Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kecanduan Scroll Medsos Diam-diam Rusak Otak? Waspadai Ciri-ciri 'Brain Rot' Ini

2026-01-11 | 00:30 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T17:30:34Z
Ruang Iklan

Kecanduan Scroll Medsos Diam-diam Rusak Otak? Waspadai Ciri-ciri 'Brain Rot' Ini

Penggunaan media sosial yang berlebihan, terutama kebiasaan "scrolling" tanpa henti pada konten-konten digital yang dangkal, memicu kekhawatiran serius di kalangan ahli neurologi dan psikologi mengenai potensi penurunan fungsi kognitif yang kini populer disebut sebagai "brain rot". Istilah ini, yang dinobatkan sebagai "Word of the Year 2024" oleh Oxford University Press, merujuk pada kemerosotan kondisi mental atau intelektual seseorang akibat konsumsi konten daring yang trivial atau tidak menantang secara berlebihan. Fenomena ini tidak hanya mengancam daya ingat dan konsentrasi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, khususnya pada anak-anak dan remaja yang otaknya masih dalam tahap perkembangan.

Mekanisme neurologis di balik fenomena ini berpusat pada pelepasan dopamin. Setiap kali pengguna menemukan konten menarik, otak melepaskan dopamin, neurotransmitter yang memicu rasa senang dan memperkuat perilaku pencarian hadiah instan. Dr. Laura Elin Pigott dalam studinya menjelaskan bahwa penggunaan media sosial mengaktifkan bagian otak yang sama dengan respons terhadap zat adiktif seperti narkoba, alkohol, atau judi, menciptakan siklus keterlibatan berkelanjutan. Pola ini membuat otak terbiasa mencari rangsangan cepat, sehingga kesulitan untuk menikmati aktivitas yang membutuhkan konsentrasi jangka panjang, seperti membaca atau belajar. Studi menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap media sosial dapat mengganggu fungsi korteks prefrontal—bagian otak yang mengendalikan fungsi eksekutif, pengambilan keputusan, dan kontrol impuls—serta mengurangi volume serebelum, yang memengaruhi keseimbangan, gerakan, dan fungsi kognitif seperti perhatian dan pemrosesan bahasa.

Di Indonesia, rata-rata waktu yang dihabiskan di media sosial mencapai 3 jam 11 menit per hari pada tahun 2024, melebihi rata-rata global 2 jam 31 menit. Angka ini sangat tinggi, mengingat Indonesia juga menempati posisi teratas sebagai negara dengan waktu menatap layar terlama di dunia, dengan rata-rata 6 jam 5 menit per hari pada tahun 2023. Platform seperti TikTok menjadi yang paling dominan, dengan rata-rata 1 jam 32 menit penggunaan setiap hari. Data dari We Are Social juga menunjukkan bahwa Generasi Z menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari di media sosial, dan 22% di antaranya menghabiskan antara dua hingga tiga jam per hari.

Gejala "brain rot" mencakup beberapa tanda yang patut diwaspadai. Penelitian yang dipublikasikan pada awal 2025 di Brain Sciences mengidentifikasi tiga faktor penyebab: waktu screen time berlebihan, kecanduan media sosial, dan kelebihan kognitif. Akibatnya, individu mungkin mengalami memori yang terdistorsi atau gangguan memori jangka pendek, ketidakmampuan untuk fokus, rentang perhatian yang berkurang secara signifikan, impulsif, dan preferensi untuk kepuasan instan. Psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Kalimantan Timur, Annisya Muthmainnah, menambahkan bahwa konten yang menampilkan kehidupan sempurna di media sosial dapat memicu perbandingan sosial, berujung pada rasa rendah diri, pandangan negatif terhadap diri sendiri, dan penurunan harga diri. Bahkan, studi pada 2019 menunjukkan bahwa anak muda yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial memiliki risiko 25% lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan.

Implikasi jangka panjang dari fenomena "brain rot" sangat meresahkan. Penurunan kemampuan berpikir kritis, sebagaimana disoroti oleh Jala Hoaks Jakarta, membuat individu rentan terhadap misinformasi dan hoax, serta membentuk echo chamber atau bias konfirmasi. Otak yang terbiasa menerima stimulasi cepat juga cenderung "malas" untuk memproses informasi mendalam dan terlibat dalam pemikiran reflektif. Untuk mengatasi hal ini, para ahli menyarankan pembatasan waktu penggunaan media sosial, memilih konten berkualitas, serta melatih fokus melalui aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang, seperti membaca buku atau meditasi. Intervensi ini krusial untuk menjaga kesehatan kognitif dan mental di tengah derasnya arus informasi digital.