Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

FKUI Beberkan Strategi Jitu Tangkal Penyakit Pasca Bencana Sumatera

2025-11-30 | 17:11 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-30T10:11:23Z
Ruang Iklan

FKUI Beberkan Strategi Jitu Tangkal Penyakit Pasca Bencana Sumatera

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Ari Fahrial Syam memaparkan sejumlah strategi penting untuk mengantisipasi merebaknya penyakit pasca bencana alam, khususnya di wilayah Sumatera yang belakangan ini dilanda banjir dan tanah longsor. Prof. Ari menyoroti risiko kesehatan yang signifikan bagi korban bencana di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, di mana lebih dari 303 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut hingga Sabtu (29/11/2025) sore.

Menurut Prof. Ari, kondisi pasca bencana alam dapat meningkatkan berbagai masalah kesehatan, terutama infeksi, karena daya tahan tubuh korban yang menurun akibat stres, kurang istirahat, serta asupan makanan dan minuman yang tidak memadai. Lingkungan yang tidak sehat pasca banjir juga sangat mendukung pertumbuhan penyakit.

Beberapa penyakit yang paling diwaspadai meliputi infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang dapat berkembang menjadi pneumonia, infeksi saluran pencernaan seperti diare dan demam tifoid, serta tetanus dan leptospirosis. Tetanus adalah infeksi bakteri yang menyerang saraf dan dapat menyebabkan kekakuan serta kejang otot, seringkali masuk melalui luka pada kulit akibat benda tajam di lokasi banjir. Leptospirosis, di sisi lain, merupakan infeksi bakteri dari air atau tanah yang terkontaminasi dan bisa memicu demam, nyeri otot, hingga gangguan organ serius seperti gagal ginjal akut jika tidak ditangani dengan baik.

Untuk mengantisipasi ancaman ini, Prof. Ari Fahrial Syam menekankan beberapa langkah strategis. Pertama, masyarakat yang terlibat dalam pembersihan lokasi bekas banjir harus dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu bot, masker, sarung tangan, serta pelindung kepala dan mata. Hal ini krusial untuk mencegah masuknya bakteri melalui luka di kaki dan tangan atau tertelan.

Kedua, pendistribusian desinfektan sangat penting untuk membersihkan area pasca banjir. Selain itu, kondisi para pengungsi harus dijaga dengan baik. Pemberian makanan dan minuman yang cukup serta bergizi akan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka dalam melawan risiko infeksi. Kebutuhan dasar lainnya seperti selimut, alas tidur yang memadai, masker, sabun, dan pembersih tangan (hand sanitizer) juga perlu dipenuhi untuk menekan risiko penularan infeksi.

Dalam konteks penanganan kesehatan bencana secara lebih luas, Guru Besar FKUI lainnya, Prof. Tjandra Yoga Aditama, juga menyoroti pentingnya penilaian cepat kebutuhan (rapid needs assessments) dan evaluasi sumber daya yang tersedia. Prioritas harus diberikan pada pengaturan pelayanan kesehatan dari tingkat primer, sekunder, hingga tersier di sekitar daerah bencana. Upaya promotif dan preventif langsung di lapangan, strategi pengendalian penyakit menular dan tidak menular kronis, serta evaluasi berkelanjutan terhadap efektivitas strategi yang diterapkan juga merupakan langkah vital.

Ketersediaan air bersih dan makanan sehat, bantuan alat kesehatan rutin harian, serta dukungan tenaga kesehatan dan obat-obatan yang memadai juga menjadi perhatian utama. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan juga telah melakukan penilaian kesehatan cepat, membuka layanan kesehatan di posko pengungsian, dan mengerahkan layanan kesehatan bergerak ke wilayah terdampak. Upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengurangan risiko bencana dan penguatan kapasitas diharapkan dapat menurunkan risiko krisis kesehatan di masa depan.