:strip_icc()/kly-media-production/medias/1775420/original/065484100_1511160659-20171120-festival-jenang_pasar2-lumajang.jpg)
Pencapaian tekstur jenang yang lembut, tidak lengket, dan bebas aroma tepung menjadi krusial dalam mempertahankan keaslian kuliner tradisional Indonesia di tengah tuntutan kualitas konsumen modern. Tantangan ini, yang seringkali menghambat produsen rumahan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menyoroti pentingnya pemilihan bahan baku dan penguasaan teknik masak yang presisi untuk menghasilkan kudapan yang tidak hanya lezat namun juga beraroma bersih. Masalah jenang lengket dan bau tepung umumnya muncul akibat kurangnya pemahaman terhadap karakter tepung ketan dan santan saat dipanaskan dalam waktu lama, memerlukan proses pemasakan panjang agar pati matang sempurna.
Tekstur jenang yang kenyal dan elastis bergantung pada pemilihan tepung ketan sebagai fondasi utama. Tepung ketan yang masih baru akan lebih mudah menyatu dengan santan, menghasilkan adonan yang halus sejak awal pencampuran. Sebaliknya, tepung yang telah lama disimpan cenderung memiliki aroma langu yang sulit hilang, bahkan setelah dimasak dalam waktu lama. Penggunaan tepung beras sebagai campuran tambahan harus diperhitungkan secara cermat; meskipun berfungsi menyeimbangkan kekenyalan, takaran yang berlebihan akan membuat jenang kaku dan cepat mengeras setelah dingin. Kadar amilopektin yang tinggi pada tepung beras ketan sangat mudah mengalami gelatinisasi saat ditambahkan air dan dipanaskan, membentuk sifat kental yang elastis pada jenang. Untuk mengatasi aroma tepung mentah, teknik memasak bertahap sangat direkomendasikan. Memasak jenang sebaiknya dimulai dengan api sedang agar santan dan gula dapat menyatu sempurna tanpa risiko pecah atau gosong. Panas yang stabil pada tahap awal ini membantu mencegah timbulnya aroma mentah yang kerap muncul. Proses pengadukan terus-menerus selama pemasakan sangat penting tidak hanya untuk mencegah penggumpalan, tetapi juga untuk memastikan seluruh pati matang sempurna, sehingga menghilangkan bau tepung yang tidak diinginkan. Apabila jenang yang telah jadi mengeras, dapat dilunakkan kembali dengan dimasak bersama santan dan air hangat di atas api sedang hingga meletup dan bertekstur lembut. Penambahan daun pandan saat proses pemasakan atau bahkan penyangraian tepung, meskipun lebih umum untuk kue kering, dapat meningkatkan aroma dan mengurangi bau apek pada bahan dasar.
Jenang, yang di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut juga dodol, merupakan warisan kuliner tradisional yang eksistensinya telah melekat kuat di masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Surakarta, sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha dan era Walisongo. Makanan ini kerap hadir sebagai pelengkap di berbagai acara adat maupun keagamaan, seperti hajatan pernikahan, selamatan ibu hamil, dan selamatan bayi yang baru lahir, diyakini muncul dari kreativitas masyarakat setempat. Jenang bukan sekadar makanan, melainkan sarat akan makna filosofis dan simbol-simbol yang diyakini oleh orang Jawa, mewakili doa, persatuan, harapan, dan semangat hidup. Drs. Tundjung W. Sutirto, M.Si, seorang budayawan sekaligus Ketua Yayasan Jenang Indonesia, menjelaskan bahwa proses pembuatan jenang yang membutuhkan ketekunan karena harus diaduk terus-menerus melambangkan kesabaran dan ketekunan manusia dalam menghadapi tantangan hidup. Setiap tanggal 17 Februari, dalam rangka memperingati hari ulang tahun Kota Solo, diselenggarakan Festival Jenang Nusantara, dengan 17 jenis jenang yang wajib disediakan sebagai penanda perpindahan Keraton Surakarta ke Desa Sala.
Di luar nilai filosofisnya, jenang juga memiliki peran signifikan dalam perekonomian lokal. Sektor UMKM kuliner di Indonesia menyumbangkan sekitar Rp455,4 triliun pada tahun 2020. Dalam konteks ini, inovasi menjadi kunci bagi UMKM untuk bertahan dan berkembang, terutama di era digital. Contohnya, Jenang 33 Kudus berhasil menembus pasar internasional, dengan jangkauan hingga ke Tiongkok, Chinatown Amerika, dan Taiwan, menunjukkan potensi ekspor yang kuat untuk produk kuliner tradisional. Usaha ini telah bertahan selama tiga generasi sejak didirikan pada tahun 1910-an. Di sisi lain, inovasi produk juga terus bermunculan, seperti pengembangan es krim jenang oleh mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Inovasi ini bertujuan melestarikan dan memperkenalkan jenang kepada generasi muda dalam tampilan dan rasa yang lebih modern. Pemanfaatan teknologi, seperti mesin pemotong jenang, turut mendukung efisiensi produksi UMKM.
Dengan pemahaman mendalam tentang karakter bahan dan teknik pengolahan yang tepat, produsen jenang dapat menghasilkan kudapan yang konsisten lembut, tidak lengket, serta bebas dari aroma tepung. Hal ini tidak hanya menjaga kualitas dan cita rasa otentik jenang sebagai warisan kuliner, tetapi juga memperkuat posisinya di pasar domestik maupun internasional, memastikan kelestarian dan relevansinya bagi generasi mendatang.