang ada pada manusia terhadap virus H5. Tidak seperti COVID-19 yang sebagian besar mempengaruhi kelompok rentan, virus flu dapat membunuh individu yang sehat, termasuk anak-anak.
Tingkat penularan dasar (R0) untuk influenza musiman umumnya berkisar antara 0,9 hingga 2,1, dengan rata-rata sekitar 1,3. Sebagai perbandingan, perkiraan awal R0 untuk SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19) berada antara 1,5 hingga 3,5. Jika virus influenza dapat mencapai R0 sekitar 3, berarti setiap individu yang terinfeksi rata-rata dapat menulari tiga orang lain dalam populasi yang rentan. Tingkat penularan setinggi itu, dikombinasikan dengan potensi keparahan H5N1, akan menghadirkan tantangan kesehatan masyarakat yang monumental.
Ancaman pandemi influenza bukanlah hal baru. Sejarah menunjukkan bahwa influenza terus-menerus berevolusi dan bermutasi, menjadikannya patogen yang paling mungkin memicu pandemi berikutnya. Sebuah survei internasional mengungkapkan bahwa 57% ahli penyakit senior percaya bahwa strain virus flu akan menjadi penyebab wabah penyakit menular global yang mematikan berikutnya. Namun, kesiapsiagaan global masih menjadi perhatian. Pada tahun 2011, Komite Peninjau Peraturan Kesehatan Internasional menyatakan bahwa dunia "tidak siap untuk menanggapi pandemi influenza yang parah atau keadaan darurat kesehatan masyarakat global, berkelanjutan, dan mengancam lainnya." Pada awal 2019, kurang dari satu dari tiga negara di Kawasan Eropa telah merevisi rencana pandemi influenza mereka sejak pandemi 2009.
Salah satu tantangan krusial adalah pengembangan vaksin. Vaksin flu untuk musim 2025-2026 mulai diformulasikan pada bulan Februari, jauh sebelum subklade K dari H3N2 muncul dan menjadi dominan. Ini berarti efektivitas vaksin tahunan mungkin berkurang terhadap strain baru yang beredar. Meskipun demikian, para ahli menekankan pentingnya vaksinasi untuk mengurangi risiko penyakit parah, rawat inap, dan kematian. Selain itu, ketersediaan obat antivirus seperti Oseltamivir (Tamiflu) dapat membantu, tetapi paling efektif jika diberikan dalam 48 jam pertama setelah timbulnya gejala.
Menghadapi ancaman ini, pendekatan "One Health" sangat penting, yang mengakui keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Penyebaran H5N1 di antara hewan liar, unggas, dan mamalia, termasuk sapi perah, anjing laut, dan cerpelai, meningkatkan risiko mutasi virus yang memungkinkannya menular dari manusia ke manusia. Peningkatan pengawasan virus influenza, peningkatan kapasitas laboratorium, dan dukungan untuk mengembangkan strategi pencegahan dan pengendalian tetap menjadi prioritas global yang mendesak.