:strip_icc()/kly-media-production/medias/4157490/original/040761200_1663137277-WhatsApp_Image_2022-09-14_at_13.24.11.jpeg)
Pemerintah Kota Hanoi secara definitif mengusulkan penghentian layanan kereta penumpang pada ruas jalur yang melintasi kawasan populer "jalan kafe pinggir rel" mulai pertengahan 2026, langkah yang akan secara fundamental mengubah salah satu atraksi gaya hidup paling ikonik di ibu kota Vietnam ini. Usulan yang diajukan kepada Kementerian Konstruksi ini bertujuan untuk mengatasi masalah keamanan yang mengancam keselamatan publik dan operasional kereta api, dengan konsekuensi signifikan terhadap ribuan komuter harian dan mata pencarian puluhan pemilik kafe lokal.
Jalur kereta api sempit yang melintasi Distrik Hoan Kiem, khususnya area Kham Thien dan Phung Hung, telah bertransformasi dari sekadar infrastruktur transportasi menjadi fenomena pariwisata global. Kafe-kafe bermunculan di sepanjang lintasan aktif, menawarkan pengunjung pengalaman unik menyeruput kopi hanya beberapa sentimeter dari kereta yang melaju kencang. Daya tarik yang unik ini, didorong oleh popularitas di media sosial, telah menarik ratusan ribu wisatawan setiap tahunnya. Namun, daya tarik tersebut berbanding lurus dengan risiko bahaya. Pihak berwenang telah berulang kali menyatakan bahwa kafe-kafe tersebut beroperasi di dalam koridor keselamatan kereta api, area yang secara hukum dilarang untuk kegiatan komersial dan konstruksi. Insiden keselamatan terus meningkat, termasuk laporan viral pada Juni 2025 tentang nyaris terjadinya kecelakaan dan kecelakaan pada Oktober tahun yang sama, yang semakin menyoroti urgensi tindakan. Sebuah insiden pada Juni 2024 bahkan menyebabkan seorang pemilik kafe didenda 7,5 juta dong Vietnam (sekitar US$300) karena membiarkan seorang turis berpose di atas rel saat kereta mendekat.
Ini bukan kali pertama otoritas Hanoi berupaya menertibkan atau menutup kafe-kafe ini. Pada 2019, barikade didirikan dan kafe diperintahkan tutup menyusul kekhawatiran keselamatan. Pembatasan kemudian mereda setelah adanya penolakan dari pelaku usaha yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap pendapatan pariwisata. Setelah pandemi COVID-19 mereda, bisnis-bisnis ini kembali beroperasi pada Maret 2022, meskipun ada peringatan resmi. Pada September 2022, semua toko di sepanjang jalur kereta api di Distrik Hoan Kiem kembali diperintahkan tutup atas dasar pelanggaran keselamatan yang diidentifikasi oleh operator kereta api nasional. Wakil Ketua Komite Rakyat Distrik Hoan Kiem, Nguyen Anh Quan, menegaskan pada 2022 bahwa "Distrik Hoan Kiem memiliki pandangan yang sangat jelas, dan pendapatan pariwisata memang merupakan bagian yang signifikan dari anggaran kami, tetapi kami tidak menukar pendapatan dengan keselamatan rakyat." Dia menambahkan bahwa lebih dari 30 kafe di sepanjang jalur kereta api melanggar batas keselamatan rel.
Di bawah proposal terbaru, kereta penumpang dari selatan akan berakhir di Stasiun Hanoi, sementara layanan ke utara akan berhenti di Stasiun Gia Lam, yang terletak di ujung timur kota. Transfer penumpang antar stasiun ini akan diatur oleh otoritas konstruksi dan transportasi kota melalui jalan darat. Meskipun ditujukan untuk meningkatkan keselamatan, rencana ini menuai kekhawatiran dari otoritas kereta api dan ahli transportasi. Mereka memperingatkan bahwa pengalihan rute dapat menyebabkan penundaan perjalanan 30 hingga 40 menit, meningkatkan biaya bagi ribuan komuter harian, serta memberikan tekanan pada Stasiun Gia Lam yang saat ini belum memiliki kapasitas memadai untuk menangani volume penumpang tambahan. Keluarga, pelancong lansia, dan penumpang dengan bagasi berat akan sangat terpengaruh.
Bagi pemilik kafe, penutupan ini merupakan pukulan telak. Ha Hong Tu, seorang warga yang telah tinggal di jalan tersebut selama 42 tahun dan memiliki kafe, menyatakan bahwa banyak bisnis baru yang belum sempat menutup investasi mereka. Dinh Thu Loan, pemilik kafe lain, melaporkan pendapatan harian sekitar 1 juta dong Vietnam (sekitar US$43) dari penjualan minuman, yang akan hilang jika usahanya ditutup. Sementara itu, wisatawan seperti Maria Morikova dari Slovakia merasa aman karena staf kafe memberikan peringatan saat kereta mendekat. Namun, ada juga yang mendukung upaya pemerintah untuk mengendalikan kerumunan. Kieu Cong Anh, seorang pemandu wisata lokal dan direktur Hanoi Train Street Tour, mendukung langkah untuk mengurangi jumlah turis, mengingat turis sering kali tidak menyadari bahaya dan mengandalkan pemilik toko untuk meneriakkan peringatan.
Ke depan, Pemerintah Kota Hanoi berencana untuk mengembangkan ruang budaya, layanan, dan pariwisata di sekitar 131 lengkungan batu rel kereta api di bawah jalur layang dari Stasiun Hanoi ke Long Bien. Beberapa lengkungan ini telah diubah menjadi ruang seni dan kafe dalam beberapa tahun terakhir. Kota ini juga sedang berkonsultasi dengan Kedutaan Besar Prancis mengenai dukungan teknis untuk renovasi Jembatan Long Bien, dengan fokus pada keselamatan lalu lintas dan pelestarian warisan. Langkah ini mengindikasikan pergeseran menuju pendekatan pariwisata yang lebih terencana, aman, dan berakar pada budaya, yang bertujuan untuk mempertahankan daya tarik historis Hanoi tanpa mengorbankan keselamatan penduduk dan pengunjung.