Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kejang Otak Gara-gara Sudoku: Misteri Medis Pria 25 Tahun yang Mengejutkan

2026-01-19 | 18:25 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T11:25:15Z
Ruang Iklan

Kejang Otak Gara-gara Sudoku: Misteri Medis Pria 25 Tahun yang Mengejutkan

Seorang pria Jerman berusia 25 tahun mengalami kejang klonik pada lengan kirinya setiap kali ia mencoba memecahkan teka-teki Sudoku, sebuah kondisi medis misterius yang dikaitkan dengan kerusakan otak akibat kekurangan oksigen yang dialaminya dalam kecelakaan ski pada November 2008. Fenomena langka ini, yang didiagnosis sebagai epilepsi refleks, menarik perhatian para ahli saraf di Universitas Munich, yang melaporkan kasus tersebut sekitar Oktober 2015. Kejang tersebut berhenti segera setelah pasien berhenti memainkan Sudoku.

Pasien, seorang mahasiswa pendidikan jasmani, terkubur longsoran salju selama 15 menit saat liburan ski pada tahun 2008, menyebabkan otaknya mengalami kekurangan oksigen atau hipoksia. Setelah insiden tersebut, ia awalnya mengalami kontraksi otot kejut pada mulutnya saat berbicara dan pada kakinya saat berjalan. Beberapa minggu kemudian, saat berada di fasilitas rehabilitasi dan mencari aktivitas untuk mengisi waktu, ia mulai bermain Sudoku. Pada saat itulah ia mengalami kejang klonik—gerakan menyentak berulang—di lengan kirinya yang tidak terluka.

Tim dokter di Universitas Munich, termasuk ahli saraf Dr. Berend Feddersen, melakukan pemindaian otak menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) saat pasien memecahkan Sudoku. Hasil pemindaian menunjukkan tingkat aktivitas yang sangat tinggi di korteks parietal sentral kanan, area otak yang bertanggung jawab untuk pemrosesan informasi visual-spasial. Pencitraan tensor difusi (DTI) lebih lanjut mengungkapkan hilangnya serat penghambat di bagian otak yang sama, yang kemungkinan besar disebabkan oleh hipoksia yang dialami pria tersebut. Dr. Feddersen menghipotesiskan bahwa metode unik pasien dalam memvisualisasikan solusi Sudoku secara "tiga dimensi" menjadi pemicu kejang, karena aktivitas visualisasi spasial ini mengaktifkan bagian otaknya yang rusak.

Kasus ini menyoroti epilepsi refleks, suatu bentuk epilepsi yang ditandai oleh kejang yang dipicu oleh stimulus eksternal tertentu, dibandingkan dengan kejang spontan yang lebih umum. Sementara bentuk paling umum adalah epilepsi fotosensitif, yang dipicu oleh lampu berkedip, telah dilaporkan juga kasus kejang yang dipicu oleh membaca, menyentuh, mandi air hangat, atau bermain game. Sekitar 3,8% orang akan mengembangkan epilepsi seumur hidup, dengan sekitar 4% hingga 7% dari pasien tersebut mengalami kejang refleks. Fenomena ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana mekanisme pemicu spesifik dapat mengungkap dinamika epilepsi fokal dan jaringan epileptogenik di otak.

Meskipun kejang akibat Sudoku adalah kasus yang pertama kali diketahui, epilepsi refleks yang dipicu oleh tugas visual-motorik, seperti bermain catur atau kartu, dikenal sebagai "praxis induction". Pasien tersebut kemudian diberikan obat anti-epilepsi dan dilaporkan bebas kejang selama lebih dari lima tahun sejak 2015, namun ia harus berhenti bermain Sudoku. Kasus ini menggarisbawahi kompleksitas interaksi antara trauma otak, fungsi kognitif, dan manifestasi neurologis, menawarkan pemahaman lebih lanjut bagi para peneliti dan klinisi dalam merancang strategi pengelolaan dan pengobatan yang dipersonalisasi untuk kondisi neurologis yang langka dan menantang. Pasien juga melaporkan bahwa tugas lain yang melibatkan garis horizontal dan vertikal, perhitungan, fokus pada satu titik, dan gerakan jari, seperti teka-teki silang atau lembar kerja Excel, juga dapat memicu kejangnya.