:strip_icc()/kly-media-production/medias/3147908/original/079804100_1591692643-2960712.jpg)
Remaja laki-laki semakin sering memilih "ghosting"—mengakhiri komunikasi secara tiba-tiba tanpa penjelasan—dalam hubungan pertemanan maupun romantis, sebuah fenomena yang berakar pada kompleksitas emosi, tekanan sosial, dan interaksi digital. Studi Wu, K., & Bamishigbin, menunjukkan bahwa antara 51-65% anak muda pernah melakukan ghosting, sementara 41-72% pernah menjadi korban ghosting dalam hubungan romantis. Fenomena ini, yang sering dianggap sebagai perilaku tidak berperasaan, sesungguhnya merefleksikan konflik emosional pada pelaku, termasuk rasa bersalah, kelegaan, dan kecemasan sosial.
Tekanan sosial yang mengharuskan remaja laki-laki tampil kuat dan menekan emosi berperan besar. Mereka cenderung menghindari percakapan sulit atau konfrontasi, menemukan jalan pintas dalam menghilang sebagai cara "menghadapi" konflik atau perasaan bersalah. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Idei Khurnia Swasti, menjelaskan bahwa ghosting adalah perilaku menghindar yang sering terjadi pada masa pendekatan hingga pacaran, dan pelaku cenderung menarik diri dari komunikasi, sulit ditemui, tidak membalas pesan, atau memiliki banyak alasan untuk menghindari pembicaraan serius. Ia menambahkan bahwa pemicu ghosting adalah adanya perasaan tidak nyaman dalam relasi atau ketidakcocokan yang tidak dapat dikomunikasikan secara terbuka.
Sejarah pola komunikasi remaja menunjukkan perubahan signifikan seiring perkembangan teknologi informasi, yang meniadakan pertemuan tatap muka dan mengubah cara berpikir serta perilaku manusia. Era digital, dengan kemudahan interaksi melalui media sosial dan aplikasi pesan instan, turut memperparah fenomena ghosting. Meskipun memudahkan konektivitas, platform digital juga mempermudah seseorang untuk memutuskan komunikasi, cukup dengan memblokir nomor atau menghapus akun media sosial. Penelitian oleh Brown dan Green (2020) menyoroti bahwa generasi muda, khususnya Gen Z, sangat terpengaruh oleh ketidakpastian dalam komunikasi digital.
Motivasi di balik ghosting pada remaja laki-laki mencakup ketidaksiapan untuk berkomitmen, kurangnya minat terhadap hubungan, kebosanan, hingga adanya pasangan lain. Selain itu, beberapa laki-laki mungkin merasa buntu atau menghadapi banyak masalah, sehingga memilih ghosting untuk menghindari kerumitan. Ada pula kecenderungan menghindari konfrontasi karena takut menyakiti pihak lain atau memang tidak ingin terlibat dalam diskusi serius terkait masalah hubungan. Mereka yang memiliki tipe kepribadian menghindar, seringkali karena pengalaman penolakan orang tua, juga cenderung enggan membentuk keterikatan dan menggunakan metode tidak langsung untuk mengakhiri hubungan.
Implikasi ghosting meluas ke berbagai aspek kesehatan mental baik bagi korban maupun pelaku. Bagi korban, ghosting dapat menyebabkan kebingungan, penolakan, penurunan harga diri, kesulitan mempercayai hubungan di masa depan, serta perasaan cemas dan depresi. Studi dari University of Milano-Bicocca menunjukkan bahwa ghosting berdampak lebih buruk dibanding penolakan langsung, meningkatkan rasa bingung dan stres berkepanjangan akibat ketiadaan penutupan. Fenomena ini menciptakan siklus ketidakmampuan menghadapi emosi, ghosting, luka psikologis, dan ketidakpercayaan, yang pada akhirnya membentuk pola hubungan yang tidak sehat.
Direktur Bina Ketahanan Remaja Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Edi Setiawan, menyatakan bahwa ghosting bahkan menjadi salah satu pemicu perceraian, menyumbang 8,4% kasus di Indonesia sepanjang tahun 2024. Tingginya angka perceraian ini juga mendorong banyak remaja menunda pernikahan hingga mereka benar-benar siap secara mental, fisik, dan finansial.
Masa depan membutuhkan pendekatan multidisipliner untuk memahami ghosting dan mendorong hubungan yang lebih sehat. Edukasi tentang dampak psikologis ghosting serta pengembangan keterampilan komunikasi asertif dan empati adalah krusial. Pendekatan ini dapat membantu remaja mengenali bahwa ghosting bukan tanda kekuatan, melainkan sinyal stres emosional yang belum terkelola. Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan profesional kesehatan mental, remaja laki-laki dapat belajar menghadapi konflik secara dewasa sebagai keterampilan hidup yang penting. Ini juga sejalan dengan urgensi penanganan kesehatan mental di Indonesia, di mana satu dari tiga remaja memiliki masalah kesehatan mental, menurut Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022.