Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Wanita 26 Tahun Divonis Kanker Tiroid: Kejutan di Usia Muda

2026-01-21 | 18:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-21T11:42:21Z
Ruang Iklan

Wanita 26 Tahun Divonis Kanker Tiroid: Kejutan di Usia Muda

Diagnosis kanker tiroid pada seorang wanita berusia 26 tahun menyoroti tren peningkatan insiden penyakit ini pada populasi usia muda, menantang persepsi umum bahwa keganasan tiroid lazim pada usia paruh baya. Kasus Hannah Sheridan, yang mengalami serangkaian masalah kesehatan terkait hormon dan pencernaan sebelum menemukan benjolan di lehernya, mencerminkan tantangan deteksi dini di kalangan dewasa muda. Prevalensi kanker tiroid telah meningkat secara global dalam tiga dekade terakhir, menjadi sekitar 1-2% dari seluruh kasus kanker, dengan lebih dari 580.000 kasus baru di seluruh dunia pada tahun 2020. Di Indonesia, kanker tiroid menduduki peringkat ke-5 sebagai keganasan terbanyak pada perempuan, dengan lebih dari 9.000 kasus baru pada perempuan di tahun 2020, atau 4,2% dari seluruh kasus kanker baru pada perempuan.

Meskipun secara historis kanker tiroid sering dikaitkan dengan kelompok usia yang lebih tua, data epidemiologi menunjukkan bahwa kanker ini lebih banyak ditemukan pada populasi remaja dan dewasa muda, khususnya antara usia 15 hingga 39 tahun. Kanker tiroid juga tiga kali lebih sering menyerang perempuan dibandingkan laki-laki, dengan insiden 9,3 kasus per 100.000 per tahun pada perempuan dibandingkan 3,1 kasus pada laki-laki. Fenomena ini sebagian disebabkan oleh peningkatan penggunaan ultrasonografi tiroid dan biopsi aspirasi jarum halus sejak tahun 1980-an dan 1990-an, yang memungkinkan deteksi nodul tiroid berukuran sangat kecil yang sebelumnya tidak terdeteksi melalui pemeriksaan fisik. Namun, para ahli juga menyiratkan bahwa bukan hanya overdiagnosis yang menjadi faktor, melainkan ada faktor-faktor lain yang berkontribusi pada lonjakan kasus, termasuk potensi dampak lingkungan dan paparan radiasi.

Gejala kanker tiroid pada tahap awal seringkali tidak khas dan mudah diabaikan, terutama oleh individu muda yang mungkin menganggapnya sebagai kondisi ringan atau terkait dengan masalah kesehatan lain. Hannah Sheridan, misalnya, telah didiagnosis dengan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dan Irritable Bowel Syndrome (IBS) sebelum diagnosis kankernya, dan mengalami gejala seperti nyeri berdenyut di leher belakang, fluktuasi berat badan, serta asam lambung. Benjolan di leher yang seringkali tidak nyeri merupakan tanda paling umum, namun perubahan suara, kesulitan menelan, atau bahkan batuk darah pada kasus yang jarang juga bisa menjadi indikasi. Dokter bedah onkologi di Siloam Hospitals Lippo Village, Dokter Alif R. Soeratman, SpB.Subsp.Onk.(K), menekankan bahwa benjolan tiroid yang ditemukan secara dini mudah disembuhkan.

Penyebab pasti kanker tiroid belum diketahui, namun beberapa faktor risiko telah teridentifikasi. Jenis kelamin perempuan adalah faktor risiko utama, diduga karena perubahan hormon pada sistem reproduksi wanita, seperti siklus haid, kehamilan, melahirkan, dan menyusui yang dapat memengaruhi produksi hormon tiroid. Riwayat keluarga dengan kanker tiroid, paparan radiasi pada masa kanak-kanak (misalnya dari radioterapi), serta kondisi genetik tertentu seperti multiple endocrine neoplasia atau sindrom Cowden, juga meningkatkan risiko. Obesitas juga disebut sebagai salah satu faktor risiko.

Dokter bedah onkologi di Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Bob Andinata SpB(K)Onk, menyoroti bahwa banyak pasien datang dengan benjolan yang sudah besar karena ketakutan akan diagnosis kanker. Padahal, deteksi dini sangat vital karena memengaruhi tingkat keberhasilan pengobatan. Kelompok pendukung seperti Pita Tosca di Indonesia menganjurkan gerakan "PERLAHAN" atau Periksa Leher Anda, sebagai metode deteksi dini yang bisa dilakukan sendiri. Dr. Arif Kurniawan, Sp.B(K)Onk, dokter bedah onkologi, juga menyatakan bahwa gangguan tiroid seringkali tidak disadari oleh pasien sendiri, melainkan terdeteksi oleh orang di sekitar atau melalui pemeriksaan tidak sengaja.

Jenis kanker tiroid papiler merupakan yang paling umum, mencakup sekitar 74-80% kasus, dan umumnya memiliki prognosis yang sangat baik, terutama pada pasien usia muda di bawah 55 tahun. Tingkat kesintasan 5 tahun untuk kanker tiroid secara umum mencapai 95%. Meskipun demikian, kanker tiroid dapat bermetastasis ke kelenjar getah bening, paru-paru, tulang, dan otak, dengan paru-paru menjadi organ yang paling sering mengalami metastasis.

Peningkatan insiden kanker tiroid pada dewasa muda, terutama perempuan, menuntut peningkatan kesadaran publik dan tenaga medis. Mengingat gejala awal yang samar dan sering disalahartikan, edukasi mengenai pemeriksaan leher mandiri dan pentingnya konsultasi medis untuk benjolan atau perubahan suara yang persisten menjadi krusial. Investasi lebih lanjut dalam penelitian untuk memahami faktor risiko dan mekanisme biologis di balik peningkatan ini, khususnya di kelompok usia muda, akan sangat penting untuk strategi pencegahan dan deteksi yang lebih efektif di masa depan.