
Seorang pegiat kebugaran asal Kanada, Will Tennyson, baru-baru ini mendokumentasikan pengalamannya menjalani diet "One Meal A Day" (OMAD) atau makan sekali sehari selama sepekan, yang menunjukkan penurunan berat badan sekitar 1,7 kilogram namun diiringi tingkat kesulitan yang ekstrem dan konsumsi kafein berlebihan untuk menahan lapar. Pola makan ini, yang membatasi asupan kalori harian dalam satu jendela waktu makan sekitar satu jam, menimbulkan perdebatan sengit di kalangan ahli kesehatan mengenai efektivitas dan risiko jangka panjangnya bagi metabolisme tubuh dan kesehatan umum.
Tennyson memulai dietnya dengan mengonsumsi semangkuk besar makanan dari Chipotle sebagai satu-satunya asupan kalori harian, sebuah pilihan yang meskipun memberikan kalori, belum tentu memenuhi kebutuhan nutrisi makro dan mikro esensial. Selama periode puasanya yang panjang, ia hanya diperbolehkan mengonsumsi air putih, kopi hitam, atau teh tanpa gula untuk menjaga hidrasi. Pengalamannya menunjukkan rasa lelah yang luar biasa, terutama antara pukul 11.00 siang hingga 17.45 sore, yang bahkan memaksanya untuk meninggalkan kelas latihannya. Rasa lapar yang terus-menerus juga memicu peningkatan konsumsi kafein sebagai mekanisme koping, dan memuncak pada dorongan untuk makan berlebihan saat waktu makan tiba sekitar pukul 18.00.
Diet OMAD merupakan salah satu bentuk puasa intermiten yang paling ekstrem, di mana individu berpuasa selama 23 jam dan hanya memiliki satu jam untuk mengonsumsi semua kebutuhan kalori harian. Konsepnya didasari pada upaya memanipulasi tubuh untuk membakar lemak sebagai sumber energi setelah cadangan glikogen habis. Namun, pakar kesehatan seperti dr. Farid Kurniawan, Sp.PD, PhD, seorang spesialis penyakit dalam dari Divisi Endokrin, Metabolik, dan Diabetes Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, secara tegas menolak pola diet ini. Ia menyebut OMAD sebagai metode yang "terlalu ekstrem" dan "berbahaya untuk metabolisme tubuh," merekomendasikan diet gizi seimbang sebagai alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan.
Risiko kesehatan yang terkait dengan diet OMAD mencakup potensi kekurangan gizi yang serius karena sulitnya memenuhi seluruh kebutuhan vitamin, mineral, protein, dan serat dalam satu kali makan. Kekurangan nutrisi ini dapat memicu anemia, hipoglikemia (gula darah rendah), terutama pada penderita diabetes tipe 2, serta gangguan mood dan tidur. Puasa berkepanjangan juga meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu akibat penumpukan cairan empedu dan dapat memperburuk kondisi lambung bagi penderita maag atau GERD karena peningkatan asam lambung.
Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2022 di National Library of Medicine bahkan menemukan bahwa makan satu kali sehari dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dari semua penyebab dan juga kematian akibat penyakit kardiovaskular. Penelitian lain mengindikasikan bahwa pola makan ini dapat menyebabkan penurunan massa otot tanpa lemak dan kepadatan tulang, berpotensi mengurangi fungsi otot dan meningkatkan risiko patah tulang jika dilakukan dalam jangka panjang. Meskipun beberapa klaim menyebutkan manfaat penurunan berat badan dan peningkatan metabolisme, para ahli menekankan bahwa bukti konklusif masih terbatas dan banyak penelitian dilakukan pada hewan. Tingkat putus sekolah dari diet OMAD juga tinggi, mencapai 65%, menunjukkan kesulitan dalam mempertahankannya secara konsisten.
Dalam konteks nutrisi, diet OMAD yang "aman" sekalipun harus mengedepankan makanan bernutrisi tinggi seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, susu, serta sumber protein dan lemak sehat seperti telur, ikan, dan daging rendah lemak. Makanan tinggi kalori yang rendah gizi seperti makanan cepat saji, mi instan, keripik, atau kue manis tidak disarankan. Lisa Andrews, seorang ahli gizi, menyarankan agar makanan disajikan dalam satu piring untuk mengontrol porsi dan menghindari konsumsi berlebihan.
Mengingat risiko yang melekat dan kurangnya bukti ilmiah yang kuat mengenai manfaat jangka panjangnya, pendekatan diet ekstrem seperti OMAD memerlukan konsultasi medis yang ketat. Kebutuhan nutrisi setiap individu berbeda, dan pola makan yang seimbang serta berkelanjutan, seperti yang direkomendasikan oleh dr. Farid Kurniawan, lebih cenderung menghasilkan hasil kesehatan yang optimal dan stabil dalam jangka panjang dibandingkan upaya penurunan berat badan instan yang berisiko.