Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terungkap: Lintah Hidup di Hidung Pria Jadi Biang Kerok Mimisan Kronis

2025-12-24 | 03:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-23T20:04:18Z
Ruang Iklan

Terungkap: Lintah Hidup di Hidung Pria Jadi Biang Kerok Mimisan Kronis

Seorang pria yang mengalami mimisan berulang selama berhari-hari akhirnya menemukan penyebab tak terduga: seekor lintah hidup yang bersarang di rongga hidungnya. Kondisi ini, dikenal sebagai hirudiniasis nasal, meski jarang terjadi di perkotaan, masih menjadi ancaman kesehatan di daerah pedesaan dan tropis, terutama bagi individu yang terpapar sumber air yang tidak aman.

Kasus-kasus hirudiniasis nasal sering kali bermanifestasi sebagai mimisan unilateral berulang, sensasi benda asing, atau sumbatan hidung. Lintah, sebagai parasit penghisap darah, dapat masuk ke tubuh manusia melalui lubang alami seperti hidung, orofaring, laring, atau esofagus, umumnya terjadi saat mandi atau minum air dari danau atau kolam yang terinfeksi. Setelah menempel pada mukosa, lintah mengeluarkan koktail zat antikoagulan, termasuk hirudin, yang menghambat pembekuan darah dan memungkinkan mereka menghisap darah hingga sepuluh kali berat tubuhnya, menyebabkan pendarahan terus-menerus dan bahkan anemia parah.

Diagnosis hirudiniasis nasal dapat menjadi tantangan karena gejala yang tidak spesifik dan lokasi lintah yang seringkali tersembunyi di area gelap rongga hidung seperti apeks hidung, fisura olfaktori, atau bagian posterior, sehingga sulit dideteksi melalui pemeriksaan rhinoskopi anterior rutin. Beberapa pasien bahkan salah didiagnosis dengan kondisi lain seperti sinusitis akut atau rinitis alergi sebelum diagnosis yang tepat ditegakkan melalui endoskopi nasal.

Tingginya kasus hirudiniasis nasal tercatat di daerah endemik, khususnya di negara-negara berkembang di daerah tropis seperti anak benua India, Afrika, dan sebagian Asia. Sebuah studi retrospektif di rumah sakit tingkat sekunder di wilayah perbukitan Darjeeling, Benggala Barat, India, selama empat tahun (2008-2012) mengidentifikasi enam kasus yang semuanya datang dengan mimisan berulang unilateral dan sensasi benda asing di hidung. Di wilayah Azad Jammu Kashmir dan Hazara, Pakistan, sebuah studi lain mencatat 38 kasus hirudiniasis nasal dalam kurun waktu tiga tahun (2006-2009), dengan sebagian besar pasien (78,57%) berusia di bawah 12 tahun dan 68,57% adalah laki-laki. Semua pasien dalam studi tersebut memiliki riwayat minum air dari mata air atau sungai.

Penanganan utama hirudiniasis nasal adalah pengangkatan lintah secara hati-hati. Teknik endoskopi nasal sering digunakan untuk visualisasi dan ekstraksi. Namun, perlu kehati-hatian karena upaya pengangkatan yang salah dapat menyebabkan lintah melepaskan isi perutnya yang penuh bakteri ke luka, atau bahkan berpindah lebih dalam ke saluran pernapasan, yang dapat menimbulkan komplikasi serius seperti obstruksi jalan napas atau aspirasi. Penggunaan semprotan xylocaine topikal 10% dapat membantu menganestesi mukosa hidung dan membuat lintah kehilangan cengkeramannya, memfasilitasi pengangkatan.

Implikasi jangka panjang dari hirudiniasis nasal yang tidak diobati mencakup anemia hemoragik akibat kehilangan darah kronis, infeksi sekunder, dan dalam kasus yang jarang, obstruksi jalan napas yang mengancam jiwa jika lintah bermigrasi ke laring atau trakea. Para ahli menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran publik, terutama di daerah pedesaan, mengenai bahaya minum atau mandi di sumber air yang tidak diobati. Pendidikan mengenai praktik kebersihan air dan penyediaan air minum yang aman merupakan langkah krusial untuk mencegah infestasi parasit semacam ini di masa depan.