
Neurolog di seluruh Indonesia menghadapi peningkatan signifikan dalam menangani pasien stroke usia muda, bahkan individu berusia 20-an, menandai pergeseran epidemiologi yang mengkhawatirkan dari penyakit yang sebelumnya identik dengan lansia. Selama satu dekade terakhir, jumlah kasus stroke pada usia muda dilaporkan meningkat sebesar 67%, memperlihatkan tantangan serius terhadap kesehatan masyarakat produktif. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) tahun 2018 mencatat prevalensi stroke pada usia di atas 15 tahun di Indonesia mencapai 10,9 hingga 11 orang dari setiap 100 orang usia muda, naik dari 7 per 100 orang lima tahun sebelumnya. Pada tahun 2023, prevalensi stroke di Indonesia secara nasional mencapai 8,3 per 1.000 penduduk, dengan sebagian kasus menimpa individu di bawah 45 tahun.
Pergeseran ini menyoroti bagaimana gaya hidup modern menjadi pemicu utama. "Bahkan yang mengalami stroke itu di bawah usia 40 tahun, yang tadinya kita menemukan pada usia-usia lansia atau di atas 50 tahun," ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, menggarisbawahi peningkatan prevalensi hipertensi di kalangan usia produktif sebagai faktor pemicu utama. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi pada kelompok usia 18-24 tahun mencapai 10,7% berdasarkan pengukuran, dan 17,4% pada usia 25-34 tahun, menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan status hipertensi di masyarakat.
Faktor-faktor risiko yang dahulu didominasi oleh penyakit pada usia tua seperti hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes melitus, kini bersanding dengan kebiasaan yang lebih lazim di usia muda. Gaya hidup kurang bergerak, pola makan tidak teratur, asupan gizi tidak seimbang, merokok, konsumsi alkohol, serta penggunaan obat-obatan terlarang seperti ganja, opioid, dan kokain menjadi penyebab dominan. Dokter spesialis neurologi lulusan Universitas Indonesia, dr. Bambang Tri Prasetyo, Sp.N, Subsp. NIOO(K), FINS, FINA, mengaitkan peningkatan ini dengan beban kerja yang tinggi dan stres di perkotaan, yang seringkali diikuti kebiasaan merokok. Sebuah studi di Indonesia (RSU Imelda Medan) bahkan menemukan bahwa kebiasaan makan tidak sehat (89,1%), hipertensi (84,3%), dan merokok (67,6%) adalah faktor dominan penyebab stroke pada usia muda. Selain itu, kondisi medis spesifik pada usia muda juga berperan, termasuk kelainan pembekuan darah, kelainan jantung bawaan seperti Patent Foramen Ovale (PFO), malformasi pembuluh darah, dan migrain dengan aura. Penggunaan kontrasepsi hormonal serta kehamilan dan masa nifas juga dapat meningkatkan risiko stroke sumbatan.
Dampak dari stroke pada usia muda melampaui konsekuensi medis pribadi. Firman, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UM Surabaya, menegaskan bahwa kasus stroke di usia muda harus mendapatkan perhatian serius karena memiliki dampak buruk jangka panjang yang sangat besar, terutama beban sosial ekonomi. Penderita stroke di usia produktif seringkali mengalami kecacatan seperti kelumpuhan, gangguan kognitif, persepsi, dan kesulitan berbicara, yang menghambat kemampuan mereka untuk bekerja dan berkontribusi secara ekonomi. Biaya pengobatan stroke juga sangat besar; data BPJS Kesehatan menunjukkan pengeluaran mencapai 2,56 triliun rupiah pada tahun 2018, dan meningkat menjadi Rp5,2 triliun pada tahun 2023, menempatkan stroke sebagai penyakit katastropik ketiga dengan pembiayaan tertinggi setelah penyakit jantung dan kanker.
Melihat tren yang mengkhawatirkan ini, ahli kesehatan menekankan pentingnya intervensi preventif sejak dini. Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Yudhi Pramono, menyatakan 90% kasus stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dislipidemia, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik. Dokter Spesialis Saraf di RS Pondok Indah, Dyah Tunjungsari, menyarankan pemeriksaan kesehatan rutin sebagai cara deteksi dini, terutama bagi mereka dengan riwayat keluarga penderita stroke. Langkah-langkah pencegahan melibatkan gaya hidup sehat, termasuk olahraga minimal 30 menit setiap hari, pola makan bergizi rendah gula, garam, dan lemak, menghindari rokok dan alkohol, serta mengelola stres. Kesadaran akan tanda-tanda awal stroke, yang dapat disingkat dengan akronim "SeGera Ke RS" (Senyum tidak simetris, Gerak separuh anggota tubuh melemah, bicara pelo, kebas, dan Rabun mata tiba-tiba, serta Sakit kepala hebat), menjadi krusial untuk penanganan cepat dan meminimalkan kerusakan otak.