Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Aurelie Moeremans Ungkap: Begini Grooming Menjebak Diam-Diam

2026-01-12 | 17:52 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-12T10:52:45Z
Ruang Iklan

Aurelie Moeremans Ungkap: Begini Grooming Menjebak Diam-Diam

Aktris Aurelie Moeremans secara terbuka membagikan pengalamannya menjadi korban grooming pada usia 15 tahun melalui buku digitalnya, Broken Strings, mendorong diskusi publik mengenai bentuk manipulasi psikologis yang kerap tidak disadari dan dampaknya terhadap kesehatan mental. Pengakuan ini, yang pertama kali diungkapkan melalui akun Instagram pribadinya pada 3 Januari 2026, menyoroti bagaimana perilaku manipulatif ini dapat merusak individu, terutama pada usia rentan.

Grooming, dalam konteks pelecehan, didefinisikan sebagai serangkaian tindakan manipulatif yang dilakukan oleh predator untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan seorang anak atau remaja, atau bahkan orang dewasa yang rentan, dengan tujuan akhir melakukan eksploitasi atau pelecehan. Proses ini bersifat bertahap dan terencana, dirancang untuk meruntuhkan batasan pribadi korban dan menciptakan peluang eksploitasi tanpa disadari. Aurelie mengisahkan pertemuannya dengan seorang pria yang ia samarkan dengan nama Bobby, yang usianya hampir dua kali lipat darinya, di lokasi syuting. Dari sana, hubungan yang tampak biasa perlahan berubah menjadi jerat kontrol dan manipulasi psikologis yang kompleks. Bobby mendekati Aurelie dengan pesan-pesan ringan, menunjukkan perhatian berlebihan seperti menunggu hingga syuting selesai, bahkan mengambil peran pelindung dengan mengantar Aurelie dan keluarganya pulang, semua demi menciptakan rasa aman dan kepercayaan.

Psikolog Nurul Kusuma Hidayati dan Wirdatul Anis dari Fakultas Psikologi UGM menjelaskan bahwa grooming adalah awal untuk mempersiapkan seseorang agar siap menerima perilaku pelecehan. Seringkali, korban pelecehan seksual merasa "tidak apa-apa" dan bingung mengapa orang lain menganggapnya sebagai korban, sebuah efek ekstrem yang ditimbulkan oleh sexual grooming. Pengalaman Aurelie menegaskan bagaimana grooming sering disamarkan sebagai perhatian atau kasih sayang, membuat korban, terutama perempuan muda yang sedang mencari pengakuan dan identitas diri, sulit menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.

Dampak psikologis dari grooming sangat signifikan dan berjangka panjang. Korban sering mengalami penurunan harga diri, perasaan malu atau bersalah yang intens, dan merasa tidak berharga atau tercemar. Dalam jangka panjang, korban dapat mengalami gangguan kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), kesulitan mengendalikan stres, bahkan munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup. Mereka juga cenderung sulit membangun kepercayaan pada orang lain dan membentuk relasi yang sehat di kemudian hari, serta berisiko tinggi menjadi korban grooming lagi karena kerentanan psikologis.

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat peningkatan kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang signifikan, mencapai 1.791 kasus pada tahun 2024, meningkat 40,8% dari tahun sebelumnya. Data Save the Children Indonesia per Juli 2025 menunjukkan 1 dari 2 anak usia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan fisik, psikis, atau seksual sepanjang hidup mereka, dengan kekerasan seksual menjadi bentuk kekerasan tertinggi yaitu sebanyak 6.999 kasus dari total 15.615 kasus kekerasan yang tercatat. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa grooming dan eksploitasi digital merupakan ancaman nyata yang berkembang, memanfaatkan celah kerentanan psikososial remaja.

Kasubdit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual, Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba, S.H., M.H., menyatakan bahwa sex grooming, meskipun tidak tertulis langsung dalam Undang-Undang, merupakan bagian dari kekerasan seksual yang merendahkan, melecehkan, dan tidak dibenarkan. Kisah Aurelie Moeremans, yang didukung penuh oleh suaminya Tyler Bigenho sebagai upaya untuk menyadarkan banyak "Aurelie kecil" lainnya, menjadi sebuah pengingat kritis akan pentingnya edukasi, komunikasi terbuka, dan batasan diri yang sehat untuk mencegah dampak trauma yang merusak. Penguatan perlindungan anak di semua lini, mulai dari keluarga, sekolah, hingga ruang digital, adalah krusial untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh tanpa rasa takut.