Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

DPR Mendesak Kemenkes Bertindak Cepat Atasi Potensi Krisis 'Super Flu

2026-01-02 | 02:46 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T19:46:32Z
Ruang Iklan

DPR Mendesak Kemenkes Bertindak Cepat Atasi Potensi Krisis 'Super Flu

Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Nihayatul Wafiroh mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk segera mengambil langkah cepat dan transparan dalam menghadapi lonjakan kasus influenza yang populer disebut "Super Flu" subclade K. Permintaan ini muncul setelah varian baru virus Influenza A (H3N2) tersebut terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025, dengan 62 kasus terkonfirmasi hingga akhir Desember 2025 di delapan provinsi, mayoritas di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat, serta sebagian besar menyerang perempuan dan anak-anak usia 1-10 tahun.

Nihayatul Wafiroh secara spesifik meminta Kemenkes mengevaluasi dan menguji ulang efektivitas vaksin influenza yang saat ini beredar di masyarakat terhadap varian subclade K. Ia juga menuntut transparansi penuh terkait data uji klinis dan hasil surveilans virus influenza di Indonesia. Jika efektivitas vaksin yang ada terbukti rendah, DPR mendesak Kemenkes untuk mempercepat pengembangan atau pengadaan vaksin alternatif yang lebih manjur. Anggota Komisi IX DPR lainnya, Yahya Zaini, menambahkan perlunya peningkatan skrining ketat di pintu-pintu masuk internasional, terutama bagi pelaku perjalanan dari Amerika Serikat dan negara lain yang terdampak, serta persiapan fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan ketersediaan obat-obatan.

Meskipun disebut "Super Flu", istilah ini bukanlah terminologi medis resmi, melainkan sebutan populer untuk menggambarkan infeksi influenza A (H3N2) subclade K yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi dan gejala yang berpotensi lebih berat atau durasi sakit lebih lama dibandingkan flu musiman biasa. Varian ini dilaporkan telah mengalami setidaknya tujuh kali mutasi dan mendominasi gelombang flu di sejumlah negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang. Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) per 30 Desember 2025 menunjukkan jutaan kasus influenza di AS, puluhan ribu rawat inap, dan sekitar 3.100 kematian selama musim flu saat ini, sebagian besar disebabkan oleh H3N2.

Menanggapi desakan tersebut, Kemenkes melalui Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular, dr. Prima Yosephine, dan Juru Bicara Kemenkes Widyawati, memastikan bahwa situasi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia masih terkendali. Mereka menegaskan berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan analisis epidemiologi, subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan varian influenza lainnya. Kemenkes juga menyatakan bahwa vaksin influenza yang tersedia saat ini tetap efektif dalam mengurangi risiko gejala berat, rawat inap, dan kematian. Pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) hingga 25 Desember 2025 menegaskan seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan bersirkulasi secara global.

Peningkatan kasus influenza di Indonesia umumnya terjadi mulai September hingga awal tahun berikutnya, mencapai puncaknya saat musim hujan. Sepanjang tahun 2025, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit dengan kasus tertinggi di Indonesia, mencapai 14.506.235, dengan Influenza Like Illness (ILI) mencatat 1.692.642 kasus. Faktor perubahan musim, suhu dingin, polusi udara, serta penurunan kekebalan populasi pascapandemi COVID-19 dianggap turut berkontribusi terhadap lonjakan ini. Virus influenza yang terus bermutasi menuntut pembaruan perlindungan vaksinasi setiap tahun.

Kemenkes terus memperkuat surveilans dan pelaporan, serta mengimbau masyarakat untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS), mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker saat sakit, menerapkan etika batuk dan bersin, serta segera mencari layanan kesehatan jika gejala memburuk atau tidak membaik dalam beberapa hari. Kolaborasi erat antara DPR, Kemenkes, pakar epidemiologi nasional, dan organisasi kesehatan global juga dinilai krusial untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam merespons dinamika influenza musiman yang semakin kompleks.