
Penelitian terbaru menunjukkan penipisan lapisan sel ganglion retina, sel saraf yang melapisi bagian belakang mata, berpotensi menjadi salah satu indikator awal risiko demensia pada individu yang belum menunjukkan gejala kognitif. Temuan ini, yang didukung oleh beberapa studi global, membuka jalan bagi metode skrining non-invasif yang lebih cepat dan terjangkau untuk mengidentifikasi individu berisiko tinggi jauh sebelum onset penyakit yang dapat merusak kualitas hidup.
Para ilmuwan dari University of Cambridge, dalam sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Alzheimer's Disease, mengamati bahwa individu dengan penipisan lapisan sel ganglion retina dan lapisan pleksiformis bagian dalam (GCIPL) yang lebih tipis memiliki risiko empat kali lipat lebih tinggi untuk mengalami gangguan kognitif ringan (MCI) atau demensia dalam 10 tahun mendatang, dibandingkan dengan mereka yang memiliki ketebalan lapisan yang normal. Studi lain yang disajikan pada Alzheimer's Association International Conference menemukan bahwa penipisan saraf optik, khususnya lapisan serat saraf retina (RNFL), berkorelasi dengan atrofi otak dan penurunan kognitif pada pasien dengan penyakit Alzheimer. Ini menunjukkan adanya hubungan patologis antara mata dan otak yang memungkinkan deteksi dini melalui pemeriksaan mata rutin.
Penipisan lapisan retina ini diyakini mencerminkan proses neurodegeneratif yang juga terjadi di otak. Profesor Sharon Fekrat, seorang ahli oftalmologi dari Duke Eye Center, menjelaskan bahwa retina secara histologis merupakan perpanjangan dari otak dan oleh karena itu dapat memberikan gambaran tentang apa yang terjadi di sistem saraf pusat. Perubahan pada retina, seperti hilangnya neuron dan perubahan pembuluh darah, dapat menjadi jendela untuk melihat kerusakan sel saraf di otak, termasuk penumpukan protein amiloid dan tau yang merupakan ciri khas penyakit Alzheimer. Penumpukan plak amiloid di otak dapat dimulai puluhan tahun sebelum gejala klinis demensia muncul. Dengan sekitar 55 juta orang di seluruh dunia hidup dengan demensia pada tahun 2020, dan angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 78 juta pada tahun 2030, kebutuhan akan alat diagnostik dini menjadi sangat mendesak.
Meskipun saat ini diagnosis demensia sering kali dilakukan berdasarkan evaluasi klinis dan tes kognitif setelah gejala muncul, metode ini seringkali terlambat untuk intervensi yang efektif. Biopsi otak invasif atau pemindaian PET scan yang mahal untuk mendeteksi amiloid dan tau telah digunakan, tetapi tidak praktis untuk skrining populasi luas. Potensi pemeriksaan mata, khususnya pencitraan tomografi koherensi optik (OCT), untuk mendeteksi penipisan retina menawarkan solusi yang tidak invasif, cepat, dan relatif murah. OCT adalah teknik pencitraan yang mampu mengukur ketebalan lapisan retina hingga mikron, memungkinkannya mendeteksi perubahan struktural yang sangat halus.
Pengembangan lebih lanjut dalam bidang ini dapat mengarah pada integrasi pemeriksaan OCT rutin ke dalam skrining kesehatan primer, memungkinkan identifikasi individu berisiko tinggi pada tahap pre-klinis. Deteksi dini ini dapat membuka peluang untuk intervensi farmakologis atau non-farmakologis, seperti perubahan gaya hidup, yang terbukti paling efektif jika diterapkan sebelum kerusakan otak menjadi luas. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi temuan ini pada kohort yang lebih besar dan beragam, serta untuk menentukan nilai prediktif spesifik dari berbagai parameter retina dalam memprediksi berbagai jenis demensia. Tujuan akhir adalah mengembangkan biomarker mata yang dapat diandalkan untuk skrining demensia, merevolusi pendekatan pencegahan dan pengelolaan penyakit neurodegeneratif yang menantang ini.