:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469928/original/042331300_1768191659-000_88ZX2PY.jpg)
Pangeran Wales, Catherine, Putri Wales, baru-baru ini menarik perhatian publik dan pemerhati mode global dengan pilihan tas jinjingnya yang relatif terjangkau, sebuah tas DeMellier Nano Montreal berwarna toffee yang dibanderol sekitar 295 pound sterling atau sekitar Rp5,8 juta. Kemunculan tas ini dalam beberapa kesempatan resmi menandai pergeseran halus dari pilihan tas mewah eksklusif yang sebelumnya sering dikenakan, dan justru menguatkan tren "Kate Effect" terhadap merek-merek yang lebih mudah dijangkau.
DeMellier London, merek yang berbasis di London dan didirikan oleh Mireia Llusia-Lindh, dikenal karena komitmennya terhadap produksi etis di Spanyol dan model bisnis "A Bag, A Life" yang menyumbangkan sebagian penjualan untuk mendukung vaksin dan perawatan medis bagi anak-anak yang membutuhkan. Pilihan sang Putri untuk mendukung merek dengan misi sosial semacam ini, sekaligus menawarkan produk dalam kategori "kemewahan yang dapat diakses" (affordable luxury), bukan hanya mencerminkan selera pribadi namun juga berpotensi mengukuhkan pengaruhnya terhadap preferensi konsumen global. Sejak Kate Middleton pertama kali terlihat menggunakan tas DeMellier pada tahun 2018, penjualan merek tersebut dilaporkan mengalami peningkatan signifikan, dengan model yang dikenakannya seringkali terjual habis. Fenomena ini, yang dikenal sebagai "Kate Effect", telah berulang kali terbukti mampu mendorong penjualan produk busana dan aksesori hingga ratusan persen hanya dalam hitungan jam setelah ia muncul di depan publik.
Sebelumnya, sang Putri sering terlihat dengan tas tangan dari merek-merek mewah seperti Chanel, Jimmy Choo, dan Alexander McQueen, dengan harga yang bisa mencapai puluhan juta rupiah. Pilihan tas DeMellier yang relatif lebih murah namun tetap elegan ini menunjukkan adanya apresiasi terhadap desain berkualitas tinggi yang tidak harus datang dengan label harga yang fantastis. Langkah ini dapat diinterpretasikan sebagai strategi komunikasi non-verbal yang resonan dengan audiens yang lebih luas, menunjukkan relevansi dan keberpihakan pada nilai-nilai yang lebih membumi. Analisis para ahli mode, seperti yang sering diungkapkan oleh para editor majalah mode terkemuka, menunjukkan bahwa pilihan seperti ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari pencitraan yang terukur untuk membangun koneksi dengan masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Implikasi dari pilihan mode sang Putri meluas jauh melampaui sekadar tren busana. Bagi DeMellier, pengakuan dari salah satu ikon gaya paling berpengaruh di dunia ini memberikan validasi instan terhadap kualitas dan desainnya, berpotensi membuka pasar baru dan meningkatkan visibilitas merek di tingkat internasional tanpa biaya pemasaran yang besar. Efek jangka panjangnya bisa meliputi peningkatan daya saing merek-merek 'accessible luxury' lainnya yang menawarkan produk berkualitas dengan harga yang lebih moderat, sekaligus menantang dominasi merek-mewah tradisional dalam ranah busana kerajaan. Pergeseran ini juga dapat mendorong konsumen untuk lebih memperhatikan nilai etis dan keberlanjutan dari sebuah merek, seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran publik terhadap isu-isu tersebut dalam industri mode. Ini bukan hanya tentang tas, melainkan cerminan evolusi gaya kerajaan yang beradaptasi dengan aspirasi dan nilai-nilai kontemporer.