Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Empedu Ikan Mentah: Dari Harapan Sembuh Migrain, Berujung Gagal Hati Akut

2026-01-21 | 03:01 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-20T20:01:35Z
Ruang Iklan

Empedu Ikan Mentah: Dari Harapan Sembuh Migrain, Berujung Gagal Hati Akut

Seorang wanita berusia 50 tahun di Tiongkok timur dilarikan ke unit perawatan intensif setelah nekat menelan empedu ikan mas rumput mentah pada pertengahan Desember lalu, dengan harapan dapat meredakan migrain kronis yang dideritanya. Alih-alih mendapatkan kesembuhan, wanita bermarga Liu tersebut justru mengalami keracunan parah dan didiagnosis menderita gagal hati akut, sebuah insiden yang menyoroti risiko fatal dari pengobatan tradisional yang tidak terbukti secara ilmiah.

Liu membeli ikan mas rumput seberat 2,5 kg di pasar dan, mengikuti mitos pengobatan tradisional yang diyakini dapat "membersihkan panas" tubuh, membuang racun, serta meredakan migrain, ia langsung menelan empedu ikan tersebut mentah-mentah. Dalam waktu hanya dua jam, ia mulai merasakan gejala muntah-muntah, diare, dan sakit perut hebat, yang kemudian memaksa keluarganya membawanya ke rumah sakit. Kondisi kritisnya memerlukan tindakan medis intensif, termasuk terapi penggantian plasma dan pemurnian darah secara terus-menerus di ICU Rumah Sakit Afiliasi Universitas Jiangsu. Setelah menjalani perawatan intensif selama lima hari, kondisi Liu akhirnya membaik dan ia diizinkan pulang.

Dr. Hu Zhenkui, dokter yang menangani kasus Liu, mengeluarkan peringatan keras mengenai toksisitas empedu ikan, menyatakan bahwa zat tersebut "bahkan lebih beracun daripada arsenik". Dr. Hu menjelaskan bahwa hanya beberapa gram empedu ikan sudah cukup untuk meracuni seseorang, dan empedu dari ikan seberat 5 kg atau lebih dapat berakibat fatal. Toksin yang terkandung dalam empedu ikan secara permanen dapat merusak hati dan ginjal, berpotensi memicu gagal hati akut, gagal ginjal, syok, pendarahan otak, dan bahkan kematian. Dia juga menegaskan bahwa racun tersebut tidak akan hilang meskipun empedu dimasak atau direndam dalam alkohol, sebuah praktik yang diyakini sebagian orang dapat meningkatkan nilai gizinya.

Kasus ini mempertegas ancaman serius yang ditimbulkan oleh praktik pengobatan tradisional yang tidak didukung bukti ilmiah, terutama ketika melibatkan konsumsi bagian tubuh hewan yang diketahui beracun. Masyarakat kerap meyakini bahwa bahan-bahan alami, termasuk empedu ikan, memiliki khasiat penyembuhan untuk berbagai penyakit seperti migrain, yang menurut Rumah Sakit Pantai, umumnya tidak berbahaya namun dapat memengaruhi kualitas hidup dan terkadang mengindikasikan kondisi medis serius. Namun, kepercayaan semacam itu seringkali mengabaikan risiko toksisitas inheren yang dapat menyebabkan kerusakan organ vital yang tidak dapat diperbaiki. Insiden keracunan empedu ikan yang menyebabkan rawat inap telah banyak dilaporkan, menunjukkan pola berbahaya dari penggunaan metode pengobatan alternatif yang tidak diverifikasi.

Lebih luas lagi, insiden ini menambah deretan kasus gagal hati akut yang disebabkan oleh konsumsi suplemen herbal atau pengobatan alternatif. Data menunjukkan bahwa cedera hati yang diinduksi suplemen herbal (DILI-HDS) berkontribusi sebesar 20% dari seluruh kasus kerusakan hati, dan jumlah kasus transplantasi hati terkait DILI-HDS meningkat lebih dari 70% antara tahun 2010-2020 dibandingkan periode sebelumnya. Banyak produk herbal dipasarkan sebagai terapi alternatif yang aman, namun kenyataannya dapat menyebabkan cedera hepar dan bahkan memerlukan transplantasi hati. Dokter dan otoritas kesehatan terus-menerus mengingatkan publik untuk tidak mempercayai pengobatan tradisional yang bersifat takhayul dan selalu berkonsultasi dengan profesional medis untuk penanganan penyakit, termasuk migrain yang memiliki penanganan medis yang teruji. Memilih jalur pengobatan yang tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat hanya akan menempatkan kesehatan individu pada bahaya yang tidak perlu.