
Profesor dr. Tri Wibawa, PhD, SpMK(K), seorang pakar mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), memperingatkan bahwa varian virus influenza A H3N2 subclade K, yang popular disebut 'super flu', berpotensi fatal bagi kelompok rentan, meskipun secara ilmiah belum ada bukti menunjukkan keganasan lebih tinggi dibandingkan virus influenza H3N2 yang beredar sebelumnya. Penegasan ini muncul di tengah lonjakan kasus influenza yang tercatat di beberapa negara, termasuk Indonesia, pada akhir tahun 2025 dan awal 2026.
Varian influenza A H3N2 subclade K ini menarik perhatian karena karakteristik penularannya yang cepat dan menyebabkan gejala yang cenderung lebih berat dibandingkan flu musiman biasa, meliputi demam tinggi, batuk dan pilek yang menetap, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, serta kelelahan ekstrem. Meski demikian, Prof. Tri Wibawa mengklarifikasi bahwa istilah 'super flu' bukan merupakan terminologi medis resmi, dan secara genetik, subclade K ini masih memiliki kekerabatan yang dekat dengan virus flu musiman. Para ahli belum menemukan indikasi bahwa varian ini memiliki kemampuan khusus untuk menghindari kekebalan tubuh yang telah terbentuk dari infeksi influenza sebelumnya atau melalui vaksinasi.
Kelompok yang paling berisiko mengalami dampak fatal dari infeksi influenza, termasuk varian subclade K, adalah lansia, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan penyakit komorbid seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung. Pada kelompok ini, influenza dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia atau infeksi sekunder lainnya, yang dapat berujung pada rawat inap dan bahkan kematian.
Hingga akhir Desember 2025, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan total 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang terdeteksi di delapan provinsi. Provinsi Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat mencatat jumlah kasus terbanyak. Sebuah insiden kematian terkait subclade K juga dilaporkan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Pasien tersebut diketahui memiliki komorbiditas serius, termasuk stroke, gagal jantung, dan infeksi ginjal, yang memperparah kondisi klinisnya. Kasus subclade K ini terdeteksi pertama kali di Indonesia melalui pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) sejak Agustus 2025.
Peningkatan kewaspadaan terhadap virus influenza adalah hal yang krusial, mengingat sifat alami virus influenza yang terus bermutasi melalui mekanisme antigenic drift. Mutasi genetik ini memungkinkan virus untuk mengubah struktur antigennya dan berpotensi menghindari respons imun yang sudah ada. Namun, Prof. Tri Wibawa menekankan bahwa perubahan yang cepat pada virus dan munculnya varian baru yang berbeda secara signifikan berpotensi mempengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia menjadi kurang efektif melawan virus, serta mempercepat penularannya.
Dalam menghadapi potensi ancaman ini, langkah-langkah pencegahan dasar menjadi sangat penting. Prof. Tri Wibawa merekomendasikan etika batuk dan bersin yang benar, penggunaan masker bagi individu bergejala, rajin mencuci tangan, beristirahat yang cukup, serta memastikan ventilasi ruangan yang baik. Selain itu, vaksinasi influenza tahunan tetap dianjurkan, terutama bagi kelompok rentan, karena meskipun vaksin yang ada mungkin tidak sepenuhnya cocok dengan subclade K, penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi masih efektif dalam mengurangi keparahan gejala dan risiko rawat inap. Vaksinasi influenza yang dilakukan secara rutin dapat memberikan perlindungan parsial dan meminimalkan dampak buruk dari infeksi.
Secara historis, Indonesia memiliki pengalaman panjang dengan wabah influenza yang parah. Pandemi Flu Spanyol pada tahun 1918-1920, yang disebabkan oleh virus H1N1, diperkirakan menewaskan sekitar 1,5 juta orang di Indonesia, dengan perkiraan terbaru mencapai 4,26 hingga 4,37 juta jiwa di Pulau Jawa saja. Wabah tersebut menyebar cepat melalui jalur pelabuhan dari Singapura dan Hong Kong, menunjukkan kerentanan geografis Indonesia terhadap penyebaran virus pernapasan global. Latar belakang sejarah ini menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan dan respons kesehatan masyarakat yang proaktif untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Menkes Budi Gunadi Sadikin juga sempat menyatakan bahwa virus super flu bukanlah virus baru seperti COVID-19, melainkan varian baru dari virus influenza A yang sudah lama dikenal dunia medis.