:strip_icc()/kly-media-production/medias/4450634/original/084955500_1685682219-lifestyle-people-emotions-casual-concept-romantic-tender-korean-beautiful-girl-close-eyes-smiling-keep-memory-heart-daydreaming-thinking-about-someone-touching-chest_1_.jpg)
Rasa syukur, sebuah emosi positif yang sering diidentikkan dengan kesejahteraan mental, ternyata memiliki dampak signifikan yang melampaui kondisi pikiran dan emosi, merambah ke kesehatan fisik secara menyeluruh. Berbagai penelitian ilmiah dan pandangan psikologi positif secara konsisten menunjukkan bahwa praktik bersyukur dapat membawa serangkaian manfaat nyata bagi tubuh dan jiwa.
Secara mental, bersyukur terbukti mampu meningkatkan kualitas kesehatan mental, membuat hidup lebih tenteram, serta menghindarkan seseorang dari perasaan dendam dan iri hati. Individu yang bersyukur cenderung memiliki kepribadian yang lebih baik, lebih mudah berteman, dan dapat meningkatkan hubungan interpersonal mereka. Psikolog Robert A. Emmons, seorang peneliti terkemuka dalam bidang rasa syukur, menemukan bahwa rasa syukur secara efektif meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi depresi. Tinjauan dari 70 penelitian yang melibatkan lebih dari 26.000 orang juga menunjukkan hubungan antara tingkat rasa syukur yang lebih tinggi dan tingkat depresi yang lebih rendah. Rasa syukur juga dapat mengurangi kecemasan dengan mengalihkan fokus dari kekhawatiran dan pemikiran negatif. Bahkan, sebuah studi pada tahun 2006 yang diterbitkan dalam Behavior Research and Therapy menemukan bahwa veteran Perang Vietnam dengan tingkat rasa syukur yang lebih tinggi mengalami tingkat gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang lebih rendah. Bersyukur juga meningkatkan harga diri, mendorong emosi positif, membuat individu lebih optimis, serta dapat meningkatkan kekuatan mental dan kemampuan mengatasi trauma.
Manfaat bersyukur tidak berhenti pada aspek mental. Pada ranah fisik, kebiasaan ini juga memberikan dampak positif yang substansial. Salah satu manfaat yang menonjol adalah peningkatan kualitas tidur. Orang yang selalu bersyukur cenderung memiliki kualitas tidur yang lebih baik karena pikiran mereka lebih positif dan rileks. Sebuah studi yang dimuat di jurnal Applied Psychology: Health and Well-Being menyatakan bahwa menulis jurnal berisi hal-hal positif yang disyukuri selama 15 menit sebelum tidur dapat mengoptimalkan kualitas tidur.
Lebih jauh, rasa syukur juga bermanfaat bagi kesehatan jantung. Penelitian menunjukkan bahwa emosi positif, termasuk rasa syukur, berkaitan erat dengan kesehatan jantung yang lebih baik. Sebuah studi pada April 2015 terhadap 186 pria dan wanita dengan masalah jantung menemukan bahwa tingkat rasa syukur yang tinggi berhubungan dengan suasana hati yang lebih baik, kualitas tidur yang meningkat, dan peradangan yang minimal, semuanya merupakan faktor kunci bagi kesehatan penderita penyakit jantung. Direktur Medis dari Newport Healthcare, Mirela Loftus, menyatakan bahwa secara rutin mengekspresikan rasa syukur dapat meningkatkan fungsi jantung serta kemampuan seseorang dalam menghadapi stres.
Selain itu, bersyukur dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sikap optimis yang sering dikaitkan dengan rasa syukur dapat membangun sistem kekebalan tubuh yang lebih baik. Contohnya, sebuah studi dari University of Utah menemukan bahwa mahasiswa hukum yang optimis memiliki lebih banyak sel darah putih peningkat kekebalan tubuh dibandingkan mereka yang pesimis. Rasa syukur juga dilaporkan dapat menurunkan stres dan mengurangi rasa nyeri kronis. Ketika seseorang merasakan kebahagiaan yang mendalam karena bersyukur, tubuh memproduksi neurotransmitter seperti dopamin yang berhubungan dengan rasa senang, dan serotonin yang mengatur suasana hati. Pelepasan oksitosin, hormon yang memicu perasaan percaya dan kemurahan hati, juga dikaitkan dengan rasa syukur, mendorong ikatan sosial dan perasaan terhubung.
Profesor psikologi David Desteno dari Universitas Boston bahkan menyatakan bahwa perasaan bersyukur setiap hari seperti vitamin bagi tubuh, mental, pikiran, dan psiko-emosional seseorang, yang dapat memperpanjang usia. Berdasarkan studi pada tahun 2024, wanita dengan tingkat rasa syukur tertinggi memiliki risiko kematian 9 persen lebih rendah akibat berbagai penyebab, termasuk penyakit kardiovaskular, kanker, dan penyakit neurodegeneratif. Praktik bersyukur juga dapat memotivasi seseorang untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat, seperti lebih sering berolahraga dan mengonsumsi makanan yang lebih baik.
Dengan demikian, mengintegrasikan praktik bersyukur ke dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya sekadar latihan spiritual atau emosional, melainkan sebuah investasi nyata untuk kesejahteraan menyeluruh, baik mental maupun fisik.