Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Super Flu Renggut Nyawa di RSHS Bandung, Menkes Akhirnya Bersuara

2026-01-13 | 05:01 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-12T22:01:34Z
Ruang Iklan

Super Flu Renggut Nyawa di RSHS Bandung, Menkes Akhirnya Bersuara

Seorang pasien yang teridentifikasi mengidap Influenza A H3N2 subclade K, atau yang populer disebut "Super Flu", dilaporkan meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada Januari 2026. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin segera menegaskan bahwa kematian pasien tersebut tidak disebabkan secara langsung oleh infeksi virus influenza, melainkan diperberat oleh komorbiditas atau penyakit penyerta yang diderita pasien sebelumnya.

Pasien berusia lanjut tersebut, yang dirawat antara September hingga November 2025, memiliki riwayat penyakit berat seperti stroke, gagal jantung, infeksi, dan gagal ginjal. Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung, dr. Yovita Hartantri, menjelaskan bahwa timnya menangani sepuluh kasus terkonfirmasi Influenza A H3N2 subclade K, di mana satu pasien meninggal dunia akibat komplikasi penyakit penyerta yang parah. Ia menambahkan, "Apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kami tidak bisa menyatakan, karena komorbidnya banyak."

Istilah "Super Flu" sendiri, menurut para ahli, bukanlah terminologi medis resmi, melainkan sebutan populer untuk varian virus influenza A H3N2 subclade K yang pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Varian ini disebut memiliki kemampuan penularan yang lebih cepat dan menimbulkan gejala yang dirasakan lebih berat dibandingkan flu musiman pada umumnya, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta.

Kementerian Kesehatan telah melaporkan temuan kasus "Super Flu" di Indonesia sejak Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus terkonfirmasi Influenza A (H3N2) subclade K tersebar di delapan provinsi, dengan Jawa Barat menjadi salah satu provinsi yang memiliki kasus. Meski jumlah kasus tidak menunjukkan lonjakan signifikan secara nasional, kewaspadaan tetap ditingkatkan.

Menanggapi kekhawatiran publik, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat agar tidak panik, sebab tingkat kematian akibat Influenza A (H3N2) subclade K tergolong rendah. Ia membandingkan bahwa virus ini bukan jenis baru yang mematikan seperti COVID-19, melainkan varian dari influenza tipe A H3N2 yang sudah ada puluhan tahun. Menurutnya, sistem kekebalan tubuh yang baik dapat mengatasi virus ini. Dokter Yovita Hartantri dari RSHS juga menegaskan bahwa penanganan infeksi virus influenza A H3N2 dilakukan secara simptomatis, bergantung pada derajat sakitnya. Direktur Medik dan Keperawatan RSHS, dr. Iwan Abdul Rachman, juga menekankan bahwa tren kasus cenderung menurun.

Kasus kematian di RSHS Bandung ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan, terutama bagi individu dengan komorbiditas. Pencegahan penularan melalui perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh, dan vaksinasi influenza tahunan tetap menjadi langkah krusial. Kemenkes memastikan bahwa vaksin flu yang ada saat ini tetap efektif mengurangi risiko sakit berat, rawat inap, dan kematian akibat influenza A (H3N2). Peningkatan kasus influenza di musim tertentu dan dominasi varian H3N2 subclade K mengingatkan akan perlunya kesiapsiagaan berkelanjutan dalam sistem kesehatan masyarakat.