:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470205/original/055723800_1768199895-WhatsApp_Image_2026-01-10_at_13.18.20.jpeg)
Ribuan selimut hangat dari Indonesia tiba di Gaza Utara, memberikan kelegaan krusial bagi ribuan warga Palestina yang kini menghadapi puncak musim dingin ekstrem dengan kondisi tempat tinggal yang jauh dari layak. Bantuan ini datang di tengah krisis kemanusiaan yang diperparah oleh cuaca buruk, di mana hujan deras dan badai telah merusak tenda-tenda pengungsian serta infrastruktur yang sudah luluh lantak.
Sejak akhir November 2025, Dompet Al-Qur'an Indonesia (DQ) telah mendistribusikan selimut tebal kepada 68 keluarga di wilayah Gaza Utara, seperti yang dilaporkan oleh DQ. Mengikuti langkah tersebut, awal Januari 2026, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) berkolaborasi dengan PT Indo Anata Development menyalurkan ratusan selimut hangat, difokuskan untuk melindungi anak-anak, lansia, dan kaum ibu dari ancaman hipotermia di tengah suhu yang terus menurun. Upaya ini muncul saat Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) juga telah mempersiapkan ribuan paket bantuan berupa jaket, selimut, dan tenda untuk dikirimkan ke Gaza sejak November 2025, bekerja sama dengan relawan lokal.
Situasi di Gaza Utara, khususnya di Beit Lahia dan Jabalia, semakin memburuk akibat badai musim dingin yang membawa angin kencang dan hujan lebat. Laporan pada 10 Januari 2026 menyebutkan bahwa tenda-tenda pengungsi yang terbuat dari nilon tipis dan kain seadanya tidak mampu menahan terjangan cuaca, menyebabkan banyak yang roboh atau hanyut diterjang banjir. Insiden tragis mencatat seorang anak di Beit Lahia terluka parah setelah tertimpa reruntuhan dinding pada 10 Januari 2026, sementara puluhan ribu lainnya, termasuk anak-anak dan lansia, terpaksa bertahan di ruang terbuka atau bangunan rusak tanpa perlindungan memadai.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada 8 Januari 2026 melaporkan bahwa kekurangan bahan bakar di seluruh Jalur Gaza secara serius menghambat respons kemanusiaan dan meningkatkan biaya distribusi bantuan. Padahal, bahan bakar sangat dibutuhkan untuk sarana pemanas di malam hari yang dingin, yang kini sulit dijangkau warga. Lebih dari 90 persen bangunan dan jalan di Jabalia dan wilayah Gaza Utara telah hancur, memaksa warga Palestina untuk tinggal di tenda-tenda usang. Mazen al-Najjar, Wali Kota Jabalia, pada 7 Januari 2026 memperingatkan bahwa infrastruktur di daerah tersebut telah runtuh sepenuhnya, membuat jalanan mudah terendam banjir dan saluran pembuangan meluap.
Bahkan, krisis musim dingin 2025 telah menelan korban jiwa. Sumber-sumber rumah sakit di Gaza pada 13 Desember 2025 melaporkan sedikitnya 14 orang, termasuk tiga anak, meninggal dunia akibat gelombang udara dingin. Lebih dari 15 rumah dilaporkan runtuh di Kota Gaza dan wilayah Gaza Utara sejak badai Biron melanda. Mahmoud Basal, Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, pada 14 Desember 2025, memperingatkan adanya "bencana kemanusiaan yang segera" akibat kombinasi cuaca ekstrem dan minimnya infrastruktur.
Di tengah situasi ini, akses bantuan ke Gaza semakin terhambat. Israel pada 31 Desember 2025 mengumumkan penghentian operasional sejumlah organisasi kemanusiaan internasional di Jalur Gaza mulai Januari 2026, dengan alasan tidak memenuhi ketentuan registrasi baru. Langkah ini berdampak pada lebih dari dua lusin organisasi dan menuai kekhawatiran dari 10 negara Barat yang menilai kondisi kemanusiaan di Gaza berada pada tingkat "katastrofik". Pada November 2025, Otoritas Gaza menuduh Israel tidak mengizinkan masuknya tenda darurat dan perlengkapan dasar lain yang sangat dibutuhkan, padahal wilayah itu membutuhkan lebih dari 300.000 tenda untuk menampung ratusan ribu keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada 8 Desember 2024, telah memperingatkan bahwa hampir satu juta warga Palestina yang terlantar di Gaza berisiko menghadapi cuaca dingin ekstrem dan hujan deras, dengan hanya sekitar 23 persen dari kebutuhan mereka yang terpenuhi. Data dari Oktober 2024 juga menunjukkan sekitar 345.000 warga Gaza diperkirakan menghadapi bencana kelaparan di musim dingin akibat berkurangnya pengiriman bantuan. Bantuan selimut dari Indonesia, meskipun vital, hanyalah setitik harapan di tengah lautan kebutuhan yang luar biasa besar dan tantangan distribusi yang kompleks di Gaza Utara. Kondisi ini menuntut perhatian global yang lebih serius dan upaya kolektif yang tak terhambat untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih parah.