
Varian influenza A (H3N2) subclade K, yang popular disebut "super flu" dan telah memicu lonjakan kasus signifikan di Amerika Serikat, terdeteksi di Indonesia sejak 25 Desember 2025, memicu perhatian serius Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terhadap potensi dampaknya di tengah tren penurunan kasus influenza nasional. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr Prima Yosephine, mengonfirmasi temuan ini berdasarkan hasil pemeriksaan genomik pada akhir Desember 2025, meskipun varian tersebut belum mendominasi keseluruhan kasus influenza di Tanah Air.
Secara historis, Influenza A (H3N2) dikenal sebagai subtipe virus influenza yang sangat dinamis secara genetik dan kerap mendominasi musim flu global, pernah menyebabkan pandemi di Amerika Serikat pada tahun 1968 dan kembali menjadi pemicu peningkatan kasus pada 2024 hingga 2025. Subclade K, yang oleh ilmuwan pertama kali dideteksi pada Juni 2025, merupakan cabang mutasi terbaru dari virus H3N2, yang ditandai dengan kemampuan penyebaran yang lebih cepat dan efisiensi dalam menghindari imunitas populasi dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya. Di Amerika Serikat, aktivitas influenza mencapai kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian per 30 Desember 2025, dengan sekitar 70 ribu kasus yang dikaitkan dengan subclade K dalam seminggu terakhir.
Meskipun subclade K telah teridentifikasi di Indonesia oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan pada 25 Desember 2025, Kemenkes menegaskan bahwa kondisi epidemi influenza di Indonesia relatif terkendali. Surveilans hingga 27 Desember 2025 menunjukkan tren kasus influenza justru mengalami penurunan secara nasional selama dua bulan terakhir, dengan proporsi kasus menurun menjadi 12 persen pada minggu ke-51 dibandingkan minggu sebelumnya. Mayoritas subtipe yang terdeteksi masih didominasi oleh Influenza A H3N2 (clade 3C.2a1b.2a.2a.3a.1), mencapai 100 persen pada minggu ke-51 tahun 2025. Kelompok usia 18-59 tahun menyumbang proporsi tertinggi, sekitar 40 persen, dari total kasus yang ada.
Terkait tingkat keparahan, dr Prima Yosephine menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan subclade K memicu keparahan penyakit yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza sebelumnya. Observasi di Eropa selama Mei hingga November 2025 juga tidak menunjukkan perubahan signifikan pada angka rawat inap, perawatan intensif, maupun kematian akibat varian ini. Namun, Dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan, Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), mengindikasikan bahwa gejala infeksi subclade K cenderung lebih parah dibandingkan flu biasa atau COVID-19. Gejala tersebut meliputi demam tinggi 39-41 derajat Celsius, nyeri otot berat, kelelahan ekstrem, batuk kering, serta sakit kepala dan tenggorokan berat. Di sisi lain, epidemiolog Dr. Dicky Budiman menyebut subclade K memiliki keunggulan transmisi, memungkinkannya menularkan virus kepada dua hingga tiga orang.
Menyikapi temuan ini, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tanpa panik. Dr Prima Yosephine menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk etika batuk dan bersin, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menggunakan masker bagi yang bergejala. Vaksinasi influenza juga direkomendasikan sebagai upaya terbaik untuk mencegah influenza dan menekan risiko gejala berat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan penyakit penyerta. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga mengingatkan bahwa imunisasi influenza masih efektif menurunkan risiko penularan dan keparahan penyakit, dan belum ada bukti subclade K kebal terhadap vaksin yang tersedia. IDAI merekomendasikan imunisasi influenza sejak usia enam bulan.
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengapresiasi transparansi Kemenkes dalam memantau dan menyampaikan informasi terkait subclade K, serta meminta pemerintah untuk memperkuat komunikasi publik mengenai perbedaan gejala influenza dengan penyakit lain dan kapan masyarakat perlu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, juga mendesak Kemenkes untuk menguji ulang efektivitas vaksin influenza yang ada terhadap subclade K, melakukan publikasi hasil secara transparan, dan menyiapkan opsi vaksin alternatif jika diperlukan. Kemenkes memastikan penguatan surveilans akan terus dilakukan untuk memantau perkembangan subclade K dan mengantisipasi potensi perubahan situasi epidemi influenza di masa mendatang.