:strip_icc()/kly-media-production/medias/4085670/original/024812800_1657598932-lumpia_basah_koh_aming.jpg)
Lonjakan signifikan dalam preferensi konsumen terhadap opsi kuliner rumahan yang lebih sehat dan praktis mendorong adaptasi resep tradisional, dengan lumpia basah teflon isi ayam, jamur, dan sayuran kini menjadi pilihan utama di dapur-dapur modern Indonesia, mencerminkan pergeseran gaya hidup menuju kemandirian pangan dan efisiensi waktu. Fenomena ini tidak terlepas dari kesadaran masyarakat yang kian meningkat terhadap nutrisi, ditambah kemudahan teknologi memasak anti lengket yang mendukung kreasi hidangan yang minim minyak.
Lumpia basah, sebagai warisan kuliner akulturasi Tionghoa dan Jawa sejak abad ke-19, secara historis telah mengalami evolusi dalam isian dan cara penyajiannya. Awalnya, lumpia Semarang dikenal dengan isian rebung dan daging babi, kemudian berkembang menjadi udang atau ayam yang dicampur rebung, disajikan tanpa digoreng, sesuai makna "lun" (lunak) dalam dialek Hokkian. Varian lumpia basah Bandung bahkan menambahkan oncom, menunjukkan adaptasi lokal yang kaya. Kini, diversifikasi isian ke ayam, jamur, dan aneka sayuran tidak hanya memperkaya rasa, tetapi juga menanggapi tren pola makan sehat yang mengedepankan kandungan gizi.
Survei Asia Pacific bertajuk "New Year, New Me" pada tahun 2024 menunjukkan bahwa 89 persen konsumen Indonesia memprioritaskan pola makan sehat sebagai faktor utama kesejahteraan. Angka ini sejalan dengan studi Cargill TrendTracker 2022 yang menemukan 91 persen konsumen Indonesia memilih makanan yang meningkatkan kesehatan fisik, emosional, dan mental. Preferensi ini semakin diperkuat oleh kemudahan dan keamanan memasak di rumah, sebuah kebiasaan yang meningkat signifikan selama pandemi COVID-19. Penelitian menunjukkan 49 persen konsumen lebih sering memasak di rumah karena ingin memastikan kualitas bahan dan higienitas makanan.
Penggunaan wajan teflon, yang dikenal dengan permukaan anti lengketnya, menjadi faktor kunci dalam memfasilitasi resep lumpia basah yang mudah dibuat dan lebih sehat. Teflon memungkinkan proses memasak dengan sedikit minyak atau bahkan tanpa minyak, mendukung upaya mengurangi asupan lemak. Peralatan ini ideal untuk membuat kulit lumpia yang tipis dan tidak lengket, serta menumis isian dengan cepat dan merata. Namun, penting untuk memperhatikan perawatan teflon agar kualitasnya terjaga dan tidak melepaskan senyawa kimia berbahaya. Penggunaan suhu rendah hingga sedang dan spatula berbahan kayu atau silikon direkomendasikan untuk menghindari kerusakan lapisan.
Dari sisi nutrisi, lumpia basah dengan isian ayam, jamur, dan sayuran menawarkan profil gizi yang lebih baik dibandingkan versi goreng. Satu buah lumpia basah diperkirakan mengandung sekitar 80 kalori, 3,19 gram lemak, 9,03 karbohidrat, dan 3,72 gram protein, menjadikannya pilihan camilan yang relatif rendah kalori dan kolesterol. Kandungan jamur juga memberikan nilai tambah. Tingkat konsumsi jamur di Indonesia terus meningkat, bahkan menurut data BPS pada tahun 2016, produksi aneka jamur mencapai 40.914 ton. Dosen Biologi Universitas Airlangga, Intan Ayu Pratiwi, menyebutkan bahwa jamur memiliki kandungan protein hampir setara atau bahkan melebihi daging ayam dan daging merah.
Implikasi dari tren ini melampaui sekadar preferensi kuliner pribadi. Ini mencerminkan pergeseran budaya yang lebih luas menuju gaya hidup mandiri dan sadar kesehatan, didukung oleh inovasi teknologi dapur. Ke depan, adaptasi resep tradisional dengan sentuhan modern dan sehat kemungkinan akan terus berkembang, membuka peluang bagi industri pangan rumahan dan UMKM. Edukasi gizi yang berkelanjutan dan penyediaan akses terhadap bahan pangan berkualitas akan menjadi krusial untuk memastikan masyarakat dapat terus mengadopsi pola makan sehat secara konsisten.