
Ancaman stroke kini tidak lagi terbatas pada kelompok usia lanjut, seiring dengan lonjakan kasus yang signifikan pada generasi muda, termasuk mereka yang baru menginjak usia 20-an. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran serius di kalangan profesional kesehatan global dan nasional, menggeser paradigma lama bahwa stroke adalah penyakit orang tua. Data terbaru menunjukkan peningkatan tajam dalam prevalensi stroke pada usia produktif, yang sebagian besar dihubungkan dengan perubahan gaya hidup modern yang ekstrem.
Dalam satu dekade terakhir, jumlah kasus stroke pada usia muda dilaporkan meningkat hingga 67 persen. Di Indonesia, prevalensi stroke pada kelompok usia 15-24 tahun meningkat tiga kali lipat antara tahun 2013 dan 2018, sementara pada kelompok usia 25-35 tahun, peningkatan tercatat lebih dari dua kali lipat, dari 0,6 kasus per 1.000 penduduk menjadi 1,4 kasus per 1.000 penduduk pada periode yang sama. Menurut Kementerian Kesehatan, stroke masih menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia, dengan prevalensi 8,3 per 1.000 penduduk pada tahun 2023. "Bahkan saat ini banyak yang terkena stroke di bawah usia 40 tahun, padahal dulu umumnya terjadi pada usia di atas 50 tahun," ungkap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi.
Pergeseran epidemiologi ini bukan semata-mata karena peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gejala stroke, melainkan lebih dalam berakar pada perubahan drastis pola hidup generasi muda. "Kebiasaan 'mager' alias malas bergerak, pola makan instan, dan stres menjadi penyebab utama meningkatnya risiko hipertensi dan penyakit jantung di usia produktif, dua faktor yang berujung pada stroke," jelas dr. Zicky Yombana Babeheer, Sp.N, AIFO-K, DAIFIDN, CPS. Dia menyoroti bagaimana kemudahan akses teknologi via ponsel telah mengurangi aktivitas fisik dan mendorong konsumsi makanan tidak sehat.
Faktor risiko tradisional seperti hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, dan diabetes kini semakin merajalela di kalangan usia muda. Prevalensi hipertensi pada dewasa muda mencapai 15 hingga 18 persen. Dr. Abbas Kharal, ahli saraf di Cleveland Clinic, memperingatkan, "Tidak ada kelompok umur yang kebal terhadap stroke, dan secara mengejutkan kami melihat peningkatan signifikan kejadian stroke pada orang dewasa muda." Ia menambahkan adanya peningkatan aterosklerosis dini, yaitu pengerasan dan penyumbatan pembuluh darah, pada pasien muda yang secara khusus diyakini disebabkan oleh peningkatan faktor risiko vaskular.
Selain gaya hidup, faktor nontradisional juga memainkan peran krusial. Stres kronis, migrain, dan kelainan jantung bawaan menjadi sorotan utama. Penelitian yang diterbitkan oleh American Heart Association (AHA) pada April 2025 menunjukkan bahwa hampir setengah kasus stroke iskemik pada orang di bawah usia 50 tahun tergolong "kriptogenik," atau tidak diketahui penyebabnya. Stres jangka panjang, tekanan pekerjaan, tuntutan ekonomi, dan kelelahan emosional terbukti meningkatkan risiko stroke, bahkan pada individu tanpa riwayat penyakit kronis. Stres kronis mengaktifkan sistem saraf simpatik, memicu peningkatan tekanan darah, detak jantung lebih cepat, dan kerusakan pembuluh darah. Studi juga menemukan bahwa perempuan dengan tingkat stres sedang memiliki risiko stroke 78 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki tingkat stres rendah. Dr. Sarah Lindsey, profesor farmakologi dari Tulane University School of Medicine, menekankan bahwa "Temuan ini menyoroti bahwa stres dapat menghapus perlindungan alami perempuan terhadap penyakit kardiovaskular."
Faktor-faktor lain yang turut berkontribusi meliputi kelainan pembekuan darah, kelainan jantung seperti Patent Foramen Ovale (PFO), kelainan genetik, kehamilan dan masa nifas, penggunaan kontrasepsi hormonal, serta penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Dr. Jukka Putaala, Kepala Unit Stroke Helsinki University Hospital, mengidentifikasi "migrain dengan aura sebagai pemicu dominan stroke pada usia muda, terutama pada pasien dengan kelainan jantung kecil bernama Patent Foramen Ovale (PFO)."
Implikasi dari tren ini sangat luas. Pasien stroke usia muda seringkali membutuhkan perawatan medis yang lebih lama dan berbiaya besar, membebani sistem kesehatan dan ekonomi nasional. Mereka juga menghadapi tantangan pemulihan yang signifikan, berdampak pada produktivitas kerja dan kualitas hidup, serta berpotensi mengalami gangguan kognitif dan demensia di kemudian hari. Ironisnya, banyak penderita di usia muda tidak menyadari gejala awal stroke, menunda penanganan medis yang krusial. "Jika gejala itu terjadi jangan menunggu lama, segera bawa ke rumah sakit," saran Mohammad Kurniawan, Pengajar Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo. Penanganan cepat dalam waktu kurang dari delapan jam sejak gejala muncul sangat penting untuk mengatasi penyumbatan dan mencegah kerusakan otak permanen.
Para ahli neurologi seperti Dr. Deep Das dari RS CK Birla CMRI Kolkata menyerukan pentingnya skrining kesehatan dini, termasuk pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara rutin, serta perubahan gaya hidup yang konsisten sejak usia muda untuk mencegah ancaman stroke ini. Upaya ini mencakup olahraga teratur, pola makan seimbang, manajemen stres yang efektif, dan tidur yang cukup. Mengabaikan sinyal bahaya biologis seperti stres kronis sama saja dengan menunggu tubuh menyerah, demikian peringatan dari Dr. Christina Mijalski Sells dari Stanford Medicine.