:strip_icc()/kly-media-production/medias/5443200/original/046082300_1765631170-Kamboja.jpg)
Konflik perbatasan yang telah berlangsung lama antara Thailand dan Kamboja kembali memanas, menjadikan candi-candi kuno yang merupakan warisan budaya tak ternilai sebagai korban terbaru dari ketegangan militer. Kuil Preah Vihear, sebuah kompleks candi Hindu abad ke-9 hingga ke-12, kembali menjadi pusat sengketa yang paling sensitif. Terletak di pegunungan Dângrêk dan menghadap ke wilayah Kamboja, akses termudah ke lokasi ini justru berasal dari sisi Thailand.
Meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) pada tahun 1962 telah memutuskan bahwa Preah Vihear berada di bawah kedaulatan Kamboja, putusan ini sebagian ditolak oleh publik Thailand. Ketegangan semakin meningkat pada tahun 2008 ketika Kamboja berhasil mendaftarkan kuil tersebut sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, sebuah langkah yang dianggap sebagai kemenangan besar bagi Kamboja. Keputusan ICJ pada tahun 2013 kembali mempertegas kepemilikan Kamboja atas kompleks candi tersebut.
Namun, konflik baru-baru ini telah meluas, dengan bentrokan yang dilaporkan kembali pecah pada 8 Desember 2025, dan terus berlanjut hingga 11-13 Desember 2025. Salah satu candi yang mengalami kerusakan parah adalah Ta Krabey, yang juga dikenal sebagai Kuil Ta Kwai. Kementerian Kebudayaan dan Seni Rupa Kamboja mengecam Thailand atas serangan yang menghancurkan sebagian besar struktur bangunan kuno tersebut, termasuk dinding batu laterit, ambang pintu berukir, dan blok-blok batu. Kamboja mengklaim bahwa tentara Thailand menargetkan candi-candi Angkorian di sepanjang perbatasan. Thailand mengakui tindakan tersebut, menuduh Kamboja menempatkan pasukan di dalam kuil, sehingga menjadikannya target yang sah berdasarkan hukum internasional. Kuil Ta Muen Thom juga disebut-sebut sebagai lokasi konflik.
UNESCO telah mengeluarkan peringatan bahwa konflik antara Kamboja dan Thailand berisiko merusak Kuil Preah Vihear dan situs-situs warisan perbatasan lainnya. Organisasi tersebut mendesak tindakan perlindungan yang mendesak dan mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, termasuk Konvensi Den Haag 1954 tentang perlindungan properti budaya selama konflik bersenjata dan Konvensi Warisan Dunia 1972. UNESCO juga telah membagikan koordinat geografis yang tepat dari properti Warisan Dunia dan situs-situs penting nasional kepada pihak-pihak yang terlibat untuk mencegah kerusakan yang tidak disengaja atau disengaja.
Bentrokan yang terjadi pada 11 Desember 2025, telah menewaskan 15 orang, termasuk prajurit Thailand dan warga sipil Kamboja. Selain itu, lebih dari setengah juta orang dari kedua negara telah mengungsi dari wilayah yang dilanda serangan udara, tank, dan drone. Tercatat lebih dari 400.000 orang di Thailand dan 101.229 warga di Kamboja telah dievakuasi ke tempat penampungan.
Secara internasional, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan menghubungi para pemimpin Thailand dan Kamboja untuk menuntut penghentian pertempuran. Sebelumnya, ASEAN, bersama dengan Cina dan Malaysia sebagai ketua, telah menengahi gencatan senjata pada bulan Juli. Konflik ini menggarisbawahi urgensi penyelesaian damai untuk melindungi warisan budaya global dari kehancuran yang tak terpulihkan.