Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tempe: Superfood Masa Depan Dunia? Studi Komprehensif Dimulai 2026

2025-12-01 | 00:24 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-30T17:24:22Z
Ruang Iklan

Tempe: Superfood Masa Depan Dunia? Studi Komprehensif Dimulai 2026

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan memulai penelitian komprehensif pada tahun 2026 untuk mengeksplorasi potensi tempe sebagai superfood. Inisiatif ini bertujuan untuk lebih jauh menggali khasiat tempe yang kaya nutrisi dan memposisikannya sebagai pangan fungsional unggulan berbasis keanekaragaman hayati Indonesia, guna mendukung ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Satriyo Krido Wahono, menyatakan bahwa tempe adalah salah satu kandidat komoditas utama superfood dalam platform Riset Invitasi BRIN tahun depan. Menurutnya, riset tempe memiliki potensi besar mengingat Indonesia memiliki biodiversitas tinggi yang menyediakan banyak alternatif sumber protein lain untuk menghasilkan produk tempe.

Tempe, makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari fermentasi kedelai, telah lama dikenal karena kandungan gizinya yang tinggi. Dalam 100 gram tempe, terkandung sekitar 18-20 gram protein, 8-9 gram lemak, 7,6-9 gram karbohidrat, dan 1,4 gram serat. Selain itu, tempe juga merupakan sumber kalsium (110-155 mg), zat besi (2,7-3,6 mg), magnesium (66-80 mg), fosfor (264-270 mg), dan kalium (400-412 mg). Berbagai vitamin seperti B12, B1, B2, B6, serta asam folat dan tokoferol juga ditemukan dalam tempe.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menambahkan bahwa tempe memiliki manfaat kesehatan yang luas, antara lain sebagai antidiare, antidiabetik, antihipertensi, antikanker, antioksidan, dan antibakteri. Kandungan isoflavon pada tempe, yang memiliki sifat antioksidan, berperan penting dalam melawan radikal bebas dalam tubuh yang dapat merusak sel dan menyebabkan penyakit degeneratif. Proses fermentasi juga mengubah isoflavon menjadi bentuk aglikon (daidzein dan genistein) yang lebih bioaktif dan mudah diserap tubuh.

Penelitian mendatang akan berfokus pada peningkatan kandungan isoflavon aglikon melalui mikroba dan teknologi bioproses, termasuk ko-fermentasi, germinasi, serta teknologi berbasis fisik seperti ultrasound, high pressure processing, dan pulsed electric field. Selain itu, studi juga akan mengevaluasi potensi tempe dalam menghambat adhesi bakteri penyebab diare Enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC), dengan temuan awal menunjukkan peningkatan kemampuan penghambatan hingga 80-90 persen pada tempe yang disuplementasi bakteri asam laktat tertentu.

Riset tempe ini dianggap penting dalam konteks kesehatan dan kemandirian pangan nasional, serta relevan dengan agenda swasembada kedelai dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Dengan kandungan gizi yang lengkap dan manfaat kesehatan yang beragam, tempe diharapkan dapat menjadi pangan fungsional unggulan yang mendukung kesehatan masyarakat secara luas.