
Indonesia tengah menghadapi lonjakan kasus influenza A (H3N2) subclade K, yang populer disebut "super flu," dengan 62 kasus terdeteksi di delapan provinsi hingga awal Januari 2026. Meskipun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan situasi masih terkendali dan subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan varian influenza lainnya, masyarakat diimbau tetap waspada mengingat karakteristik penularannya yang cepat dan potensi gejala yang lebih berat.
Virus influenza A H3N2 subclade K ini bukanlah virus baru, melainkan turunan dari virus H3N2 yang telah lama dikenal dunia medis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak November 2025 telah mengamati setidaknya tujuh kali mutasi pada virus H3N2 subclade K, yang kini menyebar cepat dan mendominasi di beberapa negara di belahan bumi utara. Peningkatan kasus influenza A (H3) secara global mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring masuknya musim dingin. Data per 30 Desember 2025 menunjukkan influenza berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian AS, dengan jumlah pasien rawat inap melonjak menjadi 19.053 orang dan sekitar 3.100 kematian akibat influenza pada musim flu ini, sebagian besar disebabkan oleh virus H3N2. Di Asia, subclade K dilaporkan terdeteksi sejak Juli 2025 di negara-negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand, meskipun tren kasus di kawasan tersebut cenderung menurun dalam dua bulan terakhir.
Di Indonesia, virus subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI (Influenza-Like Illness dan Severe Acute Respiratory Infection) di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, dengan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) selesai pada 25 Desember 2025. Provinsi dengan kasus terbanyak adalah Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat, dengan mayoritas penderita adalah perempuan dan kelompok usia anak-anak. Meskipun demikian, tren kasus influenza nasional justru menurun dalam dua bulan terakhir.
Menanggapi pertanyaan mengenai efektivitas vaksin, Kementerian Kesehatan memastikan bahwa vaksin influenza yang tersedia saat ini masih efektif dalam menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza A (H3N2), termasuk subclade K. Plt Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menyebutkan bahwa efektivitas vaksin terhadap subclade K diperkirakan berkisar antara 64 hingga 78 persen pada anak-anak dan 41 hingga 55 persen pada kelompok dewasa dalam mengurangi keparahan paparan. Ahli paru dan Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan masyarakat perlu tetap waspada namun tidak panik, serta menyebutkan vaksinasi influenza tetap relevan, terutama bagi kelompok rentan.
Dokter spesialis paru RS Paru Persahabatan, Agus Dwi Susanto, menyebut infeksi subclade K dapat memicu keluhan yang cukup berat, dengan gejala seperti demam tinggi (39-41 derajat Celcius), nyeri otot berat, lemas ekstrem, batuk kering, sakit kepala, dan tenggorokan berat. Penularan virus ini juga relatif cepat, di mana satu orang yang terpapar bisa menularkan ke dua hingga tiga orang lainnya.
Secara historis, virus influenza A H3N2 pernah memicu lonjakan besar flu dunia pada tahun 1968. Peningkatan kasus influenza tipe A di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir telah mencapai kenaikan hingga 38 persen, dipicu oleh cuaca ekstrem, mobilitas masyarakat pascapandemi, serta kemampuan virus untuk bermutasi cepat. Virus subtipe H3N2 saat ini dominan dalam kasus influenza tipe A di Indonesia.
Untuk mencegah penyebaran dan keparahan penyakit, masyarakat diimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, dan mendapatkan vaksinasi influenza tahunan. Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penderita penyakit kronis sangat dianjurkan untuk divaksinasi. Vaksinasi tidak hanya mengurangi gejala penyakit, tetapi juga mencegah komplikasi parah seperti pneumonia, gagal napas, peradangan jantung, bahkan kematian, terutama pada kelompok rentan. Kemenkes juga menyarankan masyarakat untuk tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, dan menerapkan etika batuk serta bersin. Jika gejala memburuk atau tidak membaik dalam lebih dari tiga hari, segera akses fasilitas pelayanan kesehatan.