:strip_icc()/kly-media-production/medias/4670113/original/051334700_1701400018-pexels-karolina-grabowska-4210854.jpg)
Pada paruh akhir 2025, pasar sweater global, yang diperkirakan mencapai 13.241,5 juta USD pada 2024 dan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 6,20% hingga 2031, menegaskan pergeseran signifikan dalam preferensi gaya hidup pria. Pergeseran ini ditandai oleh permintaan yang meningkat akan pakaian yang tidak hanya fungsional untuk cuaca dingin, tetapi juga mampu menunjang ekspresi gaya personal, mendorong munculnya enam model sweater kunci sebagai penopang utama busana pria modern.
Sejak awal abad ke-19, sweater telah berevolusi dari pakaian kerja praktis yang dikenakan oleh nelayan di Irlandia dan Skotlandia untuk perlindungan di laut lepas, menjadi elemen esensial dalam lemari pakaian pria. Awalnya dirajut dari wol tebal untuk insulasi maksimum, fungsi sweater berkembang seiring waktu, khususnya pada era 1950-an dan 1960-an, menjadi bagian integral dari gaya Ivy League dan mode siap pakai. Saat ini, "knitwear kembali populer di tahun 2025" karena menawarkan kombinasi kenyamanan, fleksibilitas, dan estetika modern, didorong oleh perubahan gaya hidup menuju pakaian yang nyaman namun modis, serta pengaruh figur publik dan selebriti. Tren ini juga mencerminkan peningkatan kesadaran konsumen terhadap mode berkelanjutan, mendorong permintaan akan bahan ramah lingkungan dan proses produksi yang bertanggung jawab.
Berikut enam model sweater yang mendefinisikan gaya pria di tengah tantangan cuaca dingin:
1. Sweater Crewneck
Model klasik dengan leher bulat tanpa kerah ini tetap menjadi pilihan fundamental karena keserbagunaannya. Tren 2025 menunjukkan popularitas crewneck oversized yang memberikan kesan "effortless" namun tetap modis, seringkali dalam warna-warna "earthy" dan pastel. Crewneck sangat mudah dipadukan untuk tampilan kasual hingga semi-formal, baik dengan celana jeans atau sebagai lapisan atas kemeja berkerah. Material populer mencakup katun fleece dan rajutan berkualitas tinggi.
2. Sweater Turtleneck
Turtleneck menawarkan siluet yang ramping dan berwibawa, memancarkan kesan kalem, keren, dan berwibawa yang berbeda dari jaket maskulin. Popularitasnya meroket sebagai alternatif pakaian hangat yang tidak terlalu tebal. Ahli mode menyoroti turtleneck sebagai pilihan yang "sophisticated and flattering," cocok untuk acara formal maupun santai di musim dingin 2025. Bahan wol dan kasmir menjadi pilihan utama karena kemampuannya menjaga kehangatan maksimal; wol dikenal dengan serat yang kuat, anti-bakteri, dan tahan lama, sementara kasmir menawarkan kelembutan dan kehangatan yang mewah.
3. Cardigan
Cardigan, terutama yang berpotongan "crewneck", muncul sebagai alternatif menarik untuk sweater klasik, menawarkan fleksibilitas untuk berbagai acara. Sejak tren fashion ala Korea berkembang pesat, cardigan semakin digemari pria. Model chunky knit dengan sentuhan vintage juga menonjol, memberikan kehangatan maksimal dengan tampilan berkelas. Cardigan dapat dikenakan terbuka dengan kaos polos di dalamnya atau dikancingkan sepenuhnya untuk tampilan yang lebih rapi.
4. Sweater Half-Zip atau Quarter-Zip
Sweater beresleting kembali menjadi favorit di 2025, menggantikan model berkancing. Model "quarter zip" dipandang sebagai salah satu pakaian terbaik dalam fashion pria saat ini karena desainnya yang "super clean minimalistic" dan sangat serbaguna untuk hampir semua kesempatan, menjadikannya jembatan sempurna antara estetika kasual dan formal. Detail ritsleting menawarkan kontras dramatis pada bahan rajutan dan menciptakan tampilan yang modern sekaligus praktis, memungkinkan ventilasi yang dapat disesuaikan.
5. Sweater Shawl Collar
Sweater berkerah syal, seperti model Cowichan khas Vancouver Island, kembali menjadi sorotan dengan desain tebal dan hangat. Model ini seringkali memberikan kesan yang lebih klasik dan mewah, diperbarui dengan sentuhan modern seperti gaya jaket bomber atau desain minimalis dengan warna monokrom atau pastel. Potongan kerah yang melengkung elegan ini menambah dimensi pada penampilan dan cocok untuk suasana semi-formal hingga formal.
6. Sweater V-Neck
Sweater berleher V tetap relevan, terutama untuk layering di atas kemeja berkerah atau kaos untuk tampilan yang lebih rapi dan intelektual namun santai. Model ini ideal untuk menciptakan kesan "smart casual" yang terstruktur. Popularitasnya sejak era Ivy League di tahun 1950-an membuktikan daya tahannya dalam dunia fashion.
Dalam konteks material, wol, katun, dan fleece adalah beberapa bahan utama yang kerap digunakan untuk sweater musim dingin. Wol dikenal karena seratnya yang rapat dan tebal, menjaga panas tubuh dan mencegah udara dingin meresap. Katun menawarkan kenyamanan dan sirkulasi udara yang baik, sementara fleece, baik katun maupun poliester, populer karena teksturnya yang lembut dan menghangatkan. Pentingnya keberlanjutan juga mendorong desainer dan produsen untuk mengadopsi bahan ramah lingkungan, seperti kapas organik dan poliester daur ulang, serta teknik produksi yang mengurangi limbah dan polusi. Inovasi dalam bahan dan teknik rajut terus membuat knitwear semakin beragam, memenuhi kebutuhan konsumen yang mencari kenyamanan, fleksibilitas, dan estetika modern dalam berbusana saat cuaca dingin.