
Seorang wanita asal Korea Selatan bernama Gil Lee-won telah menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan bahwa dirinya menghabiskan sekitar 300 juta won atau setara dengan Rp3,5 miliar untuk menjalani sekitar 400 prosedur kosmetik selama 15 tahun terakhir. Kisah transformasinya ini terungkap dalam acara hiburan populer tvN STORY, "It's Okay to Be a Martian" pada tahun 2025.
Perjalanan Gil Lee-won dengan operasi plastik dimulai pada tahun 2010. Ia menceritakan bahwa dorongan untuk melakukan operasi plastik muncul ketika ia sedang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Saat itu, berat badannya naik dan ia sering menjadi bahan olokan karena penampilan fisiknya. Kritikan juga datang dari mantan kekasihnya, yang ia kencani dari usia 27 hingga 30 tahun, yang secara terus-menerus mengkritik penampilannya, menghancurkan harga dirinya. Gil bertekad untuk mengubah dirinya sepenuhnya dan kini merasa lebih percaya diri dengan penampilannya.
Sejak operasi pertamanya, Gil Lee-won terus melakukan berbagai prosedur kecantikan. Jika menghitung prosedur kosmetik dan kunjungan dermatologi, totalnya telah mencapai sekitar 400 perawatan. Prosedur yang telah dijalaninya sangat beragam, antara lain cangkok lemak dahi, pembentukan ulang telinga, operasi kelopak mata ganda, koreksi mata, operasi hidung, operasi resesif filtrum, kontur dagu dan wajah, operasi lesung pipit, pengangkatan lesung pipit, filler bibir, filler bahu, botox levator scapulae, filler kerut leher, filler tulang selangka, operasi revisi sedot lemak seluruh tubuh, injeksi sel punca intravena, dan berbagai perawatan kulit lainnya.
Meskipun dokter telah menyarankan untuk tidak terlalu berlebihan dan fokus mempertahankan bentuk tubuhnya saat ini, Gil masih tetap mengunjungi klinik dermatologi dan pengobatan oriental hampir setiap hari untuk menjaga penampilannya agar selalu terlihat segar. Ia mengaku tidak menyesali perjalanan operasi plastiknya dan merasa percaya diri dengan penampilannya saat ini. Para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan kosmetik ekstrem semacam ini mungkin mencerminkan perjuangan emosional yang lebih dalam terkait citra diri dan tekanan sosial dalam budaya Korea Selatan yang terobsesi pada kecantikan.