
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, baru-baru ini memperingatkan masyarakat mengenai bahaya signifikan obesitas sebagai pemicu utama berbagai penyakit tidak menular (PTM) yang mematikan, seperti diabetes melitus dan hipertensi, yang dapat mempersingkat harapan hidup. Peringatan ini disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada 19 Januari 2026, di mana Menkes Budi Gunadi Sadikin secara tegas menyatakan bahwa kondisi tubuh gemuk bukanlah persoalan sepele.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk dewasa berusia di atas 18 tahun mencapai 23,4%, angka yang hampir setengah dari prevalensi status gizi normal di Indonesia. Prevalensi ini lebih tinggi pada perempuan, yakni 31,2%, dibandingkan laki-laki yang hanya 15,7% pada tahun 2023. Selain itu, profesi seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI, Polri, serta karyawan BUMN dan BUMD tercatat memiliki prevalensi obesitas tertinggi, dengan gabungan kelebihan berat badan dan obesitas mencapai 51,4%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa gaya hidup modern dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor pendorong utama.
Tren peningkatan obesitas juga mengancam kelompok usia muda. Data SKI 2023 menunjukkan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak usia 5-12 tahun mencapai 19,7%, dan 16% pada anak usia 13-15 tahun, angka yang tidak jauh berbeda dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Federasi Obesitas Dunia bahkan memperkirakan Indonesia menempati peringkat keempat global dalam jumlah penderita obesitas terbanyak, setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat, dengan proyeksi 206 juta anak dan remaja berusia 5-19 tahun hidup dengan obesitas pada 2025.
Dampak obesitas meluas pada peningkatan prevalensi PTM. Untuk diabetes melitus, prevalensi di Indonesia meningkat menjadi 11,7% pada 2023 untuk penduduk usia di atas 15 tahun, dari 10,9% pada 2018. Indonesia kini berada di posisi kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes tertinggi, diperkirakan mencapai 20,4 juta jiwa pada 2024 dan diproyeksikan melonjak menjadi 28,6 juta pada 2050 jika tidak ada intervensi serius. Sementara itu, prevalensi hipertensi pada penduduk usia di atas 18 tahun tercatat 30,8% pada 2023, sedikit menurun dari 34,1% pada 2018. Namun, tingginya angka hipertensi yang tidak terdiagnosis dan tidak terkontrol menjadi perhatian serius. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tensimeter sebesar 10,7% pada kelompok usia 18–24 tahun dan 17,4% pada kelompok 25–34 tahun, menunjukkan ancaman "silent killer" ini juga mengintai generasi muda. Menkes Budi Gunadi Sadikin bahkan mengemukakan bahwa rendahnya angka temuan diabetes saat ini diduga dipengaruhi oleh minimnya skrining kesehatan.
Penyakit tidak menular ini bukan hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga membebani ekonomi nasional. PTM menyumbang 70% dari total beban penyakit di Indonesia. Biaya penanganan PTM yang bersifat katastropik menjadi salah satu proporsi pembiayaan tertinggi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), menguras anggaran kesehatan untuk upaya kuratif dan rehabilitatif ketimbang promotif dan preventif. Secara global, dampak ekonomi akibat obesitas mencapai US$2 triliun per tahun pada 2014, setara dengan dampak merokok dan konflik global, mencakup biaya kesehatan dan hilangnya produktivitas. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa obesitas dapat memicu penyakit darah tinggi dan gula, yang jika dibiarkan selama lima tahun dapat menyebabkan stroke dan jantung, dan mengakibatkan kematian sebelum usia 74 tahun. Stroke dan penyakit jantung menjadi penyebab kematian nomor satu dan dua di Indonesia.
Menyikapi urgensi ini, Kementerian Kesehatan telah mengintensifkan program pencegahan dan pengendalian PTM melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program CKG, yang diluncurkan pada 10 Februari 2025 sebagai bagian dari Quick Win Presiden Prabowo Subianto, menargetkan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui deteksi dini. Hingga awal Januari 2026, lebih dari 70 juta orang telah memanfaatkan layanan CKG, dengan target mencapai 46% dari total penduduk Indonesia pada tahun 2026. Data CKG per 12 Juni 2025 menunjukkan bahwa 1 dari 5 peserta mengalami hipertensi dan 5,9% menderita diabetes melitus, serta 50% perempuan dan 25% laki-laki mengalami obesitas sentral berdasarkan pengukuran lingkar pinggang (>90 cm untuk laki-laki dan >80 cm untuk perempuan).
Menteri Kesehatan menekankan pentingnya perubahan persepsi dan budaya masyarakat dalam mengonsumsi gula berlebih serta mendorong gaya hidup sehat. Kemenkes berencana mengeluarkan regulasi bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk membatasi kadar maksimal gula, garam, dan lemak dalam produk pangan. Program CKG juga menjadi fondasi penting dalam upaya deteksi dini, yang mencakup pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan faktor risiko obesitas. Langkah-langkah ini krusial untuk menekan beban penyakit dan biaya kesehatan jangka panjang, guna mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 dengan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.