
Seorang wanita muda berusia 26 tahun di Taiwan bernama Xiao Han baru-baru ini dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis, menderita sesak napas akut akibat paru-parunya terisi cairan, dan didiagnosis memerlukan cuci darah seumur hidup setelah kebiasaan mengonsumsi dua gelas bubble tea atau boba setiap hari untuk mengatasi tekanan pekerjaan memicu gagal ginjal parah. Kasus ini menyoroti bahaya laten konsumsi minuman manis berlebihan yang kian merajalela di kalangan generasi muda, tidak hanya di Taiwan, tetapi juga di Indonesia, di mana tren penyakit ginjal kronis (PGK) menunjukkan pergeseran ke usia produktif.
Ahli nefrologi di Taipei, Hong Yongxiang, menjelaskan bahwa Xiao Han mengabaikan gejala pembengkakan wajah selama enam bulan, mengira itu hanya kelelahan dan stres kerja. Kombinasi konsumsi minuman manis setiap hari, pola tidur tidak teratur, dan kebiasaan tidak sehat lainnya mempercepat kerusakan ginjalnya yang sebelumnya tidak terdiagnosis, hingga menyebabkan kondisi gagal ginjal. Hong memperingatkan, minuman dengan kandungan sirup fruktosa tinggi sangat berbahaya bagi ginjal jika dikonsumsi dalam jumlah besar, karena fruktosa meningkatkan produksi asam urat saat metabolisme yang dapat merusak tubulus ginjal dan memicu peradangan kronis.
Kisah Xiao Han bukan insiden tunggal. Studi menunjukkan hubungan kuat antara konsumsi minuman manis dan risiko penyakit ginjal kronis. Sebuah penelitian yang dirilis PubMed Central, melibatkan 127.830 peserta, menemukan bahwa konsumsi lebih dari satu porsi minuman berpemanis buatan per hari memiliki risiko lebih tinggi terhadap Penyakit Ginjal Kronis dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi minuman tersebut. Dokter spesialis ginjal, Elizabeth Yasmine Wardoyo, juga menyatakan bahwa mayoritas pasien gagal ginjal yang ia tangani memiliki riwayat kerap mengonsumsi minuman manis saat masih sehat, termasuk minuman kemasan dan kopi yang menggunakan gula atau susu kental manis berlebih.
Di Indonesia, masalah ini semakin mendesak. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 47,5% penduduk berusia 3 tahun ke atas mengonsumsi minuman manis setidaknya satu kali sehari, sementara 43,3% mengonsumsinya 1-6 kali per minggu. Indonesia bahkan tercatat sebagai negara dengan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) tertinggi di Asia Pasifik. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Maxi Rein Rondonuwu, menyoroti bahwa rata-rata MBDK di Indonesia mengandung 22,8 gram gula per 250 ml, sekitar 45,6% dari batas konsumsi gula harian yang dianjurkan Kemenkes. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan batas konsumsi gula tambahan maksimal 10% dari total kebutuhan energi, atau setara 50 gram (sekitar 4 sendok makan) per hari. Namun, satu gelas boba berukuran besar dapat mengandung 20-115 gram gula dan 140-700 kkal, setara dengan lebih dari 3,5 centong nasi.
Peningkatan drastis konsumsi gula berlebih ini berimplikasi serius pada kesehatan. Konsumsi gula berlebih dapat memicu obesitas, resistensi insulin, peningkatan tekanan darah, diabetes tipe 2, hingga penyakit jantung, yang semuanya merupakan faktor risiko utama penyakit ginjal kronis. Gula berlebih dalam darah memaksa ginjal bekerja ekstra keras, merusak filter-filter halus (nefron), dan memicu peradangan kronis pada ginjal. Jika kerusakan ginjal sudah parah, cuci darah menjadi prosedur medis yang diperlukan untuk mempertahankan hidup.
Prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia meningkat dari 2% pada 2013 menjadi 3,8% pada 2018, mencakup sekitar 739.208 jiwa. Meskipun data SKI 2023 menunjukkan penurunan angka prevalensi total, terdapat peningkatan proporsi pasien yang menjalani hemodialisis di kalangan usia produktif, seperti kelompok usia 25-34 tahun. Pada tahun 2024, jumlah pasien yang menjalani cuci darah di Indonesia mencapai 134.057 orang, dengan pembiayaan BPJS Kesehatan untuk pengobatan GGK melonjak dari Rp6,5 triliun pada 2019 menjadi Rp11 triliun pada 2024. Ini menegaskan perlunya strategi terpadu untuk mengendalikan beban penyakit dan pembiayaan, melalui upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengelolaan penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama gagal ginjal.
Edukasi mengenai bahaya konsumsi gula berlebih, terutama pada minuman kekinian seperti boba, menjadi krusial. Ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsi air mineral dan memeriksa label nutrisi pada kemasan minuman untuk mengontrol kadar gula yang dikonsumsi. Mengganti satu porsi minuman manis dengan air putih atau jus alami tanpa tambahan gula terbukti mengurangi risiko PGK secara signifikan. Tanpa perubahan pola konsumsi dan kesadaran akan risiko, ancaman gagal ginjal pada usia muda akan terus membayangi, menambah daftar panjang kasus nelangsa yang memerlukan intervensi medis seumur hidup.