
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyerukan peningkatan kewaspadaan orang tua menyusul dominasi kasus influenza A (H3N2) subclade K, yang populer disebut "super flu", pada kelompok anak-anak di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan 62 kasus varian virus ini hingga akhir Desember 2025, dengan 35 persen di antaranya menyerang anak usia 1-10 tahun. Kasus "super flu" ini tersebar di delapan provinsi, dengan Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat mencatat jumlah temuan terbanyak.
Fenomena "super flu" ini merujuk pada varian influenza yang menunjukkan gejala lebih berat dan kemampuan menembus kekebalan tubuh yang sudah ada sebelumnya, meskipun istilah ini bukan diagnosis medis resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Dr. dr. Nastiti Kaswandani, SpA, SubspRespi(K), anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, menjelaskan bahwa varian ini memiliki evolusi tinggi, mudah bermutasi, dan berpotensi menimbulkan epidemi massal. Lonjakan kasus ini telah diamati secara global sejak pertengahan 2025, dengan peningkatan signifikan di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Australia.
IDAI menekankan bahwa anak-anak dengan komorbiditas, seperti penyakit jantung bawaan, gangguan paru kronis, gangguan metabolik, kelainan saraf, gangguan imunitas, obesitas, dan diabetes, memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami perburukan kondisi jika terinfeksi influenza subclade K. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Umum IDAI, mengingatkan bahwa dampak pada anak dengan komorbid bisa lebih serius dibandingkan anak tanpa komorbid.
Menyikapi ancaman ini, IDAI menguraikan sejumlah langkah pencegahan krusial. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi fondasi utama, meliputi rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menggunakan masker saat sakit atau di keramaian, serta menjaga jarak fisik dengan individu yang menunjukkan gejala sakit. Imunisasi influenza juga ditegaskan sebagai langkah pencegahan paling efektif, direkomendasikan untuk anak mulai usia enam bulan dan diulang setiap tahun. Bagi bayi di bawah enam bulan, perlindungan pasif dapat diberikan melalui imunisasi influenza pada ibu hamil.
Selain itu, asupan gizi seimbang untuk memperkuat daya tahan tubuh, istirahat yang cukup, dan konsumsi air putih yang memadai menjadi penting. Orang tua juga diimbau untuk segera menghubungi dokter jika anak menunjukkan gejala sakit yang berat atau tanda bahaya lainnya. Dr. Nastiti Kaswandani menegaskan bahwa vaksin influenza yang tersedia masih efektif menurunkan angka kematian dan rawat inap sebesar 70-75 persen pada anak-anak.
Kemenkes mencatat bahwa kasus influenza di Indonesia cenderung berfluktuasi sepanjang tahun dengan puncak peningkatan selama musim hujan. Kondisi lingkungan yang kurang ideal, seperti banjir dan bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan Selatan, juga berpotensi mempercepat penyebaran penyakit menular. Data Kemenkes menunjukkan total 1.692.642 kasus influenza-like illness (ILI) sepanjang tahun 2025, dengan tren peningkatan yang berfluktuasi secara nasional, sebagian besar dikaitkan dengan cakupan vaksin influenza yang masih rendah.
Meskipun Kemenkes menyatakan bahwa varian subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza sebelumnya, potensi lonjakan kasus secara masif dapat membebani sistem layanan kesehatan. Kondisi ini berimplikasi pada peningkatan kebutuhan akan alat kesehatan dan obat-obatan. Oleh karena itu, kesadaran kolektif masyarakat, penerapan PHBS yang konsisten, dan partisipasi aktif dalam program vaksinasi influenza menjadi kunci utama untuk menekan risiko penyebaran dan melindungi kelompok rentan dari dampak kesehatan yang lebih serius di masa depan.