:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461296/original/097336800_1767361193-Rama_Duwaji.jpg)
New York, 1 Januari 2026 menandai babak baru dalam sejarah politik kota tersebut ketika Zohran Mamdani, seorang sosialis demokrat berusia 34 tahun, resmi dilantik sebagai Wali Kota ke-112. Pelantikan ini bersejarah ganda: Mamdani adalah wali kota Muslim pertama New York dan keturunan Asia Selatan pertama yang memegang jabatan tersebut. Di sampingnya, dengan penampilan yang mencuri perhatian, hadir istrinya, Rama Duwaji, yang kini memegang gelar Ibu Negara New York pertama dari Generasi Z dan seorang Muslimah.
Sumpah jabatan pribadi Mamdani diambil sesaat setelah tengah malam di stasiun kereta bawah tanah City Hall yang tidak terpakai, sebuah lokasi yang dipilih karena sarat simbolisme sejarah kota. Di sana, ia mengucapkan sumpah dengan meletakkan tangan di atas dua salinan Al-Qur'an: satu milik kakeknya dan satu lagi Al-Qur'an bersejarah berusia 200 tahun yang dipinjam dari Perpustakaan Umum New York, yang pernah dimiliki oleh sejarawan dan penulis kulit hitam Arturo Schomburg. Kehadiran Rama Duwaji, seorang seniman, ilustrator, dan pembuat keramik asal Suriah-Amerika, menambah dimensi personal pada momen bersejarah tersebut. Duwaji, yang lahir di Houston, Texas, pada tahun 1997, mencerminkan keragaman modern kota yang kini dipimpin suaminya.
Kisah pertemuan pasangan ini juga kontemporer, berawal dari aplikasi kencan Hinge pada tahun 2021, saat Mamdani masih menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Negara Bagian New York. Mereka menikah melalui upacara nikah pribadi di Dubai pada Desember 2024, disusul upacara sipil di Balai Kota New York pada Februari 2025, dan sebuah upacara di Uganda pada Juli 2025. Sepanjang kampanye Mamdani, Duwaji memilih untuk tidak terlalu menonjolkan diri, fokus pada karirnya sebagai seniman yang karyanya pernah dimuat di The New Yorker dan The Washington Post. Namun, perannya sebagai Ibu Negara New York memiliki implikasi budaya dan gaya hidup yang signifikan, membawa representasi baru bagi komunitas Muslim dan generasi muda.
Mamdani, yang lahir di Kampala, Uganda, dari orang tua India, akademisi Mahmood Mamdani dan pembuat film Mira Nair, mewarisi latar belakang multikultural yang kaya. Pengalamannya sebagai imigran dan warga naturalisasi Amerika pada tahun 2018 memperkaya perspektifnya dalam memimpin kota dengan populasi imigran yang besar. Sebelum menjadi wali kota, ia menjabat di Majelis Negara Bagian New York untuk distrik ke-36 dari tahun 2021 hingga 2025, mewakili Astoria, Queens. Platform kampanyenya berfokus pada isu keterjangkauan, termasuk janji membekukan harga sewa, bus gratis, penitipan anak universal, toko kelontong milik kota, dan upah minimum $30 per jam pada tahun 2030. Ini menandai pergeseran signifikan dalam arah kebijakan kota yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh progresif.
Meskipun Mamdani menghadapi tantangan besar dalam merealisasikan janji-janji ambisiusnya di tengah kompleksitas fiskal kota dan potensi pemotongan dana federal, kepemimpinannya dipandang sebagai simbol harapan bagi banyak warga New York. Senator Bernie Sanders, salah satu tokoh progresif terkemuka, secara terbuka mendukung Mamdani dan ikut serta dalam upacara pelantikan publik di depan Balai Kota, menegaskan pentingnya agenda keterjangkauan. Kehadiran Rama Duwaji, dengan latar belakang seninya dan identitasnya sebagai Muslimah Generasi Z, tidak hanya mendukung narasi politik suaminya tetapi juga menyoroti evolusi identitas publik dalam kepemimpinan kota, menawarkan cerminan modern tentang bagaimana gaya hidup dan politik dapat berinteraksi dalam lanskap metropolitan yang dinamis. Representasi ini, baik dari sisi agama, etnis, maupun generasi, berpotensi membentuk persepsi dan partisipasi politik di masa depan, tidak hanya di New York tetapi juga di seluruh Amerika Serikat.