
Hanya sekitar 50 individu di seluruh dunia diketahui memiliki golongan darah Rh-null, yang dijuluki "darah emas" karena kelangkaan dan nilai medisnya yang tak terhingga. Fenotipe darah paling langka ini, yang tidak memiliki semua antigen Rh pada permukaan sel darah merah, menghadirkan paradoks: sementara darah ini berfungsi sebagai donor universal untuk individu dengan golongan darah Rh langka lainnya, mereka yang memilikinya menghadapi tantangan hidup yang ekstrem dalam menemukan darah yang cocok untuk diri mereka sendiri saat membutuhkan transfusi yang mendesak.
Fenomena darah Rh-null, yang pertama kali diidentifikasi pada seorang wanita Aborigin Australia pada tahun 1961, disebabkan oleh mutasi genetik langka yang menghasilkan tidak adanya 61 antigen Rh yang dikenal. Kehadiran antigen-antigen ini yang menentukan apakah darah seseorang bersifat positif atau negatif, serta kompleksitas antigen Rh lainnya. Tanpa antigen ini, sel darah merah penderita Rh-null tidak akan memicu respons imun pada penerima darah dengan tipe Rh langka, menjadikan darah tersebut sangat berharga bagi ilmu transfusi.
Namun, kelangkaan ini menimbulkan risiko besar bagi individu yang memiliki "darah emas". Jika seseorang dengan darah Rh-null membutuhkan transfusi, mereka hanya dapat menerima darah dari donor Rh-null lainnya, yang jumlahnya sangat terbatas, dilaporkan kurang dari 10 donor aktif di seluruh dunia. Sumber lain menyebutkan hanya 43 orang yang diketahui memiliki tipe darah ini per tahun 2021. Tantangan logistik dalam pemeliharaan kondisi penyimpanan yang tepat dan pengiriman darah yang tepat waktu kepada pasien yang membutuhkan secara kritis membuat pengelolaan darah Rh-null sangat kompleks.
Secara klinis, individu dengan Rh-null juga dapat menghadapi masalah kesehatan. Ketidakadaan antigen Rh dapat memengaruhi struktur dan fungsi sel darah merah, menyebabkan kerapuhan dan penghancuran sel darah merah secara prematur. Kondisi ini sering kali bermanifestasi sebagai anemia hemolitik ringan hingga sedang sejak lahir, dengan gejala seperti pucat, kelelahan, dan kadar hemoglobin rendah. Selain itu, ibu hamil dengan golongan darah Rh-null menghadapi komplikasi yang signifikan jika janin mereka Rh-positif. Sistem kekebalan tubuh ibu dapat membentuk antibodi terhadap antigen Rh yang ada pada sel darah janin, berpotensi menyebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir atau keguguran. Untuk memitigasi risiko ini, individu Rh-null sangat dianjurkan untuk mendonorkan darah mereka sendiri untuk penyimpanan autologus sebagai jaring pengaman darurat.
Sisi genetik dari fenotipe Rh-null adalah hasil dari mutasi genetik langka, seringkali pada gen RHAG (tipe regulator) atau mutasi inaktivasi pada gen RHD dan RHCE (tipe amorf), yang diwariskan secara autosomal resesif. Hal ini berarti kedua orang tua harus membawa gen mutasi agar seorang anak terlahir dengan darah Rh-null, dan pernikahan sedarah dapat meningkatkan risiko kondisi ini.
Terlepas dari tantangan yang melekat pada individu Rh-null, darah ini sangat berharga bagi komunitas medis dan penelitian ilmiah. Darah ini memberikan wawasan unik tentang fungsi protein Rh dan perannya dalam sel darah merah. Selain itu, darah Rh-null telah berkontribusi pada pengembangan obat-obatan berbasis imunoglobulin, yang digunakan untuk mencegah Penyakit Rhesus, suatu kondisi di mana antibodi dalam darah ibu hamil menyerang sel darah bayinya. Penelitian terus berlanjut, dengan upaya-upaya baru seperti sel darah merah yang ditumbuhkan di laboratorium yang menjanjikan solusi transfusi untuk individu dengan golongan darah yang sangat langka. Panel Donor Langka Internasional (IRDP) berkoordinasi secara global untuk memfasilitasi permintaan transfusi Rh-null, menggarisbawahi upaya kolektif untuk melindungi dan memanfaatkan sumber daya biologis yang langka ini.