:strip_icc()/kly-media-production/medias/4968654/original/002188100_1728902633-WhatsApp_Image_2024-10-10_at_16.15.17__1_.jpeg)
Pada 7 Januari 2026, Oxford English Dictionary (OED) secara resmi memasukkan delapan kosakata baru yang berasal dari bahasa Korea, termasuk "ramyeon", mengukuhkan integrasi budaya Korea yang semakin dalam ke dalam leksikon global bahasa Inggris. Penambahan ini menandai tahun kedua berturut-turut OED memperkaya bank datanya dengan istilah-istilah Korea, sebuah refleksi langsung dari meluasnya jangkauan Hallyu, atau Gelombang Korea, yang kini merambah ke ranah linguistik sehari-hari.
Kosakata yang baru ditambahkan meliputi "ramyeon" (mi instan ala Korea), "haenyeo" (penyelam wanita tradisional dari Jeju), "sunbae" (senior dalam hubungan hierarkis), "bingsu" (es serut dengan topping manis), "jjimjilbang" (pemandian umum Korea dengan fasilitas relaksasi), "ajumma" (wanita paruh baya), "Korean barbecue" (daging panggang di atas meja), dan "officetel" (gedung serbaguna kantor-hunian). Penambahan ini menunjukkan pergeseran signifikan, di mana istilah-istilah yang sebelumnya hanya dikenal dalam konteks Korea kini menjadi bagian tak terpisahkan dari percakapan berbahasa Inggris di seluruh dunia.
Fenomena ini melanjutkan tren yang terlihat pada September 2021, ketika 26 kata Korea, termasuk "hallyu" itu sendiri, "mukbang", dan "K-drama", ditambahkan ke OED. Jieun Kiaer, seorang profesor linguistik Korea di University of Oxford dan konsultan bahasa Korea untuk OED, menegaskan bahwa masuknya sebuah kata ke dalam kamus ini memiliki makna jangka panjang yang signifikan. Ini membuktikan bahwa bahasa Korea meninggalkan jejak permanen dalam bahasa Inggris sebagai bahasa global. Menurutnya, persyaratan OED untuk mencantumkan sebuah kata didasarkan pada bukti tekstual yang jelas mengenai penggunaan dan diskusi kata tersebut secara reguler dalam konteks berbahasa Inggris.
Di sektor kuliner, masuknya "ramyeon" secara spesifik menyoroti popularitas makanan Korea yang semakin meluas. Ramyeon, sebagai mi instan khas Korea, telah menjadi fenomena global yang melampaui batas geografis. Data Google Trends menunjukkan bahwa minat pencarian untuk "Korean instant noodles" mencapai puncaknya pada Desember 2025. Ekspor produk pertanian, perikanan, dan makanan Korea mencapai rekor tertinggi USD 12 miliar pada tahun 2022, naik 5,3% dari tahun sebelumnya, dengan ramyeon dan tteokbokki menjadi sangat populer di luar negeri. Survei Konsumen Makanan Korea di Luar Negeri tahun 2025 yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Korea Selatan menemukan bahwa ayam goreng Korea menjadi hidangan Korea paling populer di luar negeri, disukai oleh 14% responden, diikuti oleh kimchi (9,5%), bibimbap (8,2%), dan bulgogi (5,6%). Angka tersebut didasarkan pada survei terhadap 11.000 konsumen di 22 kota besar di seluruh dunia. Lebih dari 65% responden menyatakan minat mereka terhadap masakan Korea dipengaruhi oleh eksposur terhadap konten K-Pop dan K-Drama.
Pertumbuhan restoran Korea di Amerika Serikat juga menjadi indikator jelas. Firma riset pasar Circana melaporkan bahwa jumlah lokasi restoran Korea meningkat 10% dalam setahun terakhir saja per Juli 2025. Tim Fires, Presiden Global Foodservice di Circana, menyatakan, "Profil rasa pedas dan manis sangat beresonansi," menambahkan bahwa, "Sekarang Anda bisa membeli corn dog Korea di Costco. Saat itulah Anda tahu itu sudah menjadi arus utama."
Kiaer juga menjelaskan bahwa beberapa kata, seperti "haenyeo", sebelumnya sulit untuk dimasukkan karena kurangnya penelitian dan referensi berbahasa Inggris. Namun, keberhasilan drama dan dokumenter internasional yang menampilkan budaya penyelam wanita Jeju baru-baru ini telah meningkatkan kesadaran global, sehingga memuluskan jalan bagi inklusinya. Pola serupa terlihat dengan "dalgona" yang masuk ke OED setelah fenomena global serial "Squid Game" pada tahun 2021.
Integrasi linguistik ini mencerminkan kekuatan budaya pop Korea dalam membentuk bahasa dan kebiasaan global. Bahasa Korea kini menjadi bahasa ketujuh paling populer untuk dipelajari di aplikasi Duolingo, naik dua peringkat dari tahun sebelumnya menurut laporan "Year in Language" 2020. Peningkatan ketertarikan ini tidak hanya terbatas pada hiburan, tetapi juga membuka peluang baru dalam karier dan pendidikan global. Konsultan bahasa seperti Jieun Kiaer memandang bahwa dengan semakin banyaknya publikasi dan riset berbahasa Inggris tentang budaya Korea, pengaruh Hallyu akan terus berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan dinamis dari pergeseran budaya global dan kekuatan diplomasi lunak suatu negara.