
Seorang wanita berusia 24 tahun baru-baru ini mengalami serangan jantung, sebuah kejadian yang menggarisbawahi tren mengkhawatirkan meningkatnya insiden penyakit kardiovaskular pada kelompok usia muda di Indonesia. Data terbaru mengindikasikan bahwa penyakit jantung tidak lagi eksklusif bagi populasi lansia, melainkan semakin menghantui mereka yang berada di puncak usia produktif, membawa implikasi serius terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi nasional.
Tren ini tercermin dalam data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan kelompok usia 25-34 tahun mendominasi jumlah pasien jantung dengan 140.206 orang. Secara umum, rata-rata usia diagnosis pertama penyakit jantung di Indonesia telah menurun secara signifikan dari 48,5 tahun pada 2013 menjadi 43,2 tahun pada 2023. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sendiri melonjak lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, dari 0,49% (sekitar 855.000 orang) pada 2013 menjadi 1,08% (sekitar 2,29 juta orang) dari total penduduk berusia 15 tahun ke atas pada 2023. Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan juga mencatat peningkatan jumlah pasien jantung di bawah usia 45 tahun sebesar 66% antara 2020 hingga 2023, melampaui pertumbuhan 52% pada kelompok usia 46 tahun ke atas.
Fenomena ini menjadi perhatian serius para ahli. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, dr. Siska S Danny, SpJP(K), mengungkapkan bahwa usia median pasien serangan jantung di Indonesia adalah 57 tahun, lebih muda dibandingkan pasien di Amerika atau Eropa yang berkisar antara 60-65 tahun, atau bahkan Jepang yang lebih tua lagi. Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Radityo Prakoso, juga menegaskan adanya peningkatan prevalensi serangan jantung pada usia kurang dari 40 tahun sebesar dua persen setiap tahun, terutama setelah tahun 2000.
Berbagai faktor risiko berperan dalam pergeseran demografi pasien serangan jantung ini. Gaya hidup tidak sehat menjadi penyebab paling umum. Pola makan yang kaya gula, garam, dan lemak, konsumsi makanan olahan hewani yang berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok (baik aktif maupun pasif), konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi, diabetes, dan stres kronis semuanya berkontribusi pada peningkatan risiko. Studi menunjukkan bahwa 65% pasien serangan jantung di Indonesia adalah perokok, 51% menderita hipertensi, dan 27% mengidap diabetes.
Khusus untuk wanita muda, beberapa faktor risiko menunjukkan korelasi yang signifikan. Sebuah studi menemukan bahwa diabetes, merokok, depresi, hipertensi, pendapatan rumah tangga rendah, riwayat keluarga dengan Infark Miokard Akut (IMA), dan kolesterol tinggi adalah tujuh faktor yang secara berurutan dikaitkan dengan risiko IMA yang lebih besar pada perempuan. Selain itu, ada kondisi yang lebih jarang seperti diseksi arteri koroner spontan (SCAD), di mana terjadi robekan pada lapisan dalam arteri secara spontan, sering kali terjadi pada ibu hamil, pasca-melahirkan, dan atlet wanita.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Eva Susanti, menyoroti bahwa penyakit kardiovaskular, termasuk stroke (19,42%) dan jantung iskemik (14,38%), merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Dr. M Tasrif Mansur, SpPD, K-KV, seorang konsultan kardiovaskular, menambahkan bahwa banyak pasien muda datang dengan kondisi serangan jantung yang parah karena tidak menyadari adanya faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol, atau diabetes yang belum terdiagnosis.
Implikasi jangka panjang dari tren ini sangat luas. Serangan jantung pada usia muda tidak hanya mengancam jiwa, tetapi juga secara signifikan mengurangi produktivitas dan kualitas hidup individu, menciptakan beban ekonomi yang besar bagi keluarga dan sistem kesehatan nasional. Biaya pembiayaan penyakit jantung oleh BPJS Kesehatan, misalnya, meningkat dari Rp 4,4 triliun pada 2014 menjadi Rp 9,3 triliun pada 2018.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menggalakkan program "CERDIK" untuk meminimalisir risiko penyakit tidak menular, meliputi Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet gizi seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Para ahli menekankan pentingnya skrining dini dan perubahan gaya hidup untuk mencegah penyakit jantung koroner. Sekitar 80% penyakit jantung dapat dicegah dengan mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat. Edukasi kesehatan yang komprehensif, dimulai dari usia muda, adalah kunci untuk mengubah lintasan epidemi penyakit jantung di Indonesia.