
Seorang balita berusia dua tahun di Inggris, Juwon, kehilangan penglihatan permanen pada salah satu matanya setelah tertular infeksi virus herpes simpleks (HSV) yang diduga kuat ditularkan melalui ciuman. Peristiwa tragis ini menyoroti bahaya serius dari kontak fisik sembarangan pada bayi dan anak kecil, terutama bagi sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya matang. Ibu Juwon, Michelle Saaiman, awalnya membawa putranya ke dokter karena mengira ia mengalami infeksi mata biasa, namun kondisi Juwon memburuk drastis dalam dua hari. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkap adanya luka berukuran 4 milimeter di kornea mata Juwon yang disebabkan oleh virus herpes simpleks, kondisi yang dikenal sebagai herpes okular.
Infeksi virus herpes simpleks, khususnya HSV tipe 1 (HSV-1), seringkali menyebar melalui kontak langsung dengan air liur atau luka lepuh (cold sore) di sekitar mulut, bahkan ketika penderita tidak menunjukkan gejala yang jelas. Pada orang dewasa, HSV-1 umumnya menyebabkan luka ringan di bibir atau mulut dan jarang menimbulkan komplikasi serius, namun pada bayi dan balita, virus ini dapat menyebabkan kerusakan parah. Sistem kekebalan tubuh anak-anak yang belum sempurna membuat mereka sangat rentan terhadap penyebaran virus ke organ vital seperti mata dan otak.
Kerusakan pada kornea mata Juwon menyebabkan ia kehilangan sensasi dan penglihatan secara total pada mata tersebut, secara medis dinyatakan buta. Dokter menduga penularan terjadi dari orang lain yang mencium Juwon dan kemungkinan memiliki herpes di bibir tanpa disadari. Kasus seperti herpes okular merupakan penyebab kedua kebutaan terkait kornea pada anak-anak. Gejala infeksi herpes pada mata dapat meliputi mata merah, nyeri, berair, sensitivitas terhadap cahaya, penglihatan kabur, dan pembengkakan kelopak mata. Jika tidak ditangani dengan cepat, infeksi dapat menyebabkan kerusakan kornea yang parah dan bersifat permanen.
Lebih jauh, virus herpes simpleks juga berpotensi menyebar ke otak, menyebabkan ensefalitis herpes, yaitu peradangan pada otak. Meskipun jarang, ensefalitis herpes merupakan infeksi virus terberat pada otak manusia, dengan tingkat mortalitas mencapai 70% jika tidak diobati secara adekuat, dan sebagian besar pasien yang bertahan hidup menderita sekuele neurologis berat. Angka kejadian herpes simpleks neonatal di Amerika Serikat adalah 5,24 kasus per 10.000 kelahiran hidup, dengan angka mortalitas neonatus mencapai 4% meskipun telah menerima terapi antivirus. Sebuah studi di Korea Selatan bahkan mencatat angka mortalitas hingga 12,4% pada 30 hari pertama masa hidup neonatus yang terinfeksi HSV.
Mengingat risiko ini, para ahli kesehatan secara konsisten mengimbau orang tua dan masyarakat umum untuk menghindari mencium bayi, terutama di area mulut dan mata. Michelle Saaiman sendiri secara terbuka menyerukan kepada orang tua lain untuk melarang kerabat dan teman mencium anak mereka. Pencegahan juga mencakup kebersihan tangan yang ketat dan menghindari berbagi barang pribadi. Kasus Juwon menjadi pengingat kritis tentang bagaimana tindakan sepele seperti ciuman dapat memiliki konsekuensi medis yang menghancurkan bagi individu yang paling rentan.