:strip_icc()/kly-media-production/medias/4485166/original/002385800_1687956899-timothy-newman-_ZH-GRbh0iE-unsplash.jpg)
Teh hijau dan matcha, keduanya berasal dari tanaman Camellia sinensis, telah lama dikenal karena segudang manfaat kesehatannya, termasuk potensi dalam penurunan berat badan dan pengelolaan kadar kolesterol. Meskipun berasal dari tanaman yang sama, perbedaan dalam budidaya dan pemrosesan memberikan profil nutrisi yang sedikit berbeda, memunculkan pertanyaan tentang mana yang lebih unggul.
Matcha dibudidayakan secara khusus dengan diselubungi dari sinar matahari selama 20-30 hari sebelum panen, sebuah proses yang meningkatkan kadar klorofil dan produksi asam amino. Daunnya kemudian dihaluskan menjadi bubuk halus, yang berarti saat dikonsumsi, Anda mengonsumsi seluruh daun teh. Sebaliknya, teh hijau tradisional biasanya diseduh, dan daunnya kemudian dibuang. Perbedaan ini menjadikan matcha memiliki konsentrasi senyawa tertentu yang lebih tinggi dibandingkan teh hijau biasa.
Secara nutrisi, matcha diketahui mengandung antioksidan, terutama katekin seperti epigallocatechin gallate (EGCG), dan vitamin C, dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan teh hijau biasa. Beberapa penelitian menunjukkan matcha dapat mengandung antioksidan hingga 10 kali lebih banyak. EGCG sendiri adalah antioksidan kuat yang banyak diteliti pada hewan dan dikaitkan dengan penurunan peradangan, pemeliharaan arteri yang sehat, dan perbaikan sel. Satu studi bahkan menemukan bahwa konsentrasi EGCG yang tersedia dari matcha bisa 137 kali lebih besar dari teh hijau tertentu, dan setidaknya tiga kali lebih tinggi dari nilai literatur terbesar untuk teh hijau lainnya. Selain itu, matcha juga memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi daripada teh hijau biasa. Secangkir matcha standar, yang dibuat dari 1/2–1 sendok teh bubuk, umumnya mengandung sekitar 70 mg kafein. Sementara itu, secangkir teh hijau (240 mL) diperkirakan mengandung sekitar 30 mg kafein.
Terkait penurunan berat badan, teh hijau sering dikaitkan dengan manfaat ini dan merupakan bahan umum dalam suplemen penurun berat badan. Penelitian pada manusia menunjukkan bahwa teh hijau dapat meningkatkan pembakaran kalori total dengan meningkatkan laju metabolisme Anda, meskipun bukti yang ada belum selalu konsisten. Sebuah tinjauan tahun 2012 menyimpulkan bahwa efek penurunan berat badan dari teh hijau sangat kecil sehingga tidak memiliki kepentingan klinis. Namun, studi lain menunjukkan ekstrak teh hijau dapat secara signifikan mengurangi berat badan, lingkar pinggang, dan indeks massa tubuh (BMI) pada wanita dengan obesitas sentral. Matcha, dengan kandungan kafein dan katekin yang lebih tinggi, khususnya EGCG, mungkin memiliki keunggulan sedikit lebih tinggi dalam mendukung penurunan berat badan. EGCG dalam matcha dapat merangsang gen yang bertanggung jawab untuk pemecahan lemak dan meningkatkan oksidasi lemak selama berolahraga. Konsumsi teh hijau matcha dapat meningkatkan termogenesis, yaitu tingkat pembakaran kalori tubuh, dari normal 8-10% menjadi antara 35 hingga 43%. Selain itu, L-theanine, asam amino yang lebih banyak terdapat pada matcha, dapat membantu mengelola stres yang juga memengaruhi penurunan berat badan.
Dalam hal pengelolaan kolesterol, baik teh hijau maupun matcha dikaitkan dengan peningkatan kesehatan jantung. Mengonsumsi teh hijau dapat membantu menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL (jahat), dan trigliserida. Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang minum teh hijau secara teratur memiliki kadar LDL (kolesterol jahat) yang rendah, sekaligus memiliki kadar HDL (kolesterol baik) yang lebih tinggi. Katekin dalam ekstrak teh hijau dapat mengurangi peradangan dan membantu mengurangi penyerapan lemak dalam sel, sehingga menurunkan kadar lemak darah. EGCG dalam matcha juga dapat membantu menurunkan kolesterol LDL dengan menghambat oksidasi dan mencegah pembentukan plak di arteri. Pria yang minum teh matcha mungkin memiliki risiko hingga 11% lebih rendah terkena penyakit jantung. Sebuah tinjauan pada tahun 2020 menyimpulkan bahwa konsumsi teh hijau dapat secara signifikan menurunkan kolesterol total dan kolesterol LDL pada individu dengan berat badan sedang, kelebihan berat badan, atau obesitas, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan.
Meskipun matcha menawarkan konsentrasi antioksidan dan kafein yang lebih tinggi, penting untuk diperhatikan bahwa studi spesifik pada manusia tentang matcha masih terbatas dibandingkan teh hijau biasa. Beberapa efek samping dan risiko terkait konsumsi matcha, seperti mual dan potensi toksisitas hati atau ginjal, dapat terjadi pada tingkat konsumsi tinggi karena tingginya senyawa tanaman yang terkandung. Konsumsi hingga 2 cangkir (474 mL) per hari umumnya disarankan. Efektivitas EGCG juga bergantung pada penyerapan tubuh, yang mungkin tidak mencapai 100%.
Sebagai kesimpulan, baik teh hijau maupun matcha menawarkan manfaat kesehatan yang signifikan untuk penurunan berat badan dan pengelolaan kolesterol. Matcha, karena sifatnya yang merupakan bubuk seluruh daun dan budidaya yang unik, umumnya menyediakan konsentrasi antioksidan, termasuk EGCG, dan kafein yang lebih tinggi. Ini mungkin memberikan keunggulan potensial dalam meningkatkan metabolisme dan mendukung penurunan kolesterol. Namun, teh hijau biasa tetap merupakan pilihan yang sangat baik dengan manfaat yang terbukti, dan penting untuk mempertimbangkan toleransi pribadi terhadap kafein serta potensi efek samping dari konsentrasi senyawa yang sangat tinggi pada matcha.