:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460192/original/068415600_1767238990-doa_awal_tahun.jpg)
Doa awal tahun 2026, yang baru saja dibacakan jutaan umat Muslim di seluruh Indonesia setelah melantunkan doa akhir tahun 2025, bukan sekadar ritual keagamaan rutin, melainkan cerminan penting dari pencarian makna dan ketenangan jiwa di tengah lanskap kesehatan mental yang semakin menantang. Ritual kolektif ini, yang melibatkan refleksi atas capaian dan kegagalan tahun sebelumnya serta harapan untuk masa depan, memiliki implikasi psikologis yang mendalam bagi individu dan masyarakat.
Dalam konteks spiritual, praktik doa dan refleksi akhir serta awal tahun berfungsi sebagai mekanisme koping yang signifikan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa aspek spiritual mampu memberikan dukungan emosional dan mental yang substansial. Spiritualitas membantu individu menemukan makna dan tujuan hidup, memperkuat jaringan dukungan sosial yang esensial bagi kesehatan mental, serta mengurangi stres dan meningkatkan ketenangan batin melalui praktik seperti doa atau meditasi. Praktik-praktik ini mendorong introspeksi dan evaluasi diri, membimbing individu untuk lebih menyadari pikiran, perasaan, dan motivasi internal mereka, yang merupakan fondasi penting untuk pertumbuhan pribadi.
Namun, pergantian tahun juga memunculkan tantangan psikologis. Fenomena "New Year Anxiety" atau "Holiday Blues" menjadi semakin nyata, ditandai dengan perasaan cemas, hampa, kesepian, atau bahkan depresi ringan saat menghadapi musim liburan dan awal tahun baru. Psikolog klinis Anita Rahmawati, M.Psi, menjelaskan bahwa kecemasan di awal tahun sering dipicu oleh tekanan ekspektasi. Harapan tinggi, baik dari diri sendiri maupun lingkungan, untuk "harus berubah" atau mencapai resolusi yang muluk, dapat menjadi beban psikologis yang berat jika tidak tercapai. Ahli psikologi dari Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana, M.Sc., M.Psi, menyoroti tren "New Year, New Mental Issues" yang marak di kalangan generasi muda, di mana refleksi yang salah dan perbandingan diri di media sosial dapat memperburuk kecemasan.
Kondisi kesehatan mental di Indonesia sendiri menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Januari 2025 memperkirakan sekitar 30 persen dari 280 juta penduduk Indonesia terkena penyakit mental. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat 9,8% penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional seperti stres dan kecemasan, serta 6,1% mengalami depresi. Angka ini bahkan meningkat pascapemilu 2024, dengan gangguan kecemasan naik menjadi 16% dan depresi menjadi 17,1%, menurut riset Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa. Lebih dari 31 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental, dengan 19 juta di antaranya mengalami gangguan emosional dan 12 juta menderita depresi. Terutama di kalangan remaja, survei UNICEF 2022 menemukan bahwa satu dari tiga remaja pernah merasa ingin mengakhiri hidup.
Dalam menghadapi tekanan ini, ritual seperti doa awal tahun menawarkan ruang bagi individu untuk meredakan beban emosional. Psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) HIMPSI Kalimantan Timur, Nur Aisyah Rahmani, menekankan pentingnya menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap diri sendiri saat perenungan akhir tahun, alih-alih berfokus pada kegagalan yang belum tercapai. Pendekatan spiritual yang matang tidak hanya menjadi formalitas, melainkan landasan moral yang menumbuhkan rasa tanggung jawab, penerimaan, dan ketahanan menghadapi tantangan hidup. Praktik spiritual juga dapat membantu individu mengelola emosi seperti kemarahan, kecemasan, dan kesedihan dengan lebih baik.
Lya Fahmi, seorang psikolog dan influencer, dalam sebuah kajian akhir tahun 2025 yang digelar Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Ngaglik, Yogyakarta, menyoroti bahwa persoalan kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan kolektif. Ruang-ruang kebersamaan, termasuk dalam ibadah kolektif seperti doa bersama, menjadi penting agar individu tidak menghadapi beban psikologis secara sendirian. Dukungan sosial, baik dari keluarga, teman, maupun komunitas religius, terbukti mampu memperkuat ketahanan mental seseorang dalam menghadapi stres dan kesulitan hidup.
Meskipun demikian, akses terhadap layanan kesehatan mental profesional di Indonesia masih sangat minim. Hanya 9% dari penderita gangguan mental yang mendapatkan perawatan profesional, dengan alokasi anggaran kesehatan untuk kesehatan mental stagnan di angka 1% dari total anggaran kesehatan, jauh di bawah standar WHO yang merekomendasikan minimal 5%. Ini menyoroti urgensi pendekatan holistik yang mengintegrasikan spiritualitas, dukungan sosial, dan layanan profesional untuk mencapai kesejahteraan mental yang komprehensif. Mengintegrasikan aspek spiritual dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi alat yang efektif untuk mendukung kesehatan jiwa dan meningkatkan kualitas hidup, terutama saat memasuki babak baru di tahun 2026.