:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462108/original/040810200_1767506068-000_33742BH.jpg)
Pada 26 Januari 2015, Presiden Venezuela Nicolás Maduro secara terbuka menuduh Wakil Presiden Amerika Serikat saat itu, Joe Biden, telah melakukan intervensi untuk "merampok" gelar Miss Universe dari perwakilan Venezuela, Migbelis Castellanos. Tuduhan ini muncul setelah Miss Universe 2014, yang diselenggarakan pada 25 Januari 2015 di Doral, Florida, mengumumkan Paulina Vega dari Kolombia sebagai pemenang, sementara Castellanos hanya mencapai posisi sepuluh besar. Maduro, dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, mengklaim bahwa Biden telah menelepon juri Miss Universe untuk memastikan Venezuela tidak memenangkan mahkota tersebut, menyiratkan bahwa intervensi politik tingkat tinggi dari Washington ditujukan untuk menekan negaranya.
Insiden ini bukan sekadar tanggapan spontan terhadap hasil kontes kecantikan. Tuduhan Maduro merupakan perpanjangan dari retorika anti-Amerika yang telah lama menjadi ciri khas pemerintahannya dan pendahulunya, Hugo Chávez, yang secara konsisten menggambarkan Amerika Serikat sebagai kekuatan imperialis yang berupaya merusak kedaulatan Venezuela. Pada periode 2014-2015, hubungan antara Caracas dan Washington sangat tegang, ditandai oleh sanksi yang diberlakukan AS terhadap pejabat Venezuela dan tuduhan Venezuela mengenai upaya destabilisasi yang didukung AS. Dalam konteks ini, Maduro memanfaatkan panggung Miss Universe untuk memperkuat narasi bahwa Venezuela adalah korban agresi dan manipulasi eksternal, bahkan dalam isu-isu budaya yang sangat dihargai oleh publik Venezuela.
Miss Universe memegang tempat yang sangat signifikan dalam budaya Venezuela, jauh melampaui sekadar kontes kecantikan. Venezuela adalah negara dengan jumlah gelar Miss Universe terbanyak kedua setelah Amerika Serikat, dengan tujuh kemenangan hingga saat itu, dan kontes tersebut dianggap sebagai simbol kebanggaan nasional serta salah satu dari sedikit bidang di mana negara tersebut secara konsisten meraih kesuksesan global. Kemenangan di Miss Universe sering kali diperlakukan seperti kemenangan olahraga besar, dengan euforia publik yang meluas. Oleh karena itu, tuduhan "perampokan" gelar tersebut memiliki resonansi emosional yang kuat di kalangan masyarakat Venezuela, menguatkan persepsi bahwa musuh-musuh negara, terutama Amerika Serikat, tidak akan segan untuk merampas apapun yang menjadi kebanggaan nasional.
Dari sudut pandang analisis politik, pernyataan Maduro dapat dipandang sebagai taktik strategis untuk mengalihkan perhatian dari masalah domestik yang semakin memburuk di Venezuela, termasuk krisis ekonomi yang parah, inflasi tinggi, dan kekurangan barang kebutuhan pokok. Dengan menciptakan musuh eksternal dan menyalahkan "intervensi asing" atas ketidakberuntungan negara, Maduro berupaya membangkitkan sentimen nasionalisme dan mengkonsolidasikan basis pendukungnya. Tuduhan tersebut juga berfungsi untuk mendiskreditkan institusi internasional dan media yang mungkin melaporkan masalah internal Venezuela, dengan menyajikannya sebagai bagian dari konspirasi yang lebih luas yang dipimpin oleh AS. Meskipun tidak ada bukti kredibel yang pernah disajikan untuk mendukung klaim Maduro tentang intervensi Joe Biden dalam hasil Miss Universe, insiden tersebut tetap menjadi contoh bagaimana isu-isu budaya dapat dimanipulasi untuk tujuan politik dalam konteks ketegangan geopolitik yang mendalam.