Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rahasia Kue Dongkal Betawi Sempurna: Resep Mudah, Anti Gagal, Bikin Nagih!

2026-01-19 | 23:11 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T16:11:49Z
Ruang Iklan

Rahasia Kue Dongkal Betawi Sempurna: Resep Mudah, Anti Gagal, Bikin Nagih!

Jajanan tradisional Betawi, Kue Dongkal, yang kian terpinggirkan oleh gempuran kuliner modern, menemukan relevansinya kembali melalui resep sederhana yang menjamin keberhasilan pembuatan di dapur rumahan. Upaya melestarikan kudapan manis gurih berbahan dasar tepung beras dan gula aren ini menjadi krusial di tengah langkanya penjual autentik di Ibu Kota. Analisis mendalam menunjukkan bahwa presisi dalam pemilihan bahan dan teknik pengukusan menjadi kunci utama untuk menghasilkan tekstur lembut yang khas, sebuah warisan rasa yang telah ada sejak tahun 1940-an.

Kue dongkal, yang namanya berasal dari cara pengirisannya yang dicongkel dengan centong, memiliki akar kuat dalam tradisi masyarakat Betawi. Sejak diperkenalkan pada tahun 1940-an, kue ini kerap disajikan dalam berbagai acara hajatan seperti khitanan, syukuran pembangunan rumah, dan pernikahan, bahkan menjadi menu sarapan populer. Awalnya, dongkal dibuat dari tepung gaplek, namun sejak tahun 1970-an, tepung beras menjadi bahan utama yang dominan. Bentuknya yang kerucut menyerupai tumpeng, hasil dari pengukusan menggunakan cetakan bambu khusus yang disebut 'aseupan' atau loyang tumpeng, memberikan identitas visual yang khas.

Meskipun sering disamakan dengan kue putu, kue dongkal memiliki karakteristik yang membedakannya. Dongkal umumnya berwarna putih alami karena tidak menggunakan pewarna hijau dari daun suji seperti putu, dan teksturnya lebih kenyal serta padat. Proses pembuatannya yang "anti gagal" terletak pada beberapa tahapan krusial. Pemilihan kelapa parut segar, idealnya kelapa setengah tua yang telah dikupas kulit arinya, sangat memengaruhi rasa gurih dan tekstur kue. Proporsi ideal tepung beras dan kelapa parut adalah 1:1, seperti 500 gram tepung beras dengan 500 gram kelapa parut, untuk menjaga kelembutan dan cita rasa gurih.

Salah satu kunci utama keberhasilan adalah mengukus tepung beras terlebih dahulu selama kurang lebih 15 menit. Proses ini vital untuk membuat tepung lebih lembut dan mencegah kue mengeras setelah dingin. Setelah itu, adonan tepung beras yang sudah hangat dicampur dengan kelapa parut, garam, dan vanili. Penambahan air harus dilakukan secara bertahap, hanya dengan percikan sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan menggunakan tangan hingga adonan bertekstur butiran kasar, lembap, dan gembur, tanpa menggumpal atau menjadi padat. Tekanan saat memasukkan adonan ke dalam cetakan juga perlu diperhatikan; adonan tidak boleh ditekan terlalu padat agar tidak hancur setelah matang dan tetap memiliki tekstur yang tepat. Pengukusan adonan di dalam cetakan dengan lapisan gula merah sisir di antaranya selama 30-45 menit dengan api sedang hingga matang sempurna dan gula meleleh, serta penambahan daun pandan pada air kukusan untuk aroma harum, menyempurnakan proses pembuatan.

Secara simbolis, bentuk kerucut kue dongkal sering dikaitkan dengan tumpeng, merefleksikan nilai-nilai kebersamaan masyarakat Betawi dan dianggap sebagai simbol kearifan lokal yang patut dilestarikan. Namun, popularitas kue dongkal saat ini menghadapi tantangan serius. Makanan ini semakin sulit ditemukan di Jakarta, tergerus oleh jajanan kekinian. Survei informal menunjukkan bahwa hanya sedikit penjual tradisional yang tersisa di beberapa lokasi seperti Mampang Prapatan di Jakarta Selatan, Rawalumbu di Bekasi, dan Ciputat Timur di Tangerang Selatan, dengan harga berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi.

Menanggapi kemunduran ini, beberapa individu dan komunitas mulai berupaya melestarikan kue dongkal. Penjual seperti Anto di Mampang Prapatan memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan kue ini dan menarik perhatian generasi muda. Dongkal Rawalumbu di Bekasi juga menjadi destinasi populer yang menerima pesanan untuk berbagai acara. Festival kuliner Betawi dan inisiatif pendidikan melalui proyek sekolah juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali kue dongkal. Upaya ini menunjukkan bahwa dengan penekanan pada resep autentik dan teknik yang tepat, serta adaptasi penyajian untuk memudahkan pembuatan di rumah, kue dongkal dapat terus hidup sebagai bagian tak terpisahkan dari khazanah kuliner tradisional Indonesia.