Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Sensasi 'Matcha Infus' Menggemparkan Bali, Kafe Ungkap Fakta Sebenarnya

2026-01-09 | 16:10 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T09:10:46Z
Ruang Iklan

Sensasi 'Matcha Infus' Menggemparkan Bali, Kafe Ungkap Fakta Sebenarnya

Sebuah kafe di Canggu, Bali, Buba Tea Bali, menjadi pusat kontroversi daring pada awal Januari 2026 setelah video penyajian minuman matcha menggunakan kemasan menyerupai cairan infus medis viral di media sosial, memicu kekhawatiran publik tentang keamanan dan etika. Insiden ini mendorong klarifikasi dari pihak kafe serta bantahan tegas dari produsen farmasi yang namanya tercantum pada kemasan tersebut.

Keramaian bermula sekitar 4 Januari 2026, ketika unggahan di platform seperti X oleh akun @txtdaribrand, yang kemudian dilihat lebih dari 3,5 juta kali, menyoroti minuman "Matcha Infus" dengan kemasan bertuliskan "D5 Dextrose monohydrate" dan menyertakan merek yang identik dengan PT Otsuka Indonesia, produsen cairan infus medis. Warganet dengan cepat mempertanyakan asal-usul kemasan, kebersihannya, dan potensi risiko kesehatan jika kemasan tersebut berasal dari limbah medis atau tidak memenuhi standar keamanan pangan. Beberapa juga mengkritik gimik yang dinilai tidak etis tersebut.

Menanggapi meluasnya isu ini, Corporate Communication Director PT Amerta Indah Otsuka, Sudarmadi Widodo, pada 6 Januari 2026, secara tegas membantah bahwa produk minuman tersebut adalah milik atau diproduksi oleh perusahaannya. Widodo menyatakan bahwa terindikasi adanya penyalahgunaan merek dan kemasan salah satu produk cairan infus Otsuka, dan menegaskan bahwa segala risiko yang timbul sepenuhnya bukan tanggung jawab PT Otsuka Indonesia. Ia menambahkan bahwa seluruh produk Otsuka diproduksi dengan penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) dan mengikuti kaidah Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM, serta perusahaan akan menempuh langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi merek dan reputasinya.

Pada 9 Januari 2026, Buba Tea Bali akhirnya buka suara melalui akun Instagram resmi mereka. Pihak kafe mengakui adanya "kekurangan dalam pengendalian internal pada tim operasional" yang menyebabkan penggunaan kemasan berlabel Otsuka secara tidak sengaja dalam materi visual pemasaran serta penyajian minuman di toko. Mereka menyatakan bahwa penggunaan tersebut "tidak dilakukan secara sengaja, tidak bersifat sistematis, dan tidak mencerminkan standar operasional maupun tujuan kami." Buba Tea Bali juga mengklaim telah menghentikan sepenuhnya penggunaan kemasan yang tidak sesuai tersebut pada bulan Desember, sebelum isu ini mendapatkan perhatian publik. Sebagai tindak lanjut, pihak kafe telah memberikan tindakan pendisiplinan pada individu yang bertanggung jawab atas kesalahan operasional, memperkuat prosedur internal, serta melakukan penurunan konten yang relevan. Permohonan maaf juga disampaikan kepada PT Otsuka Indonesia atas kekhawatiran atau kesalahpahaman yang timbul.

Dari sudut pandang medis dan etika, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD, seorang spesialis penyakit dalam, mengingatkan pentingnya edukasi publik agar tidak terjadi salah persepsi antara minuman biasa dan cairan medis. Ia menekankan bahwa infus D5, yang berisi 5% dekstrosa, adalah cairan medis yang diberikan melalui pembuluh darah untuk energi tambahan, dan penggunaan kemasan serupa untuk minuman konsumsi memerlukan perhatian etika dan izin. Insiden ini menyoroti pentingnya kemasan food grade, yang didefinisikan sebagai bahan yang aman bersentuhan langsung dengan makanan dan minuman tanpa bereaksi secara kimia, mengubah rasa atau warna, atau melepaskan zat berbahaya. Standar ini diatur oleh regulasi keamanan pangan seperti BPOM dan Standar Nasional Indonesia (SNI), yang mensyaratkan pengujian migrasi zat kimia untuk memastikan tidak ada senyawa berisiko yang berpindah ke dalam minuman.

Kasus "Matcha Infus" di Bali ini menggarisbawahi tantangan bagi industri makanan dan minuman dalam menyeimbangkan inovasi pemasaran dengan kepatuhan terhadap standar keamanan dan etika. Penggunaan kemasan unik telah lama menjadi strategi dalam industri food and beverage, namun insiden ini menunjukkan bahwa aspek keamanan dan persepsi publik terhadap kemasan yang menyerupai produk medis dapat dengan cepat memicu kontroversi. Implikasinya mencakup tidak hanya reputasi merek kafe yang bersangkutan, tetapi juga menuntut pengawasan lebih ketat dari otoritas terkait terhadap praktik pemasaran yang berpotensi menyesatkan atau membahayakan konsumen, terutama di sektor pariwisata seperti Bali yang sangat bergantung pada kepercayaan dan citra. Edukasi konsumen tentang perbedaan antara kemasan medis dan food grade menjadi krusial untuk mencegah kebingungan serupa di masa depan.