:strip_icc()/kly-media-production/medias/5089854/original/030860100_1736571929-1736568981058_kepribadian-esfp-pria.jpg)
Fenomena kepercayaan terhadap kepribadian berdasarkan bulan kelahiran, khususnya bagi pria yang lahir di bulan Januari, seringkali memunculkan narasi tentang karakteristik unik dan kecocokan dalam hubungan asmara. Namun, tinjauan mendalam dari sudut pandang psikologi ilmiah menegaskan bahwa klaim semacam itu umumnya tidak memiliki dasar empiris yang kuat. Meskipun demikian, beberapa studi mengindikasikan adanya korelasi menarik antara musim kelahiran dan kecenderungan temperamen atau risiko gangguan neuropsikiatri tertentu, meski bukan sebagai penentu takdir mutlak.
Secara tradisional, pria yang lahir di bulan Januari (berzodiak Capricorn atau Aquarius) sering dikaitkan dengan sifat ambisius, mandiri, realistis, setia, altruistik, dan memiliki selera humor tinggi, meskipun kadang dianggap kurang romantis atau pendiam. Kepercayaan ini, yang populer dalam astrologi, berpendapat bahwa letak matahari dan rasi bintang saat kelahiran dapat membentuk karakteristik individu. Namun, dari perspektif psikologi, kepribadian seseorang adalah hasil dari proses perkembangan yang kompleks, dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, pengalaman hidup, serta pola asuh, bukan semata-mata tanggal lahir. Psikolog tidak mendukung gagasan bahwa tanda astrologi berkaitan erat dengan kepribadian seseorang karena kurangnya bukti ilmiah empiris.
Studi ilmiah tentang pengaruh musim kelahiran, bukan bulan spesifik atau zodiak, menunjukkan beberapa korelasi yang bersifat kecenderungan, bukan deterministik. Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Affective Disorders, dan dikutip oleh Psych2go, menemukan hubungan signifikan antara musim kelahiran dengan kepribadian dan gangguan neuropsikiatri. Misalnya, individu yang lahir di musim dingin, termasuk Januari, dilaporkan lebih kecil kemungkinannya memiliki sifat mudah marah dibandingkan mereka yang lahir di bulan lain. Namun, mereka juga disebut lebih mudah mengalami depresi dibandingkan yang lahir di musim gugur. Penelitian lain menunjukkan bahwa mereka yang lahir di musim gugur cenderung memiliki skor tinggi pada sifat "disorderliness" (mudah kacau atau impulsif). Penting untuk dicatat, temuan ini hanya menunjukkan hubungan, bukan bukti ilmiah kepribadian secara keseluruhan, sebagaimana ditegaskan oleh Howard L. Forman, seorang psikiater di Albert Einstein College of Medicine, yang menyatakan bahwa bulan kelahiran hanya "menyiapkan Anda pada kemungkinan memiliki satu jenis suasana hati atau yang lainnya".
Faktor lingkungan selama kehamilan, seperti nutrisi ibu (protein, vitamin D, vitamin C) dan kondisi kesehatan mental ibu seperti Seasonal Affective Disorder (SAD) selama musim dingin, dapat memengaruhi perkembangan otak janin dan struktur otak yang berhubungan dengan regulasi emosi. Ini menunjukkan adanya basis biologis dan lingkungan yang lebih kredibel dalam menjelaskan beberapa kecenderungan temperamen atau suasana hati berdasarkan musim kelahiran, berbeda dengan klaim astrologi murni.
Ketertarikan masyarakat terhadap zodiak dan kepribadiannya sering dijelaskan melalui fenomena psikologis seperti Barnum effect atau Forer effect, yaitu kecenderungan individu untuk menganggap pernyataan umum sebagai deskripsi yang sangat akurat tentang dirinya. Selain itu, keyakinan terhadap zodiak dapat memberikan rasa pengertian, kepastian, dan bahkan berfungsi sebagai mekanisme koping terhadap stres atau ketidakpastian hidup. Namun, ketergantungan berlebihan pada stereotip zodiak dapat menurunkan objektivitas dalam menilai seseorang dan berpotensi merugikan hubungan interpersonal.
Implikasi bagi masa depan hubungan asmara adalah pentingnya menempatkan penilaian kepribadian pada dasar yang lebih kokoh daripada astrologi. Penelitian ilmiah modern menekankan bahwa kecocokan pasangan sejatinya dibentuk oleh komunikasi, pemahaman bersama, nilai-nilai, dan pengalaman hidup, bukan sekadar tanggal lahir. Dr. David Voas dari The University of Manchester bahkan menegaskan bahwa "tanda cinta" zodiak tidak berdampak pada peluang seseorang untuk menikah atau tidak, berdasarkan studinya terhadap jutaan pasangan menikah. Stereotip tentang pria kelahiran Januari yang "cocok jadi pasangan" karena sifat tertentu, tanpa didukung bukti ilmiah, berisiko mengarahkan individu pada bias konfirmasi dan keputusan yang tidak berdasarkan realitas kompleks kepribadian manusia. Dengan demikian, meskipun menarik sebagai hiburan atau refleksi diri non-formal, astrologi dan klaim kepribadian berdasarkan bulan lahir harus disikapi dengan kritis dan tidak dijadikan satu-satunya acuan dalam membangun hubungan yang sehat dan berkelanjutan.